
Di saat waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Raisa pergi ke kamar si kembar untuk menidurkan anak-anaknya. Disana ternyata sudah ada Edgar juga yang diminta si kembar untuk tidur bersama.
"Dari dulu kita selalu menginginkan hal seperti ini. Tidur seranjang dengan Mami dan Papi, kemudian dinyanyikan lagu sebelum tidur atau dibacakan dongeng," ucap Mia.
"Sekarang Mia maunya yang mana?" tanya Edgar.
"Terserah Papi aja," jawab Mia.
Posisi tidur mereka, Raisa berada di samping Kia, dan Edgar berada di samping Mia.
Edgar pun mulai menyajikan lagu anak-anak yang membuat si kembar jadi tertawa. Mereka kira suara Edgar bagus, rupanya sangat-sangat buruk, tidak berada sama sekali. Raisa pun sampai geleng-geleng kepalanya, bisa-bisanya Edgar dengan percaya dirinya memilih untuk bernyanyi. Meski begitu, mereka terus mendengarkan lagu yang dinyanyikan Edgar sampai selesai.
"Gimana suara Papi bagus, kan?"
"Bagus banget Pi, sampai bikin telinga aku rasanya mau pecah," jujur Kia yang langsung disetujui oleh Mia.
"Iya, Pi. Kalau Papi daftar jadi penyanyi, aku jamin langsung ditolak, haha."
Edgar tersenyum melihat anak-anaknya yang tertawa. Bukan tanpa sengaja Edgar memilih bernyanyi. Ia ingin melihat tawa anaknya setiap harinya.
"Maka dari itu, Papi nggak jadi penyanyi. Papi jadi pimpinan perusahaan. Nanti salah satu dari kalian pasti ada yang jadi kaya Papi," ucap Edgar.
"Nggak mau Pi, aku kan ingin jadi artis," jawab Mia.
"Aku mau jadi astronot Pi," jawab Kia.
Mendengar kedua anaknya yang memiliki cita-cita sendiri, rasanya sedih sih, tapi dia pun tak mau memaksa jika memang tidak ada yang suka.
"Baiklah-baiklah, kejar mimpi kalian sampai saat, Papi akan selalu mendukung."
"Thank you Pi," jawab si kembar bersamaan.
Raisa yang melihat interaksi itu terus tersenyum. Pemandangan seperti ini yang awalnya langka dan tak terpikirkan sama sekali, kini ada di depan matanya sendiri. Semuanya masih bagai mimpi.
"Nah, sudah saatnya kalian tidur. Besok harus sekolah, kalau telat bangunnya pasti kalian bikin rusuh di rumah," ucap Edgar yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil dari si kembar.
*
*
Tamara mengganti pakaiannya karena terkena saos dari Bian. Dia terus menggerutu ketika di dalam toilet. Seumur-umur baru kali ini dia menemukan laki-laki semenyebalkan Bian.
__ADS_1
Ketika keluar dari toilet, Bian ada di depan toilet menunggu Tamara selesai berganti baju. Tamara menaruh baju kotornya di tangan Bian.
"Cuci bajunya sampai bersih, gara-gara kamu bajunya jadi kotor begini."
Bian tak menolak sama sekali karena dia sadar memang telah berbuat salah ke Tamara. Bian pergi ke parkiran untuk menaruh pakaian kotor itu di mobil.
Tanpa sengaja, Bian mendengar sayup-sayup orang yang sedang membicarakan Tamara.
"Tamara, kasihan sekali wanita itu. Padahal cantik, dari keluarga kaya, tapi harus ditinggal nikah duluan sama mantan kekasihnya."
"Iya bener, apa coba kurangnya Tamara, dia udah spek bidadari yang tak tertandingi."
"Iya, tapi mungkin saja istrinya Edgar itu lebih daripada Tamara."
Bian langsung sengaja lewat disana dan nimbrung pembicaraan.
"Jangan membicarakan orang lain dari belakang, apalagi mengasihaninya seperti itu. Terkadang orang yang terluka itu tak butuh dikasihani, mereka hanya butuh didukung dan jangan ungkit masalah yang terjadi."
Orang-orang disana pun langsung terdiam, Bian juga langsung pergi dari sana untuk melihat syuting Tamara kembali.
