Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Sang Bunga Desa


__ADS_3

"Pagi Maya, apa kabar?" sapa Harun si playboy, Maya yang baru saja keluar dari rumah berlalu melewati barisan bunga menuju sepeda kesayangannya yang terparkir di samping rumah.


Gadis yang mempunyai julukan bunga desa itu hanya membalas dengan senyuman. Kemudian menaiki sepeda berwarna pink kesukaannya, sambil berlari Harun mengikutinya dari belakang.


Maya nama gadis itu. Ia gadis yang ramah semua penduduk desa menyukainya, tutur katanya lembut, sopan dan santun pada siapa saja yang ia temui.


Gadis cantik berkulit putih bersih, rambut hitam tebal dan lurus, mata yang indah dihiasi bulu mata yang lentik, hidung mancung nan mungil membuat iri para gadis seusianya. Bibir ranum yang senantiasa dihiasi senyuman. Dia adalah gadis yang jadi idaman para pria di desanya termasuk Harun si playboy.


Sudah lama Harun mendekati gadis periang nan elok budi itu. Namun Maya selalu mengabaikannya. Karena Maya mengetahui bahwa Harun hanya akan mempermainkan dirinya. Seperti yang Harun lakukan pada gadis lainnya di desa.


"Sudahlah Harun, kamu pulang saja Aku tidak akan pernah suka sama kamu," ujar Maya setengah teriak, seraya menggowes sepedanya dengan kencang meninggalkan debu beterbangan yang seolah berkejar-kejaran mengikutinya.


"Maya, aku tulus mencintai kamu, percayalah Maya, May .... " Harun ngos-ngosan berhenti tak sanggup mengejar gadis itu lagi, Maya semakin jauh, akhirnya Harun duduk di bawah pohon besar. Ia merasa lelah sambil menggigit kerikil di jalanan eh maksudnya rumput yang ia cabut sembarangan di pinggir jalan. Jalanan itu masih tanah bercampur dengan batu sungai, batu itu sengaja di letakkan untuk menutupi jalan yang tergenang air ketika musim penghujan tiba.


--------


Setiap ada waktu luang Maya selalu bersepeda ke rumah temannya Rara. Teman akrab yang tidak dapat dipisahkan. Dahulu sewaktu kecil, Rara tinggal berdekatan dengan rumah Maya. Sebelum ayah Rara membeli rumah di desa tetangga. Sekarang desa mereka dibelah oleh perkebunan karet yang menuju hutan lebat, diseberang jalannya ada sungai yang mengalir sampai ke desa. Aliran sungai itu biasa di gunakan untuk aktivitas warga desa yang belum mempunyai kamar mandi sendiri.


Walaupun Keluarga Rara pindah kesana. Mereka selalu kompak pertemanan yang selalu terjalin walau ada jarak mereka selalu menyempatkan diri untuk berkunjung satu sama lain.


Setelah beberapa hari tidak bertemu mereka bercerita, bergurau dan tertawa bersama. Banyak hal yang mereka bicarakan seperti masakan jengkol kesukaan mereka, pakaian yang dikenakan para pria di desa sampai masalah pribadi, pria idaman dan lainnya.


Saat Rara dan Maya asyik ngemil, Rara teringat sesuatu yang menurutnya menjadi perlu ditanyakan dan dibahas setajam silet.


"May, aku heran deh sama kamu. Kenapa sih kamu tidak suka dengan si Harun?" cerocos Rara sambil mengunyah kripik singkong pedas buatan ibu Rara.


"Hah Rara ... seperti kamu tidak tahu aja kalau si Harun itu playboy," jawab Maya kesal sembari memicingkan mata pada sahabatnya itu terdengar nadanya tidak suka membahas Harun.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini aku lihat si Harun sudah berubah, biasanya dia tidak pernah sholat jumat, kalau lihat cewek cantik matanya langsung melotot, sekarang dia rajin ke mesjid loh, lihat cewek cantik pasti menjauh," bela Rara. Ia mendekat duduk di sebelah kanan Maya memandang wajah gadis itu dengan wajah di buat seolah ingin dipercaya ucapannya.


"Ra, aku tidak akan pernah suka sama si Harun, walaupun kamu sebutkan semua kelebihan si Harun itu." Melihat ke arah Rara dengan wajah tak kalah serius. "Atau kamu dapat sogokan dari Harun? makanya kamu bela-belain dia. Aku sungguh tidak menyangka kamu seperti itu," ejek Maya menuduh sahabatnya dapat sogokan dari Harun, karena bisa saja itu terjadi mengingat keluarga Harun orang terkaya di desa, ia merasa kecewa pada sahabatnya itu.


"Maaf May, aku ... aku cuma ingin kamu bahagia, Harun itu pria yang tampan, kaya, usahanya banyak, orang tuanya terpandang, dihormati semua orang di desa kita, apalagi kekurangan Harun? kalau aku jadi kamu, aku pasti menerimanya, sayangnya dia menyukai kamu May, sadarlah May!" berondong Rara dengan lembut, merayu Maya seraya memegang tangan lentik Maya.


"Sudahlah Ra, Aku malas dengar pujianmu untuk pria itu. Seperti tidak ada pria lain yang lebih baik di desa ini. Kalau kamu suka Harun dekati saja dia," jawab Maya kesal menghentikan obrolan mereka yang mulai serius dan tidak mengenakkan itu.


