
Pagi ini Maya dan Harun sedang duduk di teras depan rumah, yang menghadap langsung pada taman bunga. Mereka bercengkrama dan saling tertawa, rona bahagia terpancar ciri khas pengantin baru.
Dari kejauhan tampak Kardi mendekati mereka. Ia tersenyum melihat kemesraan pengantin baru itu.
"Bos senang bangat nampaknya? gak kayak kemaren uring-uringan terus. Pasti tadi malam dapat rezeki nomplok makanya senang gitu?" goda Kardi.
"Kenapa sih kamu gangguin terus." Harun yang digoda tampak tidak senang. "Memang kenapa kalau aku dapat rezeki nomplok? makanya kamu juga nikah biar dapat rezeki nomplok setiap malam," jawab Harun merasa menang.
"Bos tau sendiri kalau aku enggak punya pacar, apalagi calon istri. Itulah derita pria setengah tampan sepertiku. Sebenarnya banyak wanita cantik di desa ini. Tapi satupun tidak ada yang mau padaku, hiks hiks" keluh Kardi sambil mengusap air hidungnya yang mulai menetes.
Maya dan Harun bukannya kasihan malah tertawa mendengar ocehan Kardi yang tengah meratapi nasibnya terlahir setengah tampan atau setengah ganteng.
"Bos ... kata bos besar kita berangkat ke perkebunan hari ini!" Ujar Kardi mengganti topik pembicaraan.
"Kamu aja yang kesana!" jawab Harun acuh. Dia tidak ingin pergi kemana-mana karena ia ingin bersama Maya.
"Jangan gitu Bos, nanti aku kena marah sama bos besar, ini juga perintah dari bos besar. Beliau tidak bisa kemana-mana. Bos besar lagi kurang enak badan." Kardi masih mencoba mengajak Harun agar ikut bersamanya ke perkebunan.
Harun terpaksa ikut serta ke perkebunan, karena pada saat panen para pekerja harus diawasi. Jika Bapaknya tidak bisa ke perkebunan Harun yang menggantikan tugas beliau.
Keluaga Harun adalah pemilik perkebunan sawit terbesar di wilayahnya, selain sawit mereka juga memiliki beberapa hektar kebun karet di sekitar desa.
Setelah kepergian Harun dan Kardi, Maya tertarik melihat bunga dalam pot mewah yang di tumbuhi bunga mawar berwarna merah.
Bermacam-macam bunga yang ada di sana semuanya terawat. Tampak dari daunnya yang segar batang yang kokoh tidak ada rumput yang tumbuh di dalam pot cantik itu.
__ADS_1
Maya berjalan ke arah barisan anggrek yang sengaja digantung setinggi tubuh orang dewasa, Maya memegang bunganya. Bunga itu dipetik dan dicium Maya mengirup aroma angrek.
"Dasar gadis bodoh, tidak tau diri. Kamu tau enggak itu bunga mahal? aku bersusah payah memeliharanya. Dengan mudahnya kamu petik bungaku yang mahal." Teriak Hindun mertua Maya, ia marah melihat bunganya dipetik.
"Kamu tau berapa harga bunga ini? harganya ratusan juta, bunga ini lebih berharga dari pada harga kamu dan keluargamu ... bertahun-tahun aku merawat bunga ini, bertahun-tahun menunggu berbunga." Hindun marah berteriak bagai kesetanan melihat bunganya dipetik.
"Maaf Bu, aku tidak tau. Aku tidak akan mengulanginya lagi," sahut maya ketakutan matanya mulai basah. Seumur hidupnya ia tidak pernah diteriaki dan dihina serendah itu. Orang tuanya mengajarkan Maya dengan lemah lembut walaupun ia melakukan kesalahan.
"Entah apa yang ada dipikiran Harun, kenapa mau menikahi gadis bodoh seperti kamu? padahal anak juragan Bonar lebih cantik daripada kamu. Dia Berpendidikan, berkelas, keluarganya kaya dan terpandang." Mertua Maya masuk kerumah menghentak- hentakkan kakinya dengan kasar, meninggalkan Maya yang menangis tersedu-sedu.
-----
Pulang dari perkebunan Harun menemukan Maya masih menangis ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, hidung memerah dan mata yang sembab, Harun mendesaknya agar tidak ada rahasia diantara mereka, setelah tenang Maya menceritakan semua pada Harun, berharap Harun memahaminya.
