
"Ok bos, aku menyetujuinya. Tapi ingat jangan main-main denganku," ujar pria itu dengan senyum mengembang.
Harun membalas, dengan senyuman yang tidak bisa diartikan. Harun masih tidak rela dengan perjanjian itu. Perjanjian itu pastinya akan ia langgar, karena perjanjian itu akan ia jadikan sebagai ajang balas dendamnya secara perlahan.
"Kamu pikir aku percaya begitu saja. Aku akan mengawasimu dari jarak jauh. Kau akan ku simpan di sini sampai kau tidak pernah ingat dengan namamu sendiri. Jangan harap aku akan memberimu upah. Perbuatanmu itu tidak bisa dimaafkan walau sampai kapanpun. Uang tidak akan bisa membayar kegadisan Maya, yang seharusnya menjadi milikku," pikir Harun sembari melihat pria itu dengan tersenyum.
"Harun ... Harun, aku akan mengikuti permainanmu. Aku tau kau merencanakan sesuatu untukku. Tapi aku juga merencanakan sesuatu untukmu, istrimu yang cantik jelita, ibumu dan juragan Tohir. Aku akan menunggu saat-saat rencanaku berjalan lancar dan kemudian kau hanya akan jadi pecundang tak berguna yang akan dibuang oleh keluargamu sendiri. Aku akan sabar menunggu saat-saat kau bersujud memohon padaku," pikir Izal merasa menang walaupun pertempuran belum dimulai.
Kardi telah sampai saat mereka sudah menyelesaikan perjanjian yang sama-sama menguntungkan bagi mereka berdua. Harun dan Kardi pamit untuk pulang meninggalkan Izal sendirian di tengah perkebunan sawit.
Langit menampakkan wajahnya yang berkilauan berwarna jingga, Matahari sebentar lagi akan mulai tenggelam. Kardi mengendarai motor yang ia pakai tadi. Sedangkan Harun mengendarai mobilnya. mereka beringingan sampai jalanan aspal.
__ADS_1
Di tengah jalan menuju desa. Ban mobil yang Harun kendaari mengalami bocor. Sehingga ia harus berhenti. Kardi sudah jauh di depan ia tidak mendengar Harun berteriak memanggilnya berulang-ulang sampai suaranya serak.
Akhirnya Harun pasrah, kemudian mencoba menghubungi Kardi. Beberapa kali Harun menghubunginya, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Selaman sepuluh menit menunggu. Harun duduk di jalanan. Hari kian gelap, belum juga ada tanda-tanda bahwa Kardi akan datang. tiba-tiba Harun mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Harun ... kamu kenapa?" tanya seorang wanita cantik dan modis dari mobilnya. kemudian wanita itu berhenti dan menemui Harun.
"Kamu ... Kayla? Kayla anak pak Darmo?" tanya Harun mengingat wajah wanita yang berada di hadapannya. "Benarkah ini Kayla yang dulu sering aku ejek?" dalam hati Harun.
"Kamu cantik Kayla ... eh. Maksud aku ban mobilku bocor," jawab Harun gugup karena salah jawab. Harun merasa takjup dengan wanita yang bernama Kayla.
__ADS_1
-----
"Kemana sih Mas Harun? dari tadi tidak kelihatan, bikin aku cemas aja," pikir Maya sambil berjalan mondar mandir seperti setrika yang rusak.
Maya bosan sendirian, sedari tadi ia tidak punya teman ngobrol. Karena di rumah megah itu tidak ada orang lain. Hanya ada dirinya sendiri berteman bayangannya yang setia mengikuti kemana ia pergi.
Ibu Hindun sedang pergi mengikuti pengajian di mesjid. Sudah lama ia tidak pergi pengajian. Sedangkan juragan Tohir pergi ke kota, mengurus toko material bangunan yang sudah lama tidak dikunjungi.
Jadilah Maya sendirian, sebenarnya Hindun ingin mengajaknya ikut pengajian. Tapi karena Maya masih tertidur pulas, ia merasa kasihan untuk membangunkan menantunya itu. Lagi pula ia sedang hamil besar dan baru pulang dari kota pasti Maya merasa capek pikir Hindun waktu itu.
Untuk menghilangkan kebosanannya Maya membaca buku. Tapi tidak berhasil, malah pikirannya semakin suntuk. Akhirnya Maya memutuskan ke dapur. Membuat sesuatu untuk dimakan karena perutnya meminta untuk di isi.
__ADS_1
Maya memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri, karena bahan di lemari pendingin tidak ada stok makanan.
Bersambung~