Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 74


__ADS_3

Hari itu langit sangat mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun. Padahal Raisa sudah berjanji ke si kembar untuk jalan-jalan di sekitaran taman bermain bersama. Sayangnya rencana itu hanya jadi sebuah wacana saja.


"Nggak papa ya, rencana hari ini batal, soalnya cuaca di luar tidak mendukung. Mami nggak mau kalian berdua jatuh sakit kalau kita paksakan untuk kesana."


Raut wajah dari si kembar terlihat kecewa, padahal keduanya telah menantikan ini sejak lama. Tapi mau bagaimana lagi? Cuaca memang tidak mendukung, kan?


"Ya udah, kita nonton bareng aja Mi di rumah, sambil makan mie," saran Mia.


"Oke, tapi harus diingat, setelah makan mie hari ini, kalian tidak boleh makan mie lagi dalam waktu dekat. Mami baru bolehkan setelah satu minggu berlalu."


"Iya Mi, tenang aja," jawab Mia.


Si kembar pun mulai memilih kaset DVD, film apa yang akan mereka tonton bersama Raisa. Sementara Raisa sendiri berada di dapur membuatkan mie instan untuk si kembar dan juga dirinya. Mie yang dibuatnya ditambahkan dengan telur rebus dan sayuran supaya si kembar tetap mendapatkan protein dan vitamin.


Selesai memasak, Raisa membawa tiga mangkuk mie instan lalu menonton bersama disana. Film yang mereka tonton adalah Super Didi. Menceritakan tentang seorang ayah yang harus menjaga anak-anaknya ketika sang istri membantu temannya pergi ke luar negeri.


Mia jadi bertanya ke Raisa.


"Mi, kira-kira kalau itu terjadi pada aku dan Kia, papi bisa nggak ya, mengurus kami berdua? Soalnya kalau dilihat dari film ini, si ayahnya terlihat kerepotan karena harus mengurus anaknya juga pekerjaannya."


Raisa tersenyum.


"Mami nggak mau bayangin itu karena Mami tidak akan pernah meninggalkan kalian meski cuma ke luar kota."


"Tapi aku beneran penasaran Mi. Kami emang menyayangi Papi, tapi kami kan nggak tahu gimana sikap Papi yang sebenarnya."


"Papi kalian orang yang baik dan perhatian."


Itulah jawaban yang diberikan Raisa.


Tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang. Raisa pun membuka pintu rumah dan melihat Edgar yang datang dengan rambut dan pakaian yang sedikit basah.


"Kenapa kesini nggak bilang-bilang?" tanya Raisa.


"Nggak papa, aku ingin mengejutkan kamu," jawab Edgar lalu masuk begitu saja ke dalam rumah. Edgar langsung memanggil satu per satu nama si kembar.

__ADS_1


Si kembar yang mendengar itu pun langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Edgar.


"Papi, ayo kita nonton bareng!" ajak Mia.


Edgar pun menurut dan ditarik tangannya oleh Mia untuk duduk di ruang tamu. Sementara Raisa pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan mie untuk Edgar.


"Pi, seberapa besar rasa sayang Papi ke kita berdua?" tanya Mia.


"Eum ... Papi nggak tahu karena nggak bisa mengukurnya. Tapi yang Papi tahu, Papi tidak mau kehilangan kalian."


"Kalo ke Mami gimana Pi?" tanya Kia.


"Kalau Mami kalian, dia adalah segalanya bagi Papi. Cuma jawaban itu yang bisa Papi berikan."


Sebenarnya si kembar tak cukup puas dengan jawaban Edgar, tapi mereka cukup senang mendengarnya. Itu artinya, Edgar pasti akan membahagiakan mereka karena tak mau kehilangan mereka.


Tiba-tiba Mia berlari masuk ke dalam kamarnya, entah apa yang dicari gadis kecil itu, Edgar pun tak tahu.


Brug!


