
Di suatu malam, ketika hanya ada Raisa dan si kembar saja di rumah. Raisa dibuat terdiam oleh celotehan kecil dari anak kembarnya.
"Kalau kita nanti udah tinggal bersama Papi. Bisa kan Mi, kalau Mami nggak usah kerja aja? Rumah Oma kan besar, tempat kerja Papi juga besar dan tinggi. Itu artinya Papi punya lebih dari cukup uang untuk membiayai hidup kita. Aku nggak mau lihat Mami kecapean kalau pulang kerja, belum lagi Mami harus mengurus kita berdua. Bisa Mi?"
Kia mengungkapkan isi hatinya yang sebelumnya ia ungkapkan lebih dulu di depan Edgar.
Tanpa ragu Raisa pun mengangguk. Kali ini dia akan mengabulkan apapun yang si kembar minta karena mereka sudah terlalu banyak berkorban untuknya.
"Iya, Mami bisa kok. Jadi, nanti Mami bisa antar jemput kalian sekolah tiap harinya. Bisa menghabiskan waktu bersama kalian setelah pulang sekolah, dan main bersama setelah Papi pulang kerja. Apapun yang kalian mau Mami akan kabulkan asalkan masih dalam batas wajar."
"Thank you Mami. Aku jadi tidak sabar, hehe. Emang berapa lama lagi sih kita akan tinggal bersama Papi, Mi? Kayanya dari kemarin-kemarin bilangnya sebentar lagi, sebentar lagi aja."
"Sabar sayang, masih dua Minggu lagi. Nggak lama kok."
"Itu masih lama banget Mi," sahut Mia dengan wajah melas sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
"Aku udah nggak sabar biar diantar ke sekolah sama Mami dan Papi. Aku juga mau nunjukin ke semua orang kalau aku punya Papi yang keren dan ganteng."
"Huh! Dasar tukang pamer!"
"Biarin aja, lagian mereka selalu hina-hina kita nggak punya Papi. Biar tahu rasa, mereka pasti bakalan terkejut kalau tahu papi kita punya gedung tinggi."
Raisa hanya bisa mendengarkan saja curhatan hati Mia. Kalau saja dirinya tak seegois itu, mungkin si kembar bisa bertemu dengan Edgar lebih cepat dari ini. Tapi apa nanti hasil akhirnya akan sama? Dia pun tak bisa menjamin itu.
*
*
Namanya orang lagi patah hati, pasti butuh ruang untuk menyendiri dan butuh suasana baru untuk menyegarkan hati dan pikiran. Di malam yang penuh bintang, Bian pergi ke sebuah bukit dimana dari sana, dia bisa melihat cahaya-cahaya lampu. Memang tak bisa langsung menyembuhkan hatinya, tapi setidaknya bisa menenangkan dirinya. Ternyata patah hati, sesakit ini ya? Tidak berdarah memang, tapi nyesek rasanya.
Tanpa Bian ketahui, rupanya Tamara pun berada tak jauh dari posisi Bian. Dia duduk di atas batu sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Orang yang masih dicintainya akan kembali bersama mantan istrinya. Sedih memang. Pada akhirnya dialah yang jadi korban dari dua hati yang masih saling mencintai tapi terpaksa harus berpisah karena keadaan.
Tamara tersenyum kecut. Sebelumnya kehidupannya begitu sempurna. Memiliki keluarga yang harmonis dan begitu disayangi. Jadi aktris yang selalu dicintai penggemarnya dan pasangan serta kisah cinta yang sempurna. Nyatanya, semuanya berbanding terbalik sekarang.
Keluarganya memang harmonis dan begitu menyayanginya, hanya saja mereka terlalu berlebihan dalam mencintai. Begitu juga dengan penggemarnya. Terlalu banyak komentar yang mengasihaninya karena batal menikah. Padahal Tamara tak ingin dikasihani, dia hanya ingin mereka tak begitu mengurusi kehidupan pribadinya, cukup liat saja karya-karyanya. Dan yang terlahir kisah cintanya yang harus kandas.