Harun menenangkan istrinya yang sedari tadi bersedih. Ia memeluk dan mengusap kepala gadis berambut panjang itu kemudian menghapus sisa kesedihan pada wajah Maya.
"Aku akan bicara pada ibu, kamu di sini saja aku akan menemuinya," ujar Harun berlalu meninggalkan Maya.
Terdengar keributan dari bawah, Maya tidak berani turun. Ia terduduk di belakang pintu yang terbuka sedikit. Maya mendengar percakapan suami dan mertuanya itu.
"Semenjak kamu kenal gadis itu kamu enggak bisa diatur lagi Harun, kamu selalu melawan ibu, kenapa kamu menikahi gadis pembawa sial itu?" Teriak Ibu mertua Maya.
"Ibu jangan keras-keras nanti Maya mendengar ucapan ibu," ucap Harun pelan.
"Biar saja dia dengar, gadis itu memang pembawa sial. Setelah dia tinggal di rumah ini, usaha kita banyak yang rugi, hasil perkebunan juga turun. Ini pasti karena gadis itu membawa sial ke rumah ini." Menatap ke lantai dua dan berbicara lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu tolonglah maafkan Maya, ia sungguh tidak tau sama sekali tentang bunga itu. Aku juga akan melakukan hal yang sama ibu, karena tidak tahu menahu tentang bunga .... Ibu kumohon jangan katakan Maya seperti itu jangan sakiti hati Maya, aku mencintainya, jika Maya sakit aku juga akan merasakan sakit," jawab Harun lembut.
"Oh, jadi kamu lebih mencintai maya daripada ibumu sendiri? kamu lebih memilih gadis itu daripada ibu yang susah payah membesarkan kamu, kamu tau bagaimana sakitnya Ibu sewaktu merawat kamu? hah .... Kamu memang sudah besar sudah bisa melakukan apapun yang kamu mau." Tangisnya pecah.
"Tidak ibu Aku juga mencintaimu, aku sayang sama ibu, aku akan selalu berbakti pada ibu. Aku tidak bisa membandingkan ibu dengan Maya. Tapi tolonglah ibu berbaikanlah dengan Maya, dia istriku. Dia adalah calon ibu dari anak-anakku. Aku tak ingin kalian berdua seperti ini. Kalian adalah dua wanita yang paling kucintai dan kusayangi aku tidak bisa melihat wanita yang kucintai menderita." Harun memegangi tangan ibunya. "Ibu kau lah yang melahirkanku, membesarkanku, mendidikku hingga aku seperti sekarang. Aku tidak akan mampu membalasnya sekalipun dengan nyawaku. Ibu kau lah cinta pertamaku dan Maya adalah cinta terakhirku ia adalah ibu dari cucumu." Harun mencium tangan ibunya dan kemudian Harun memeluk ibunya dengan kasih sayang.
Suami istri memang sepatutnya menjaga, saling membela, mengerti kekurangan pasangannya. Apabila seorang istri sedang bersedih suami menjadi penghibur agar kesedihan itu pergi, apabila istri dihina maka suami membela begitupun sebaliknya. Suami istri juga harus satu prinsip dalam mengatur rumah tangga agar keharmonisan timbul dengan sendirinya.
-----
"Bau apa ini." Maya berbicara pada dirinya sendiri. berlari sambil menutup mulutnya takut sesuatu akan tertumpah kelantai.
uweeeek ... uweeek Maya muntah di kamar mandi, badannya lemas setelah mengeluarkan cairan berwana kuning terasa pahit di lidah.
"Kenapa tiba-tiba aku muntah dan kepala berat ya? mungkin masuk angin." Maya bermonolog.
____
Maya mengusapkan minyak angin di kepala pundak lutut kaki lutut kaki
mata telinga mulut hidung dan pipi kepala pundak lutut kaki. bacanya pasti sambil nyanyi iyakan?
____
Maya mengambil minyak kayu putih berlogo seekor ayam jantan, kemudian mengusapkan di sebelah alis, pundak, dan perutnya. Setelah itu menghirup dalam-dalam aroma minyak kayu putih untuk mengurangi mual yang masih terasa.
__ADS_1
bersambung ~