
Kayla memang sudah lama tidak pulang ke desa. Hari ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki ke daerahnya setelah lima tahun merantau di kota metropolitan.
Kayla dan Harun mengenang masa lalu mereka, rasa kagum tersemat di hati Harun diam-diam ia menikmati wajah itu. Begitu juga dengan Kayla ia masih menyimpan rasa cinta yang dulu pernah bersemi di hatinya. Walaupun dahulu ia di bully habis habisan oleh Harun dan teman temannya, tapi hal itu tidak memudarkan cintanya sama sekali.
Kayla menjadikan kata kata hinaan dan bullyan itu menjadi motivasinya agar lebih baik, dan ternyata ia berhasil.
Sebenarnya Kayla sudah tau Harun menikahi si Maya gadis bunga desa, ia mengenal Maya dengan baik. Rasa cintanya pada Harun membuat ia tidak menyianyiakan waktu bersama Harun.
Malah terpikir oleh Kayla untuk merebut pria tampan itu untuknya, apalagi ia melihat tatapan Harun yang dari tadi menikmati kecantikannya. Kecantikan yang ia dapatkan setelah bekerja keras mencari uang agar bisa perawatan salon mahal yang rutin ia lakukan.
"Harun ... boleh enggak aku bicara seauatu padamu? tapi jangan di sini?" tanya Kayla dengan nada serius sambil menggenggam jemari Harun.
"Tentu saja boleh, jadi kita kemana sekarang?" jawab Harun dan bertanya lagi setelahnya.
"Kita ngobrol di mobil aja yah?" pinta Kayla, kemudian ia berdiri dan Harun mengikutinya ke mobil.
Di dalam mobil Kayla masih terdiam membuat Harun penasaran, "Kay ... kamu mau ngomong apa?" tanya Harun karena sudah beberapa menit mereka diam membisu.
__ADS_1
"Run ... sebenarnya aku suka sama kamu. Dari dulu aku sudah cinta sama kamu. Aku enggak butuh jawaban sekarang, aku akan nunggu kamu siap untuk jawab." Kayla menyatakan cinta pada Harun. Setelah memendamnya bertahun lamanya.
"Kay ... aku ...." Ucapan Harun terpotong.
"Aku dah bilang aku enggak butuh jawaban sekarang, kamu bisa jawab kapan kamu mau. Aku akan tunggu waktu itu tiba." Kayla menunduk menahan tangis, karena ia tahu bahwa Harun akan menolaknya.
Suasana hening kembali menyelimuti dua insan yang berada di dalam kuda besi model terbaru itu. Tiba-tiba hujan deras turun begitu saja seperti hati gadis cantik yang berada di belakang stir berwarna krim itu.
"Aku enggak mungkin menghianati istriku yang sedang mengandung, aku mencintai Maya, ia mengandung bayi yang entah itu benihku atau benih milik Izal. Ia harus merasakan luka yang sangat dalam itu karena ulahku. Aku tidak bisa menghianatinya, aku bersalah padanya. Aku hanya mampu mengobatinya sebisaku." Pikiran Harun mengingat istrinya.
Cahaya putih menghiasi jalanan. Duaaaaar, suara petir menggelegar. Kayla menjerit spontan memeluk lengan Harun. Harun balas memeluk gadis itu, seperti biasa saat Maya ketakutan ia akan memeluk gadis itu.
Berbeda dengan tubuhnya yang menginginkan adegan itu terulang kembali, begitu juga dengan Kayla, ia berharap petir itu datang lagi agar ia bisa merasakan kehangatan dari pria yang selama ini selalu menjadi motivasinya.
Duuuuuaaar.
Suara petir kembali terulang, kali ini lebih keras dari sebelumnya, Kayla memeluk Harun kembali. Tuhan mengabulkan permintaannya, Harun memeluknya kembali dan kali ini pelukan itu makin erat dari sebelumnya. Harun tidak bisa mengendalikan lagi rasa yang menggelora begitu juga dengan Kayla mereka seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
__ADS_1
------
Di sisi lain Maya yang baru saja selesai makan, berniat ingin mencuci piring yang ia gunakan.
Duuuuaaaar.
Maya terkejut, ia hampir saja melepaskan piring di tangannya.
Duuuuuuaaaaar.
Kali ini suara petir yang lebih keras, membuat Maya tidak sadar melepaskan piring di genggamannya.
"Ya Tuhan kenapa tiba-tiba aku merasa tidak enak. Apa yang terjadi. Semoga Mas Harun baik-baik saja." Maya bergumam sembari memunguti pecahan beling.
"Aaauuu ...Tanganku berdarah," lirih Maya sambil mengambil beling yang tertancap indah di telunjuknya.
"Ya tuhan, pertanda apakah ini?" gumam Maya, perasaannya tidak enak seperti separuh jiwanya pergi.
__ADS_1
bersambung~