
Beberapa puluh menit sebelumnya, Pamela sudah sampai di sekolah si kembar untuk menjemput kedua ponakannya. Dia menunggu di depan gerbang sambil melihat-lihat taman bermain yang akan ia tuju bersama si kembar nantinya. Meski hatinya merasa resah dan cemas pada kondisi Raisa, tapi ia harus tetap terlihat tenang karena si kembar memang harus dijauhkan dulu dari Raisa. Sudah pasti karena Pamela pun tak mau si kembar melihat ibu mereka yang terpuruk keadaannya.
Suara bel pulang sekolah telah berbunyi, Pamela segera menyunggingkan senyumnya ketika melihat si kembar yang berlari menghampirinya.
"Aunty Lala," teriak si kembar lalu memeluk Pamela bersamaan.
"Ah, kangen banget Aunty sama kalian. Kalian kangen juga, nggak?"
"Kangen banget Aunty," jawab si kembar bersamaan.
Tiba-tiba Mia nyeletuk dengan rasa sedih di wajahnya.
"Pasti kalau, bukan mami yang jemput, pasti Om Ron atau Aunty Lala. Kenapa tak pernah jemput kami secara bersamaan? Aku dan Kia juga ingin dijemput oleh semua keluarga. Ingin bermain bersama setelah pulang sekolah."
Pamela hanya bisa tersenyum tipis, karena ia pun bingung ahrus menjawab gimana. Kedua anak kembar Raisa terlalu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sampai-sampai dia suka kewalahan sendiri untuk menanggapi keduanya.
"Walaupun Mami tak bisa ikut jemput kalian, kita akan tetap jalan-jalan hari ini. Aunty sudah menemukan taman bermain yang bagus. Mau langsung kesana atau mau makan dulu?"
"Emang Mami ngizinin ya Aunty? Takutnya Mami malah marah-marah kalau kita pulang terlambat," tanya Kia.
"Tenang aja, Aunty sudah minta izin kok sama Mami. Aman terkendali pokoknya."
"Bener Aunty?" tanya Mia memastikan.
Pamela mengangguk sambil menambahkan perkataannya.
"Bahkan Mami kalian meminta Aunty untuk mengajak kalian menginap di apartemen Aunty."
Mendengar perkataan itu, Kia langsung merasa ada sesuatu yang terjadi pada Raisa.
"Kenapa harus menginap di apartemen Aunty? Terus mami sendiri dong di rumah? Kan Om Ron sedang ada di luar kota dan baru bisa pulang ke rumah lusa."
"Iya, kata mami, dia akan pulang larut malam. Mami tidak ingin kalian menunggu terlalu lama di rumah, makanya meminta Aunty untuk menjaga kalian. Ayo ah, keburu ramai tempatnya," ajak Pamela dengan menggandeng tangan keduanya. Di saat Mia sudah masuk mobil dan Kia masih di luar, Kia menatap intens ke Pamela.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Pamela ke Kia.
"Jangan bohong Aunty. Pasti terjadi sesuatu sama mami, kan? Cerita aja Aunty. Kia sudah cukup besar untuk tahu."
Pamela menelan air salivanya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa sekarang. Kalau ia mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti, si kembar akan meminta untuk diantarkan pulang. Kalau dia terus berbohong, itu juga tidak akan bagus, karena Kia pasti akan marah dan terus menyindirnya di sepanjang jalan.
"Padahal tinggal jawab aja, tapi kelihatannya sulit ya Aunty. Kenapa sih orang dewasa suka sekali bohong? Dia pikir kamu anak kecil tidak bisa merasakannya? Kami tahu Aunty. Please, Aunty, jawab aku! Apa yang terjadi sama mami? Kenapa mami meminta aku dan Mia untuk menginap di apartemen Aunty?"
Pamela menghela napasnya pelan. Kalau begini jadinya, dia tak bisa lagi berbohong. Pada akhirnya, Pamela Mun menjelaskan garis besarnya saja ke Kia kalau Raisa sedang tidak baik-baik saja.
"Kia mau pulang! Pokoknya mau pulang ke rumah aja Aunty!" teriak Kia.
"Nggak bisa sayang, itu permintaan Mami kalian."
"Nggak mau, mau pulang pokoknya Aunty!"
"Kia! Apa sih teriak-teriak! Berisik tahu! Udah cepet masuk! Lama banget, aku sudah nggak sabar mau naik komedi putar," sahut Mia yang muncul dari kaca mobil yang sudah terbuka.
