Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Pembantu


__ADS_3

Di rumah besar ini hanya ada seorang pembantu, ia bertanggung jawab masalah kebersihan, mencuci dan memasak.


Bu Ponijah asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di keluarga juragan Tohir berhenti. Belum ada penggantinya, Bu Ponijah berhenti kerja karena ia sudah sepuh dan tidak sanggup mengurusi rumah ini.


Tidak ada yang memasak lagi, rumah berantakan, furnitur mahal dan mewah berdebu, rumput di taman depan mulai tumbuh, dan kolam hias sudah kotor banyak dedaunan kering berjatuhan di kolam.


Biasanya Kardi ikut membantu membersihkan bagian luar rumah, tapi karena sibuk di perkebunan, mengurusi banyak hal di sana, ia tidak sempat membantu.


Pakaian kotor sudah seperti gunung meletus, yang mengeluarkan lahar aroma menyesakkan dan bisa membuat siapa saja ingin muntah.


Maya berusaha membesihkan rumah sendirian, ternyata membersihkan rumah besar nan mewah itu cukup menguras tenaga, Hindun ibu Harun tidak terlihat setelah sarapan tadi.


Setelah menyelesaikan pertempuran melawan para pakaian yang aromanya menusuk hidung, Maya kelelahan dan terkapar. Ketika mencuci beberapa kali Maya harus rela kehilangan makanan yang ia makan saat sarapan tadi, Maya memilih beristirahat di kamarnya.


Juragan Tohir, Bapak mertua Maya dan Harun sudah pergi ke perkebunan, mereka akan membuka lahan kosong yang baru dibeli. Juragan Tohir sengaja mengajak Harun untuk memberitahu pada Harun batas-batas lahan yang baru dan sekaligus memasang Kayu patok sebagai penanda. Hal itu dilakukan agar lahan tidak dicuri, karena banyak terjadi pencurian lahan sedikit demi sedikit. Sebagai pemilik lahan Jurahan Tohir tidak mau ambil resiko, ia paling tidak suka apabila patok tanahnya berpindah walau hanya satu jengkal.


Rencananya lahan ini akan ditanami kelapa sawit. Karena tumbuhan ini tergolong mudah untuk dirawat, kelapa sawit atau yang biasa disebut sawit termasuk sejenis tumbuhan yang bisa tumbuh berpuluh tahun, sawit adalah bahan dasar dalam pembuatan minyak goreng. Warna ke emasan pada minyak goreng adalah Beka Karoten alami dari sawit.


Tok tok tok


"Maya ... Maya apa kamu di dalam?" ujar Hindun.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar hanya dengkuran halus yang terdengar.


Hindun mengetuk pintu kamar Maya, ia memegangi perutnya yang keroncongan. Pintu kamar belum juga dibuka membuat ia semakin jengkel dan mengetuk pintu lebih keras.

__ADS_1


"Maya buka pintunya ibu ingin bicara." Hindun berbicara setengah berteriak agar maya mendengarnya.


Maya yang baru saja terlelap kaget langsung terduduk di atas dipan, mengumpulkan ingatannya yang mulai melayang ke dunia mimpi, kemudian berjalan membukakan pintu.


"Iya ada apa Bu?" jawab Maya dengan menunduk tidak sanggup melihat mertuanya.


"Kamu gimana sih, dari tadi kerjanya cuma tidur, sana masak ibu sudah lapar," jawab Hindun ketus dan meninggalkan Maya yang mematung.


Sudah dua hari ini Maya merasa tidak enak badan, kepalanya berat dan selalu ingin muntah, makan sedikit muntah, bahkan minum air putih satu sendok bisa membuatnya muntah, begitu terus sampai pagi bertemu pagi lagi, yang membuat ia tak habis pikir adalah ketika memasak, biasanya aroma bawang yang digoreng sangat menggugah selera tapi sekarang aromanya tajam menusuk penciuman dan menimbulkan mual.


Saat ini sedang musim rambutan dan musim durian tak satupun yang ia inginkan, sudah beberapa hari ia menginginkan buah mangga muda. Membayangkan mangga muda saja salivanya seperti ingin menetes.


Uweeek Maya mual lagi saat memasak, Hindun yang sedang menonton televisi tidak bergeming, ia tertawa-tawa menikmati lelucon drama korea di layar besar yang menempel di dinding.


Hindun bukan tak mendengar menantunya yang mual, tapi ia beranggapan bahwa Maya hanya berpura-pura, agar tidak memasak karena malas. Ia kembali tertawa dan santai seperti di pantai dan slow seperti di pulau tidak menghiraukan Maya yang kesakitan.