Pada akhirnya, Tamara mengerti kalau di dunia ini tak ada hidup yang sempurna. Setiap orang pasti akan mengalami satu atau beberapa hal dalam perjalanan hidupnya yang menyakitkan.
"Kalau move on bisa dengan mudah, aku ingin sekali menghilangkannya sekarang juga. Aku terlalu cinta pada orang itu sampai lupa seharusnya diriku lah yang paling aku cintai."
"Haaah."
Tamara menghela napasnya setelah mengeluarkan unek-uneknya. Di saat dia hendak kembali, dia dan Bian saling bertemu pandang.
Di antara banyaknya orang di dunia ini, kenapa harus Bian yang ada disana? Apa tadi dia mendengarkan curhatan hatiku? Dia tidak merekamku untuk dikirimkan ke wartawan kan?
Tamara benar-benar tak bisa berpikiran positif ketika bertemu dengan Bian. Laki-laki itu sendiri yang salah karena kesan pertama Tamara bertemu dengan Bian tidak begitu mengenakkan.
"Siapa kamu? Aku tidak bisa pergi dengan sembarang orang. Kamu tahu sendiri aku ini aktris terkenal. Kalau ketahuan jalan sama laki-laki, bisa-bisa aku digosipkan sedang berkencan."
"Tidak akan ada gosip seperti itu, toh kita memang partner kerja sebagai brand ambassador dan owner, right? Kalau ditanya, bilang aja urusan kerjaan. Apa susahnya?"
"Tetap saja pasti ada wartawan nakal yang kerjaannya cuma bikin hoaks di media sosial."
Dan apa yang diucapkan Tamara benar, keduanya kini sedang dipotret oleh orang yang tak mereka kenal di balik pohon.
"Wah, bisa jadi berita bagus kalau Tamara dan pemilik brand minuman itu dikabarkan berkencan. Aku harus dapat angle foto yang bagus."
"Kalau seperti itu, kenapa kamu tak memakai masker dan kacamata ketika datang kesini? Bukannya itu bisa mengundang orang-orang untuk datang dan mengerumuni kamu?"
Seketika Tamara langsung terdiam. Karena biasanya tempat ini jarang dikunjungi oleh orang-orang makanya dia berani untuk tampil tanpa kacamata dan masker.
__ADS_1
"Sudahlah, kita tidak sedekat itu juga untuk minum-minum bersama. Aku pergi."
Baru juga selangkah berjalan. Wajah Tamara langsung ditutupi oleh jas yang Bian kenakan.
"Aduh! Kenapa ditutup sih? Aku nggak bisa jalan ini."
Tak hanya ditutup saja, Bian juga merangkul Tamara dan menjadi petunjuk jalan bagi Tamara. Sebelum itu, Bian mendekati orang yang ada di balik pohon itu.
"Kamu tahu, memfoto orang diam-diam dan menyebarkannya di media sosial bisa terkenal pasal. Apalagi, sepertinya kamu telah mengikuti Tamara di sepanjang jalan. Kamu bisa dihukum berlapis-lapis karena sudah menguntit juga. Hapus fotonya sekarang atau saya laporkan ke polisi sekarang juga."
Wartawan itu langsung menelan ludahnya dan menghapus foto yang dia dapatkan di depan Bian saat itu juga. Setelah masalah selesai, Bian tetap membawa Tamara dengan ditutupi oleh jasnya.
"Sudah aman belum? Bisa kamu buka jas mu?"
"Belum," jawab Bian.
"Haish, kesel banget."
Setelah berjalan cukup jauh, Bian pun membuka jasnya yang menutupi wajah Tamara. Bukannya membawa ke parkiran, Bian justru membawa Tamara ke tempat lain yang ada disana. Lebih sepi dari tempat tadi, dan kurang pencahayaan.
"Kamu? Kenapa bawa aku kesini? Kamu mau berbuat yang macam-macam ya? Ngaku?!"
"Aku tidak sebejat itu kali. Kata orang dua hari yang tersakiti kalau bersatu bisa jadi orang yang kuat. Aku sedang mencobanya, mencoba membuktikan perkataan itu."
*
*
TBC
Yuk jangan lupa komentarnya teman-teman.
__ADS_1