"Ini waktu aku masih berusia dua tahun Pi. Kata Mami, aku lagi lancar-lancarnya bicara. Bahkan Kia yang lahir lebih dulu dari aku belum lancar bicaranya," ucap Mia yang membuat Kia kesal karena dijelek-jelekkan oleh Mia.


"Kamu emang lebih dulu bicaranya daripada aku, tapi aku lebih cepat jalannya daripada kamu. Aku usia 1 tahun udah bisa jalan kamu 1 tahun 4 bulan baru bisa."


Kia tak mau cuma diam aja ketika dijelek-jelekkan di depan Edgar. Pada akhirnya keduanya saling memuji diri sendiri dan menjelekkan satu sama lain.


Edgar yang ada disana hanya bisa tertawa saja. Entah kenapa dia tak ingin melerai perdebatan yang terlihat lucu di matanya. Kapan lagi dia bisa melihat putrinya yang saling mengejek tapi malah terlihat saling memuji di matanya.


Untuk sejenak Edgar jadi senang, keputusannya kali ini memang tidak salah. Dia akan bisa melihat tumbuh kembang si kembar nantinya. Bahkan rasanya, Edgar tak mau si kembar jadi cepat dewasa. Dia ingin si kembar kecil terus agar dia bisa menembus waktu yang hilang bersamanya.


"Twins, hug Papi, please!" pinta Edgar yang lalu dikabulkan oleh si kembar.


"Kalian sayang Papi?"


"We love you Papi," ucap si kembar kemudian mengecup pipi Edgar di kanan dan kiri.

__ADS_1


Edgar sangat terharu, karena si kembar tak membencinya yang baru muncul setelah beberapa tahun lamanya. Itu semua terjadi karena Memnag Raisa yang tak pernah menceritakan hal buruk tentang Edgar ke si kembar.


Raisa yang melihat pemandangan haru itu jadi tersenyum dari kejauhan. Kemudian dia ikut duduk sambil menaruh teh hangat dan mie rebus di atas meja.


Di saat si kembar sedang berdebat berdua karena film yang mereka tonton. Edgar malah meraih tangan Raisa untuk digenggamnya. Dengan tanpa suara Edgar mengucapkan terima kasih menggunakan bibirnya.


Raisa yang paham hanya mengangguk lalu tersenyum begitu manis ke Edgar. Senyuman yang sangat Edgar rindukan selama ini.


"Mi, Pi, nanti kita harus sering-sering nonton dan mengobrol bersama seperti ini ya?


"Iya sayang, jadi kalian pun harus menceritakan apapun yang kalian alami ke Mami dan Papi. Jangan sembunyikan apapun, oke?"


Si kembar mengangguk lalu bertingkah lagi seperti sedang konser di depan Raisa dan Edgar. Kia sih cuma menggerakkan tangannya aja ketika bernyanyi, berbeda dengan Mia yang seperti kesurupan reog yang loncat-loncat kesana kemari. Energinya seperti tidak ada habisnya.


Tak lupa, Edgar malah merekam tingkah si kembar itu sebagai dokumentasi. Ia tak mau kehilangan momen bersama si kembar ketika sedang bersama.


Hari sudah semakin malam, si kembar pun sudah tertidur di kamarnya. Hanya ada Raisa dan Edgar yang berdiri di depan pintu.


"Terima kasih sudah jadi Mami yang sempurna di mata si kembar. Terima kasih karena kamu masih mau mengenalkan aku ke si kembar meskipun kamu merasakan sakit di hatimu pada saat itu. Aku benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, Ca. Intinya, aku memang beruntung bisa memiliki kamu."


"Jangan terus membicarakan sesuatu yang telah berlalu. Mari kita bicarakan saja masa depan. Biarlah yang lalu itu jadi pelajaran bagi kita."


Edgar langsung memeluk Raisa lalu mengecup kening Raisa dan berpamitan untuk pulang ke rumah.


*


*


TBC


Mau tambah lagi nggak? Hihi


Yuk yang belum baca cerita ini silahkan mampir


__ADS_1


__ADS_2