"Ibu masakannya sudah siap. Aku ke kamar dulu ya bu badanku lemas aku mau istirahat," ujar Maya pada mertuanya. Hindun tidak menjawab hanya tangannya yang bergerak seperti mengusir.


Sakit hati Maya diperlakukan seperti itu, tapi ia mengingat pesan bapaknya agar tidak mudah tersinggung, ia berdamai dengan hatinya mencoba befikir positif, mungkin karena sedang asyik menonton mertuanya tidak sadar mengusir Maya seperti mengusir seorang pembantu. Karena sudah terbiasa seperti itu hingga ia tidak menyadari bahwa yang bicara padanya adalah menantunya sendiri.


Mungkin juga ia sedang tidak ingin diganggu karena sedang fokus mendengar obrolan di televisi yang menayangkan adegan menegangkan.


Kaki Maya gemetaran menelusuri anak tangga, ia memegangi pagar pembatas tertatih seperti anak kecil yang belajar berjalan.


Sesampainya di kamar Maya mengistirahatkan badannya yang lemas. Baru saja merebahkan tubuhnya Hindun kembali memanggilnya.

__ADS_1


"MAYA ... KESINI KAMU!" Teriak Hindun dari bawah seperti kesetanan, terdengar barang-barang yang dibanting.


Dengan tertatih Maya kembali ke bawah, Hindun menunggunya di meja makan, di atas meja makan terlihat makanan yang berserakan di mana-mana. Maya ketakutan air matanya menggenang, ia tahu bahwa ada  salah yang ia perbuat, dan sedang berada dalam masalah besar.


"Kamu ingin membunuhku ya? hah ... jawab?" napas Hindun naik turun karena amarah menguasainya. "Kamu sengaja kan ... kamu sengaja biar aku cepat mati?" matanya melotot kedua tangan terlipat di dada.


"Maksud ibu apa? ... Maya tidak mengerti maksud ibu, demi Tuhan Maya tidak pernah ingin membunuh siapapun." Maya terisak karena dituduh sekejam itu oleh mertuanya sendiri, bahunya bergetar menahan tangis.


"Maaf Bu, sungguh Maya tidak mengerti kenapa ibu menuduhku seperti itu, Maya sudah berusaha semampu Maya memasak untuk Ibu. Maafkan Maya kalau masakan Maya tidak enak," isak Maya meminta maaf.


Hindun tidak menjawab ia memalingkan wajahnya tidak percaya ucapan Maya, ia berfikiran bahwa menantunya memang ingin mengerjainya karena tidak ingin mengerjakan pekerjaan rumah yang melelahkan.


Maya meminta maaf pada mertunya padahal ia tidak tau sama sekali kesalahan yang ia perbuat. Ia meminta maaf pada wanita itu biar bagaimana pun wanita itu adalah orang yang melahirkan suaminya. Tanpa wanita itu Harun tidak akan ada di dunia ini.


Maya membersihkan makanan yang berserakan dengan sisa tenaganya, Hindun pergi begitu saja tanpa menjawab kesalahan yang Maya perbuat. Untuk ketiga kalinya ia ingin beristirahat, bantal yang empuk terasa basah akibat dijadikan pelampiasan menampung air mata yang tidak berhenti mengalir.


Harun sudah pulang dari perkebunan terdengar suara khas mobil yang biasa mereka gunakan ke perkebunan. Mobil dengan roda-roda besar, kalau di film biasanya digunakan para penjahat untuk menculik, atau merampok.


Lama Maya menunggu, tidak seperti biasanya Harun akan langsung masuk ke kamar dan membersihkan dirinya. Satu jam berlalu terdengar langkah seseorang, pintu dibuka kasar.


"Maya kenapa sih kamu seperti itu? kamu masih dendam pada ibu? ... ibu sudah memaafkan kamu? apa sih maunya kamu?" ujar harun Harun dengan nada marah yang tertahan. Ia masih menahan amarahnya.


Maya yang menyambut suaminya dengan senyuman berubah drastis, ia bingung dengan sikap Harun, kenapa tiba-tiba datang dan marah padanya? apa ibu sudah bercerita pada Harun? ia bertanya dalam hati.


Maya terdiam membiarkan suaminya megeluarkan amarah, ia menyiapkan jawaban agar kesalahpahaman antara ia dan mertuanya bisa diatasi.

__ADS_1


apa yang akan terjadi selanjutnya?


bersambung~


__ADS_2