
Sarapan pagi terjadi dengan begitu cepat dan penuh tawa. Tingkah si kembar selalu saja membuat orang-orang di sekitarnya jadi gemas.
"Mi, aku mau berenang di kolam dulu ya."
"Iya sayang, jangan lama-lama berenangnya."
"Siap Mi," jawab Kia mewakili.
Rupanya tak hanya si kembar saja yang berenang, melainkan Jesper, Elsa dan juga Fero. Raisa hanya melihatnya saja dari dalam vila. Sesekali ia tersenyum melihat keceriaan dari si kembar.
"Mereka terlihat bahagia ya?" ucap Edgar yang tiba-tiba ada di hadapan Raisa.
"Mereka memang selalu terlihat bahagia," jawab Raisa.
"Apa iya seperti itu?" Edgar bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Iya."
Edgar terdiam sejenak lalu menatap Raisa dengan sangat intens sampai membuat Raisa risih salah tingkah sendiri. Tapi tentu saja Raisa menyembunyikan itu semua.
Raisa memilih untuk pergi daripada perasaannya lama-lama akan diketahui oleh Edgar.
"Jangan pergi, kumohon tetap disini. Aku ingin bicara banyak hal," pinta Edgar sambil menahan tangan Raisa.
"Jika yang kamu bicarakan tentang keinginan untuk kembali, lebih baik jangan."
Edgar pun melepaskan tangannya dari tangan Raisa. Laki-laki itu membiarkan Raisa pergi dari hadapannya.
"Aku harus melakukan apa supaya kamu percaya, Ca?"
*
*
Pamela pergi ke rumah Raisa, wanita itu berniat untuk menginap dan bermain bersama si kembar. Tapi ternyata, dia dibuat terkejut ketika Raisa dan si kembar sedang berlibur dengan keluarga Edgar. Benar-benar menyebalkan. Harusnya kan Raisa cerita supaya dia tidak usah jauh-jauh kesini.
"Kebiasaan kakak kamu masih tetap sama, dia tak akan pernah cerita kalau tidak ditanya. Terkadang kalau ditanya pun, ada kalanya dia diam dan tak mau menjawab. Kira-kira sampai kapan dia akan begitu?"
"Entahlah Mba, aku pun nggak tahu. Mba Raisa itu susah ditebak cara pikirnya. Bahkan terkadang aku pun merasa tidak berguna di sisinya, karena dia terlalu mandiri dan pintar sekali menyembunyikan rasa sakitnya."
Terdengar helaan napas dari Pamela. Wanita itu bangun dari duduknya dan pamit ke Roni untuk pulang ke apartemennya sendiri.
Di tengah jalan, tiba-tiba mobil Pamela tidak mau berjalan karena kehabisan bahan bakar.
__ADS_1
"Sial! Harusnya aku mengecek dulu bahan bakarnya sebelum pergi. Kalau begini jadinya, aku jadi kerepotan sendiri. Mana jauh, belum ada orang yang lewat lagi."
Pamela benar-benar dibuat pusing. Ia pun menghubungi Roni untuk membantu dirinya. Sayangnya, panggilannya tak dijawab sama sekali.
"Kemana sih, ini anak? Duh! Siapa ya yang harus aku hubungi lagi?"
Pamela bingung, karena pada kenyataannya, dia tak memiliki banyak teman. Semua teman yang mendekat padanya hanya karena dirinya orang kaya. Berbeda dengan Raisa yang tak melihat dirinya dari itu. Maka dari itu, Pamela senang berteman dengan Raisa.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan membuka kaca mobilnya.
"Butuh bantuan?" ucap seorang laki-laki yang ternyata adalah Bimo.
Meskipun Pamela tidak suka dengan Bimo, tapi dalam keadaan genting seperti ini, Pamela benar-benar butuh bantuan laki-laki itu. Pamela pun mengiyakan.
Beberapa waktu kemudian, mobil Pamela di derek dan dibawa ke POM. Disana mobil Pamela diisi bahan bakar hingga penuh. Tak lupa, Pamela pun mengucapkan terima kasih ke Bimo karena sudah membantu.
"Thanks, kalau nggak ada kamu, mungkin aku akan bermalam disana sampai menunggu bantuan dari temanku."