Senja datang beriringan dengan warna indah kemilau jingg. Tanpa malu menampakkan keindahan yang dikagumi semua makhluk. Cahayanya menenangkan hati yang gundah, menentramkan jiwa yang gelisah, membuat penikmatnya bersyukur.


Rona merah di langit dihiasi putihnya awan yang lembut, gemiricik air sungai di pinggir jalan. Seolah menjadi irama pelengkap indahnya senja di pinggir sungai. Burung-burung pun beterbangan menikmati senja di sore hari, pulang ke sarang tempat beristirahat.


Para petani beriringan, dengan senyum di wajah yang lelah, begitupun dengan Maya, ia pulang sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, menikmati pohon-pohon yang rindang, air sungai yang jernih dan mengalir tanpa henti.


Melihat air sungai itu membuat Maya tergoda untuk duduk di bebatuan barang sebentar. Melepaskan kegundahan dalam hati, duduk di batu dan membiarkan kakinya basah, sambil bermain air ia pun tenggelam dalam pikirannya.


Gadis itu mencoba melepaskan tangan yang memeganginya, pria itu menggunakan penutup wajah hanya mata yang terlihat. Maya berusaha berontak namun sia-sia, tenaganya kalah kuat dari pria itu.


"Diam atau aku akan membunuhmu?!" bentak pria bermasker dengan sangar. Badannya tinggi besar, berkulit hitam membuat Maya semakin takut, Maya pun menangis tanpa suara karena mulutnya tertutup tangan kekar pria itu.


Pria itu menyeret Maya ketengah-tengah perkebunan karet semakin dalam menuju hutan lebat, tidak ada seorangpun yang berlalu lalang lagi karena hari sudah gelap. pria itu masih menutup mulut Maya, gadis mungil itu gemetar, pikirannya berkecamuk tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.


"Tuhan tolong aku," jerit Maya dalam hati, berharap Tuhan memberi pertolongan pada saat sekarang ini, bukankah Tuhan selalu menolong hambanya yang berada dalam kesusahan.


Maya tidak berputus asa, Ia memukuli pria bersuara sangar, tubuhnya meronta-ronta, menggapai benda sekitar berharap bisa menjadi alat untuk menyakiti pria itu. Matanya mencari-cari dan bersusah payah ia menggapai kayu yang mereka lewati dan Ia berhasil mendapatkan kayu, kemudian memukulkan sekuat tenaga pada pria itu, Maya mengulang pukulan kayunya, kali ini tepat mengenai sasaran pria itu melepaskannya.


Maya berlari tak tentu arah, ia mengikuti kemana kakinya melangkah beberapa kali bajunya tersangkut, ia terjatuh tersandung akar pepohonan rasa sakit ia tahankan, rasa takut membuat Ia kuat untuk terus berlari tanpa memperdulikan kakinya yang berdarah. berlari menjauh dari pria itu, berlari sejauh mungkin menembus hutan dalam gelap hanya cahaya remang dari celah daun ditemani suara hewan malam.

__ADS_1


"Seandainya aku tidak bermain air di sungai mungkin sekarang aku sudah di rumah," sesalnya dalam hati. Maya melihat sekelilingnya mencoba mencari jalan keluar dari hutan, pohon-pohon besar dan semak belukar dimana-mana tidak ada tanda-tanda bekas jalan yang orang lewati, ia pun terjatuh dan kakinya terkilir.


"Ya Tuhan tolong aku, apa yang harus kuperbuat?" lirihnya, Maya memijit kakinya berharap kakinya bisa berjalan kembali, namun tidak berhasil, ia pun terduduk di bawah pohon besar melihat sekeliling semoga pria itu tidak menemukannya.


Maya merasa lega setelah tidak ada tanda-tanda pria itu terlihat, rasa takut itu masih ada, mengingat jalan pulang sama sekali tidak diketahui Maya. Malam semakin larut, ia kelelahan tertidur di bawah pohon meringkuk sendirian berselimut dingin dalam keheningan malam.


--------


Krek ... krek ... krek


"Kenapa kaki dan tanganku tidak bisa digerakkan?" Maya tersadar dari tidurnya. melihat tangannya dililit tali yang tersambung sampai ke arah kakinya, pikirannya kacau seketika mendapati nasib sial yang kembali menghampiri.


"Gadis cantik, Kamu sudah bangun?" ujar pria dihadapannya.


Pria itu pun mendekati gadis berkulit putih itu, dia adalah pria yang sama, pria yang menangkap dan mengejar Maya.


"Mau apa kamu?!" bentak maya dengan rasa marah dan takut, matanya melotot melihat pada dua mata pria berbadan tegap itu.


"Sudahlah sayang, menyerah saja atau Aku akan kasar padamu?" tawar pria itu, seraya membelai rambut Maya.


Maya hanya mengelak tidak dapat melarikan diri lagi, karena tangan dan kaki yang terikat tidak memungkinkan untuk berlari.


"Jangan sentuh aku!" teriak Maya dengan air mata yang menganak sungai, memperlihatkan ia benar-benar tidak sudi disentuh.


"Tidak sayang aku tidak akan menyentuhmu!" pria itu tertawa, entah apa yang ia tertawakan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2