
"Di dalam lemari pendingin kosong melompong, sepertinya ibu Hindun langsung ke kota sekalian belanja," pikir Maya sambil mengupas bawang merah, kemudian mengirisnya tipis-tipis, setelah itu Maya mengambil bawang putih menggeprek dan mengirisnya kembali seperti bawang merah.
Maya menumis bawang merah dan bawang putih, kemudian memasukkan nasi ke dalam wajan. Mengaduknya sampai tercampur semua terahir ia menambahkan garam, dan setelah itu mengaduknya kembali.
Maya akan memasak nasi goreng kampung yang hanya bermodalkan bawang merah, bawang putih dan garam. Walaupun Maya sudah pernah mencicipi nasi goreng yang biasa dijual di kota. Tetap saja Maya lebih menyukai nasi goreng kampung yang sederhana tapi tetap enak di lidah, selain itu makanan ini mengingatkan Maya pada Ibunya. Dahulu waktu dirinya masih Sekolah Dasar, sarapan andalannya adalah nasi goreng seperti ini.
Hari sudah gelap, tapi belum ada tanda-tanda seseorang yang pulang ke rumah. Maya menyantap makanannya sendirian, ia mengambil tempat di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi yang menurut Maya sudah seperti bioskop saja.
-----
"Kayla boleh aku minta tolong?" tanya Harun pada Kayla yang masih melihat ke arah ban mobilnya.
"Eh ... iya Harun, aku harus tolongin kamu ngapain?" jawab Kayla kemudian bertanya kembali.
"Tolong antar aku ke tambal ban! biar bannya bisa di perbaiki di sana," jawab Harun sambil menunjuk bannya yang bocor.
__ADS_1
"Tunggu ... kamu ikut aku," ajak Kayla menarik tangan Harun yang bengong, karena tidak mengerti maksud Kayla.
Mobil Kayla persis di depan mobil Harun, jaraknya berada sekitar tujuh meter. Kayla membawa Harun ke bagian belakang mobilnya. Kemudian Kayla membuka pintu belakang dan menunjukkan ban serap yang selalu ia bawa kemana-mana, untuk jaga-jaga apabila bannya bocor di jalan.
Harun mengambil ban serap Kayla kemudian ia memasang ban itu pada mobilnya, ternyata ban itu cocok ukurannya.
"Kay ... makasih ya, untung ada kamu jadi aku enggak bingung lagi mau pulang pake apa," ujar Harun pada Kayla yang sedari tadi memandangi Harun yang asyik memasang ban.
"Iya sama-sama, tapi ada syaratnya loh. Aku mau kamu melakukan seauatu untukku!" seru Kayla sembari memainkan matanya pada Harun.
"Kamu mau aku lakukan apa untukmu?" tanya Harun terpaksa, karena Kayla sudah menolongnya.
"Jangan takut gitu dong! aku cuma mau kamu temani aku makan aja. Aku laper nih!" seru Kayla tersenyum.
"Sumpah si Kayla yang dulu buluk banget kok bisa jadi cantik gini yah? ... wow senyumnya bikin aku gemes." Harun kembali kagum pada wanita yang dulu berkulit gelap, karena sengatan matahari. Sekarang kulitnya putih bersih ingin rasanya Harun memegangi kulit yang benar-benar seperti susu itu, apalagi senyumnya itu sungguh sangat manis mengalahkan manisnya madu, eh udah macam lagu aja yah.
__ADS_1
"Malah bengong, ayok dong Run. laper nih!" rajuk Kayla sambil menarik lengan kekar Harun yang baru saja membersihkan tangannya yang kotor.
"Eh, iya aku juga lapar," jawab Harun mengikuti Kayla, menurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
"Pakai mobilku aja yah? kita ke warung nasi goreng dekat pos itu yah!" pinta Kayla sambil masuk kedalam mobilnya.
Mobil Harun ditinggal di sana, mereka melaju menuju tempat yang Kayla sebutkan. Harun tak punya pilihan lain, ia mengikuti Kayla dan kebetulan juga perutnya merasa lapar.
"Kay ... nanti kamu antar aku langsung ke rumah aja yah biar kita gak bolak balik lagi. Aku telpon Kardi dulu biar dia yang jemput mobil." Harun mengambil telpon genggamnya.
Kayla mengangguk menyetujui, Harun menelpon menyuruh Kardi menjemput mobil. Ia beralasan sedang ada urusan penting dengan temannya, dan nanti temannya akan mengantar Harun kembali.
Sampai di warung nasi goreng, Harun dan Kayla duduk di pojok. Kayla duduk berhadapan dengan Harun. Selesai makan mereka berbincang mengingat waktu dulu Harun selalu mengejeknya buluk. Mereka tertawa mengingat masa itu. Dan sekarang Harun memuji kecantikan Kayla yang jauh berbanding dengan kata katanya dahulu.
Kayla memang sudah lama tidak pulang ke desa. Hari ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki ke daerahnya setelah lima tahun merantau di kota metropolitan.
__ADS_1
bersambung~