"Rupanya kamu tahu caranya berterimakasih ya, baguslah. Makanya kalau berpergian itu, cek bahan bakar beserta kondisi mobilmu sendiri. Karena kalau dalam keadaan genting nantinya kamu akan kesulitan sendiri."
"Iya." Pamela hanya menjawab itu kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"What? Jadi, terima kasihnya cuma ucapan doang? Nggak mau traktir atau apapun yang lain?"
"Awas aja, jangan sampai aku bertemu lagi dengannya."
*
*
Dua hari sudah, keluarga Edgar, Raisa dan si kembar mengabiskan waktu di vila dekat pantai. Mereka pun berpindah ke kota untuk merasakan salju yang turun. Raisa memakaikan pakaian yang hangat dan tebal ke si kembar supaya tidak cepat sakit karena dingin. Dia, Edgar dan si kembar berada di dalam mobil yang sama ketika berpindah tempat.
Si kembar tampak tidur dengan nyenyak di pangkuan Edgar dan Raisa. Sementara kedua orang itu masih terus diam tak berbicara. Sampai mobil pun berhenti karena memang telah sampai di sebuah resort.
Keduanya turun dengan menggendong si kembar. Berjalan saling beriringan, tapi masih tetap tanpa kata. Setibanya di kamar, mereka membaringkan si kembar ke atas ranjang kemudian menyelimuti mereka dengan selimut.
Sebelum pergi ke kamarnya, Edgar memeluk Raisa lebih dulu tanpa persetujuan.
"Aku akan melakukan apapun, sampai kamu berkata iya untuk kembali bersama. Aku tahu, kamu pun masih memiliki rasa yang sama denganku. Jangan menyangkalnya, Ca. Lawan keraguanmu padaku, dan ikuti saja kata hatimu."
Raisa mendorong Edgar dari tubuhnya.
"Kamu sudah sangat keterlaluan Edgar. Kalau wanita sudah menolak itu artinya tidak. Kamu terlihat tidak memiliki harga diri kalau terus memaksa perasaan seseorang."
__ADS_1
Edgar tersenyum tipis. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Raisa. Apalagi ketika melihat mata Raisa yang sedari tadi tak menatap matanya, seolah memang sengaja untuk tak saling bertemu pandang.
"Coba katakan kalau kamu tidak mencintaiku. Katakan dengan jelas sejelas-jelasnya."
"Aku tidak mencintaimu, Edgar. Cinta itu sudah lama mati dalam diriku."
Lagi-lagi Edgar tersenyum tipis, Raisa selalu memalingkan wajahnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu agar tak terlihat olehnya.
"Baiklah, aku mengerti. Lihat saja, aku akan membuat cinta itu hidup kembali untukku."
Edgar pun pergi dengan memberikan kecupan singkat di bibir Raisa. Hanya beberapa detik tapi mampu membuat jantung Raisa berdebar-debar. Kalau seperti ini jadinya, dia akan kalah. Hatinya bisa goyah. Dia ingin kembali, kembali merajut cinta dengan Edgar.
Raisa menutup pintu kamarnya lalu duduk di sofa sambil melihat si kembar yang tertidur dengan lelapnya.
"Apa yang harus mami lakukan?"
*
*
"Kenapa lama sekali, kamu bicara apa saja dengan Raisa?" tanya Papa Daniel yang sudah menunggu Edgar di dalam kamar Edgar.
"Kalau aku gagal membawa Raisa kembali masuk ke keluarga kita, gimana?" ucap Edgar dengan raut wajah sedihnya.
Tiba-tiba sebuah toyoran melayang dari belakang ke kepala Edgar.
"Enak saja, nggak boleh gagal. Kamu harus bawa Raisa kembali. Gara-gara kebodohan kamu, kita kehilangan Raisa. Emang kamu mau kalau nanti Raisa menikah dengan laki-laki lain dan laki-laki lain itu dipanggil ayah oleh si kembar? Mau?"
Orang itu adalah Mama Ola, dia begitu gemas dengan putranya sendiri.
"Tentu saja aku tidak mau, Ma."
"Makanya, kamu jangan menyerah. Masih banyak cara untuk menaklukan hati Raisa lagi."
*
*
TBC
Jangan lupa bunga dan kopinya biar aku semangat nulisnya.
Ini ceritaku yang nggak kalah menarik dari cerita ini. Langsung klik ceritanya dibawah ya
__ADS_1