Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Ngidam Aneh


__ADS_3

"Aww sakit." Harun berteriak melihat ke arah sikunya yang mengenai batu krikil kecil yang runcing, Krikil itu menempel mesra di siku Harun.


"Kamu kenapa Mas," ujar Maya cemas mengedarkan pandangannya ke siku suami yang ia nikahi beberapa bulan ini. Kemudian ia bergeser dari tubuh suaminya yang ia tindih karena terjatuh, setelah itu berdiri agar Harun juga bisa berdiri.


"Siku kamu berdarah Mas," ujar Maya panik kemudian matanya melihat sekeliling seperti mencari seauatu di rumput sekitar jalan yang mereka lalui.


Setelah Harun berdiri, ia mengibas-ngibaskan tangannya membersihkan sisa krikil yang menempel di sikunya, dan pakaiannya yang kotor akibat tanah yang menempel disana. Sungguh rasanya luar biasa bagi Harun, karena krikil itu menembus dagingnya dan mengeluarkan darah segar "May ... kamu cari apa," ujar Harun kebingungan karena sikap Maya seperti mencari uang receh yang jatuh tercecer.


"Aku cari daun bandotan Mas," jawab Maya tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan penglihatannya.


"Cari pak Bandot? kok seperti, mencari uang koin yang jatuh?" Harun mengeryitkan dahi mendekati Maya, ia mengikuti Maya yang melihat ke kiri dan ke kanan.


"Bukan pak Bandot Mas, tapi daun Bandotan." Masih mencari-cari daun yang ia maksud. "Itu loh Mas yang buat ngobatin luka. Kalau bahasa sini apa yah ...." Maya meletakkan jari telunjuk di samping alisnya untuk mengingat. "Oh iya namanya daun Wedusan."


Kemudian melanjutkan mencari jenis rumput yang konon katanya bisa menahan darah agar tidak keluar lagi kalau lukanya kecil, tumbuhan itu juga dipercaya obat infeksi dan zat anti bakteri.



"Akhirnya ketemu juga," ujar Maya. Kemudian mencabut rumput berwarna hijau dengan bunga berwarna putih keunguan.

__ADS_1


Maya memetik daunnya beberapa helai setelah itu meletakkannya di tangan dan menggesek-gesekkan tangannya seperti orang kedinginan, kemudian meremas daun itu sampai daunnya layu tidak berbentuk dan mengeluarkan air berwarna hijau, selanjutnya Maya menempelkan pada siku Harun.


"Apa itu? aku tidak mau pakai itu. Nanti di rumah saja kita pakai betadine." Harun melepaskan ramuan yang dibuat oleh Maya.


"Ini bagus untuk luka, tidak usah dilepas biar cepat sembuh, ini manfaatnya bagus loh Mas, daun ini sudah diteliti terbukti obat infeksi dan anti bakteri Mas," Maya menempelkan kembali ramuan itu di luka Harun.


Harun tidak punya pilihan karena ia melihat kesungguhan Maya waktu mencari daun itu, ia tidak ingin membuat Maya kecewa.


Sesampainya di rumah, Maya langsung ke kamar dan kemudian membersihkan diri, setelah itu membaca buku yang ada di nakas.


"Huh .... Baru baca satu lembar, mata sudah berat kebiasaan deh. Kata ibu Hindun tidur pagi tidak baik untukku karena lagi hamil," pikir Maya ia mencoba menahan matanya yang terkantuk-kantuk tetapi ia tidak bisa, Karena kelelahan menahan matanya akhirnya ia tertidur pulas.


"Mimpi apa May, kenapa senyum-senyum gitu? jangan bilang kamu mimpi jorok ya?" Harun bertanya dengan curiga.


"Hah ... aku senyum Mas?" seakan tidak percaya. "Mas ... barusan aku mimpi sama Rara, kami memungut asam jawa. Gara-gara Mas, mimpiku tidak selesai." Maya pura-pura merajuk, ia memajukan bibirnya.


"Terus .... " Harun semakin mengeryitkan dahi.


"Aku mau makan asam jawa, sekarang Mas. Sepertinya makan asam jawa enak Mas," ujar Maya memelas dengan mengedipkan kedua matanya.

__ADS_1


"Hah asam jawa? asam jawa itu kan masam May?" tanya Harun sembari memperlihatkan gigi dan mengendikkan bahunya.


"Iya Mas, asam jawa memang masam tapi ada manis-manisnya juga. Kayaknya aku ngidam asam jawa deh Mas, soalnya dari kemarin aku kebayang-bayang terus, sampai kemimpi juga saking pengennya. Setiap kali teringat pasti air ludahku rasanya mau menetes." Maya menelan salivanya kemudian.


"Terus dimana ada pohon asam jawa May?" tanya Harun sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Di tepi sungai tempat pemandian perempuan ada Mas. Kamu ambil ya Mas," ujar Maya ragu-ragu takut suaminya tidak bersedia mengambil asam jawa yang beberapa hari ini menghiasi pikirannya.


"Jangan bilang aku harus ambil di sana? " ujar harun terkejut. Karena tidak sanggup membayangkan harus mengambil asam jawa di tempat pemandian perempuan, bisa-bisa badannya remuk dihajar orang sekampung karena dikira mengintip orang mandi.


"Adanya cuma di sana Mas, mau gimana lagi? ini bawaan anak kita Mas, nanti kalau tidak dituruti anak kita bisa ileran Mas, kamu mau anak kita nanti ileran?" tanya Maya megingatkan suaminya pada bayi yang banyak ilernya.


Harun diam tidak tau harus berbuat apa, "Kalau kesana bisa tambah gemuk badanku dihajar ... kalau tidak kesana aku harus terima anakku ileran ... ih aku tidak sanggup lihat anakku ileran bisa-bisa badanku basah semua karena ilernya." Pikirannya kacau saling berdebat menentukan pilihan.


"Mas, ayo aku udah enggak sabar pengen makan asam jawa," desak Maya merengek seperti anak kecil.


"Iya Mas pergi sekarang," ujar Harun karena tidak tega dengan istri cantiknya yang sedang ngidam aneh itu.


"Aku harus bagaimana biar aman masuk kepemandian perempuan? apa aku harus menyamar seperti di film-film yah?" Harun berjalan sambil memikirkan cara aman ke tempat yang paling ditakuti pria itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2