Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 73


__ADS_3

Di hari libur, Pamela berkunjung ke rumah Raisa. Semakin mendekati hari pernikahan, Pamela jadi semakin sering berkunjung karena wanita itu yakin betul setelah Raisa menikah nantinya, dia tidak akan bisa sering-sering menginap.


Kedua wanita itu duduk di ruang tamu sambil menonton film bersama. Kadang tertawa, terkadang juga menangis karena adegan yang ada di dalam filmnya.


Ingatan Pamela seketika berputar ke beberapa tahun lalu di saat Raisa benar-benar terpuruk. Di saat Raisa berjuang menjalani kehamilannya, di saat Raisa takut tak bisa jadi ibu yang baik, di saat Raisa mengalami baby blues. Banyak hal yang Pamela pelajari dari kehidupan Raisa. Berkat Raisa, dia tahu banyak hal selalu rasa bahagia.


"Apa yang kamu harapkan di pernikahan kedua mu nantinya?"


Ditanya seperti itu oleh Pamela, sebetulnya Raisa tak tahu harus jawab apa. Karena untuk pernikahannya yang mendatang, dia tak memiliki syarat apapun seperti pernikahan pertamanya dulu yang tak mau memiliki anak. Karena Raisa takut, apa yang diharapakan dan diinginkannya tak akan sejalan lagi. Jadi mungkin, untuk saat ini dia akan mengalir saja seperti air.


"Hanya ingin si kembar bahagia dan memiliki keluarga yang utuh," jawab Raisa pada akhirnya.


"Kamu melupakan satu hal. Kebahagian kamu juga penting. Belajar dari masa lalu, kamu dan Edgar harus sering-sering berdiskusi tentang apapun meskipun untuk hal sekecil apapun. Karena masalah itu dimulai dari hal kecil lalu berkembang jadi besar. Jadi, selesaikan dulu masalah kecilnya agar tidak membesar. Jangan mengedepankan emosi saat sedang marah. Ketika kondisi kamu tidak cukup baik, segera pergi ke psikiater lagi. Sudah lama sekali kamu tak pernah diperiksa."


Raisa mengangguk, kalau Pamela sudah bicara banyak seperti ini, itu artinya Pamela sedang memperhatikan dirinya dan tak ingin Raisa terluka lagi. Raisa merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Pamela yang mau membantunya di kala susah tanpa meminta imbalan apapun.


"La, aku benar-benar sangat berhutang budi padamu. Berkat kamu dan dukunganmu aku bisa tetap waras menjalani hidup ini. Terima kasih karena tak pernah meninggalkan aku sendirian. Tak pernah menghina ataupun menjelekkan aku seperti orang di luaran sana."


"Kamu sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Ketika kamu dalam kesulitan sudah sepatutnya aku membantu."


Keduanya saling berpelukan setelah saling bicara. Mungkin hal seperti ini tak akan terjadi lagi nantinya.


"Kamu harus bahagia setelah ini ya?"


Raisa mengangguk.


*


*


Di kediaman Gautama, Edgar terlihat begitu gelisah sampai berjalan kesana-kemari di ruang tamu. Mama Ola yang melihat itu, langsung bertanya ke Edgar.

__ADS_1


"Kamu kenapa Gar? Apa yang kamu pikirkan? Semuanya kan sudah berjalan sesuai keinginan kamu."


"Iya aku tahu Ma. Tapi entah kenapa aku gugup, gelisah, karena sebentar lagi aku akan menikah lagi dengan orang yang sama. Aku memang sudah berjanji akan membahagiakan Raisa dan si kembar, tapi di dalam hatiku yang terdalam, aku takut mengecewakan mereka."


Mama Ola menepuk punggung Edgar pelan sambil memberikan nasehat untuk Edgar.


"Cukup berusaha sebaik dan semampu yang kamu bisa. Mama yakin kamu tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Hilangkan kegelisahan itu dan yakinlah ke diri kamu sendiri."