"Kita harus pulang Mia! Mami butuh kita."
"Nggak usah ke taman bermain Aunty, kita langsung pulang aja ke rumah."
"Tapi ... "
"Mami butuh kita Aunty, bukan hanya aku dan Kia, tapi Aunty juga."
"Baiklah."
Pada akhirnya, Pamela memilih menyerah dan menurut pada permintaan si kembar.
*
*
__ADS_1
Si kembar dan Pamela sudah sampai dia depan rumah. Mereka dikejutkan dengan sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Pamela merasa bingung dengan siapa pemilik mobil yang berkunjung ke rumah Raisa. Beda halnya si kembar yang sudah tahu siapa pemilik mobil tersebut. Walaupun mereka berdua hanya beberapa kali berkunjung ke kediaman Gautama, tapi Mereka hapal semua merk mobil dan plat nomor kendaraan yang ada di rumah tersebut dan pemiliknya adalah Mama Ola.
"Aunty, kita harus cepat masuk! Aku tidak mau mami disakiti."
Pamela yang masih belum mengerti hanya terbengong-bengong tali tangannya ditarik oleh Kia.
Mereka pun berlari masuk ke dalam rumah. Terlihat rumah memang sepi seperti tak berpenghuni, tapi semakin masuk ke dalam, suara tangisan mulai sedikit terdengar, Kia langsung menganggap Raisa sedang disakiti oleh omanya.
"JANGAN SAKITI MAMI KAMI, OMA!" teriak Kia yang kemudian berlari dan menempatkan dirinya di depan Raisa. Gadis kecil itu seolah-olah tengah melindungi Raisa dari Mama Ola yang terlihat jahat di matanya.
"Aku dan Mia tidak apa-apa kalau oma memang tak mau menganggap kami. Tapi, aku dan Mia tidak akan diam saja, kalau Oma menyakiti Mami. Kami baik-baik saja meskipun tanpa kehadiran Papi di hidup kami sebelumnya. Jadi, Oma tak perlu menyakiti hati Mami kalau Oma memang tidak suka Mami dan Papi kembali bersama."
Raisa ingin bersuara untuk menghentikan ucapan Kia, tapi Mama Ola menggeleng seolah melarang Raisa.
"Kami memang ingin memiliki keluarga yang utuh, tapi apalah arti keluarga utuh kalau Mami terus menangis dan terlihat tidak bahagia? Aku tahu setelah kami bertemu Papi, setiap malam, Mami selalu menangis seperti merasa takut akan sesuatu. Kalau ditanya, apa keinginan kami, kami hanya ingin hidup bahagia bersama Mami. Itu saja sudah cukup. Jadi, aku mohon, setelah ini, Oma jangan sakiti Mami lagi. Kami janji tak akan bertemu Papi lagi setelah ini. Aku berkata jujur, karena Mami selalu mengajarkan kami untuk tidak pernah berbohong."
Raisa terharu dan meneteskan air matanya mendengarkan langsung curhatan hati anaknya. Selama ini, ia terlalu berpikir negatif berlebihan karena takut kehilangan si kembar. Ia takut si kembar akan memilih Edgar karena Edgar memiliki segalanya. Ternyata, dia salah.
Bukannya marah atau kesal, Mama Ola justru tersenyum dengan mata yang sudah berair. Ia benar-benar sangat bangga dengan Raisa yang bisa mendidik anak-anaknya dengan baik meskipun dirinya selalu merasa tak sempurna Karen mentalnya yang tak baik. Tapi pada kenyataannya, Raisa justru berusaha sebisa mungkin agar semuanya selalu sempurna.
"Haruskah Oma bilang bangga ke kalian? Karena dengan begini, Oma sudah disadarkan, kalau Oma tak bisa kehilangan kalian dan tak mau kehilangan kalian. Terima kasih karena sudah membuat Oma tak merasa menyesal dengan keputusan yang sudah Oma ambil."
Kia langsung bingung dengan apa yang dikatakan Mama Ola. Ini adalah kali pertama dia mendapatkan sambutan baik dari Mama Ola dengan senyuman, tak seperti biasanya yang cuma tatapan datar.
"Mi?" Kia memanggil Raisa.
"Peluk Oma kalian sayang," pinta Raisa.
Mama Ola merentangkan tangannya, menunggu pelukan dari ke dua cucunya. Pada akhirnya, si kembar memeluk Mama Ola dan disana Mama Ola menangis sejadi-jadinya sambil merasakan syukur yang teramat besar.
*
*
__ADS_1
TBC