Waktu demi waktu telah berlalu, syuting sudah selesai tepat pukul 11 malam. Bian dan Tamara kini sudah berada di dalam mobil. Bian melajukan mobilnya dan sesekali membuka topik obrolan. Sayangnya, Tamara tak menanggapinya karena terus diam dan melihat ke arah kaca mobil.
Mendengar hal tersebut, Tamara langsung menoleh dan menatap ke arah Bian.
"Kalau nyetir, ya nyetir aja, jangan ajak ngobrol. Nanti kalau nabrak kan bahaya. Gimana kalau nanti tiba-tiba muncul berita, Tamara artis terkenal kecelakaan karena sopirnya tidak fokus menyetir."
Bian tersenyum tipis. Sopir katanya? Sudah jelas dirinya adalah orang penting bagi kelangsungan karier Tamara.
"Antar aku ke apartemen aja, aku malas pulang ke rumah," pinta Tamara.
"Baiklah, dengan senang hati," jawab Bian.
Setelah itu, di sepanjang jalan tak ada obrolan sama sekali. Yang ada cuma keheningan, bukan karena Bian yang tak mengajak Tamara mengobrol, tapi karena Tamara yang rupanya kelelahan sampai tertidur di mobil Bian.
Ketika sampai di baseman apartemen Tamara, Bian tak tega kalau harus membangunkan Tamara. Kalau dia menggendong Tamara sampai ke dalam apartemen pun tak mungkin, karena dia tak tahu di apartemen nomor berapa Tamara tinggal. Belum lagi, pasti pintunya pun memiliki nomor sandi, yang Bian juga tak tahu. Jadinya, Bian hanya menunggu Tamara sampai bangun.
Bian tampak menatap wajah Tamara yang begitu tenang saat tidur. Berbeda sekali kalau wanita itu membuka matanya. Entah kenapa Bian jadi tersenyum karenanya. Seketika Bian langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak! Nggak mungkin aku mulai menyukainya. Masa iya aku bisa move on secepat ini?"
Bian melihat kepala Tamara yang akan terjatuh ke sebelahnya, dia pun menyanggahnya dengan tangannya. Seketika Tamara langsung terbangun dan menjerit.
__ADS_1
"Arghh! Kamu sedang apa? Kamu mau berbuat mesum ya dengan pegang-pegang kepalaku!?"
"Idih! Aku tadi menolong kamu biar ngg- "
"Bohong!"
Belum juga selesai bicara, Tamara langsung memotongnya.
"Bisa-bisanya Jena punya teman kaya kamu. Hih! Dasar mesum!"
Tamara melepas sabuk pengamannya, kemudian turun dari mobil Bian dan menutup pintunya dengan sangat keras sampai membuat Bian meng*lus dadanya saking terkejutnya. Tamara bahkan lupa berterimakasih ke Bian karena telah diantarkan pulang ke apartemen.
"Seketika aku jadi tidak percaya kalau kamu adalah sang dewi yang sering dipuji-puji fans mu. Bagiku kamu hanya wanita dengan tempramen yang tinggi."
Bian melajukan mobilnya keluar dari basemen apartemen Tamara. Di sepanjang jalan, Bian terus mengingat sikap dan perilaku Tamara yang berbeda jauh dengan citranya di mata publik. Padahal kenyataannya, Tamara emang bak dewi, hanya saja kepada orang yang tak disukai Tamara kan memperlihatkan dengan sangat jelas rasa tidak sukanya.
Drtt drtt drtt
Ponsel Bian berdering dan ketika dilihat, nama Jena lah yang muncul di layar.
"Apa?!" ucap Bian yang langsung ngegas.
"Ya ampun, astaga! Belum juga aku tanya apapun sudah ngegas aja. Gimana Tamara? Kamu sudah mengantarnya pulang dengan selamat kan?"
"Hm, yang ada aku pulang dengan tidak selamat," jawab Bian.
"Kalau kamu sih bodo amat. Gimana Tamara menurutmu?" tanya Jena lagi.
"Berhenti menjadi makcomblang, Jena. Aku dan Tamara tidak akan cocok. Udah ya, cukup hari ini aja aku kabulin permintaan kamu. Besok-besok aku tak mau lagi."
"Hih! Menyebalkan!"
Sambungan telepon langsung ditutup oleh Bian dengan sepihak.
"Harusnya emang aku nggak mengiyakan sejak awal."
*
*
TBC
__ADS_1