"Terima kasih Ma. Terima kasih karena Mama sudah menenangkan aku. Terima kasih juga karena Mama tak membenci Raisa. Maaf karena aku telah salah menilai Mama dalam beberapa tahun terakhir."


Mama Ola tersenyum tipis.


"Mana bisa Mama membenci Raisa? Raisa itu udah seperti anak kandung Mama sendiri. Sebenci atau semarah apapun seorang ibu, dia akan luluh juga kalau melihat anaknya terluka."


"Mama tahu kan, aku suka iri kalau mama terlihat lebih menyayangi Raisa daripada aku."


Mama Ola tertawa kecil.


"Iya, iya, aku tahu Ma."


Mama Ola menepuk pundak Edgar lagi lalu pergi dari hadapan Edgar.


"Sebentar lagi, kita akan kembali bersama, Ca. Semoga takkan ada lagi masalah yang kita hadapi ke depannya."


*


*


Pak Baskoro datang ke restoran langganannya bersama dengan Jena. Dia ingin mengenalkan Raisa ke Jena. Sayangnya, Raisa sudah mengundurkan diri dari sana beberapa hari yang lalu.


"Sayang sekali, kamu tidak bisa bertemu dengan Raisa, Jen," ucap Pak Baskoro.

__ADS_1


Yah, memang sayang sekali, padahal Jena benar-benar penasaran dengan wajah Raisa. Karena selama ini dia cuma mendengar cerita dari Tamara tanpa tahu seperti apa wajah Raisa.


"Padahal Om suka sekali dengan karakter dan sikapnya, tapi ya namanya juga bukan jodoh. Mungkin jodoh Bian masih tersesat di jalan."


Jena melihat raut wajah kesedihan dari Pak Baskoro. Ya wajar saja sih, usia Pak Baskoro memang sudah cukup tua. Apalagi Bian adalah putra satu-satunya. Ya walaupun, dia aja yang wanita belum punya pasangan sama sekali. Tapi orang tuanya kan tak begitu peduli, karena yang mereka pentingkan hanya uang, uang dan uang.


"Gimana? Kamu udah punya kandidat wanita yang cocok untuk Bian belum? Om benar-benar pusing."


"Ada sih Om, bahkan mereka sudah saling bertemu. Cuma ya, gitu Om, nggak tahu bakalan lancar apa nggak. Soalnya sahabatku ini keliatan udah nggak suka di pertemuan awal ke Bian. Tapi nggak tahu sih kalau nanti akhirnya."


Pak Baskoro menghela napasnya lalu menyeruput minuman dinginnya.


"Terus kamu? Kamu nggak cari pasangan juga? Apa mau kamu aja yang jadi mantuku?"


Seketika Jena terbatuk-batuk karena saking terkejutnya.


"Nggak ah Om, aneh pasti jadinya. Aku dan Bian aja udah kaya saudara. Bahkan Om sendiri udah aku anggap ayahku sendiri. Mending cari mantu yang lain aja Om."


Pak Baskoro pun mengangguk-angguk setuju. Ya memang benar apa yang diucapkan oleh Jena. Jena itu udah seperti anak kedua bagi Pak Baskoro. Bahkan selama ini, yang membantu biaya kuliah Jena adalah Pak Baskoro.


"Lagipula ya Om, Bian juga butuh waktu untuk memulihkan hatinya yang terluka. Kalau langsung dikenalkan dan dipaksa-paksa buat nikah. Takutnya dia malah nggak mau nikah-nikah."


Pak Baskoro menarik napasnya berat. Hidupnya padahal begitu sempurna jika dilihat orang di luaran sana, tapi baginya tak akan sempurna jika belum melihat putranya menikah dan memiliki anak. Keinginan yang tak muluk-muluk tapi kenapa begitu sulit untuk terealisasikan?


"Kalau sudah waktunya, Bian pasti akan menikah Om, tenang aja."


*


*


TBC

__ADS_1


Jangan lupa kembang sama kopinya guys.


__ADS_2