
Semenjak mereka mengetahui bahwa Maya hamil. Harun belum pernah sekalipun memegang perut istrinya itu, Tidak seperti pasangan pada umumnya, sang suami ikut serta mengelus dan berbincang dengan janin yang ada di dalam perut.
Harun memang sudah lama tidak melihat tubuh Maya secara langsung, ia takut jika ia mendekati Maya dirinya tidak sanggup untuk menahan rasa.
"Hallo Dedek bayi ini bapak, kamu lagi ngapain di dalam?" ujar Harun berbicara pada perut Maya. Yang punya perut tertawa senang dan merasa lucu dengan pertanyaan yang di ajukan calon ayah pada janin yang masih di dalam perut.
"Aku lagi bobok siang pak," jawab Maya menirukan suara bayi, ia membelai rambut hitam pekat suaminya yang sudah mulai panjang itu.
"May ... perut kamu kok bergerak," ujar Harun panik jangan-jangan ada yang usil dengan bayinya di dalam sana, "Dedek bayi jangan takut ada bapak di sini, kalau ada yang macam-macam di sana kasih *** bapak ya dek.
__ADS_1
"Ih Mas ... bayinya gak kenapa-kenapa Mas dia cuma bergerak, mungkin itu respon dedek bayi karena baru pertama dengar suara bapaknya langsung. Mas harus lebih sering ajak dia ngobrol yah?" pinta Maya.
"Iya sayang, apa dia tidak kesempitan di dalam sana? dedek kamu sakit enggak di dalam?" Kemudian Harun menempelkan telinganya di perut Maya. Ada rasa bahagia dalam hatinya.
Maya tertawa mendengar ocehan Harun yang kawatir bayinya merasa kesempitan di dalam perutnya itu. "Terus kalau bayinya kesempitan gimana dong Mas?" tanya Maya menguji Harun yang masih asik dengan bagian tubuhnya itu.
Harun mengangkat wajahnya menatap Maya yang bertanya dengan wajah yang dibuat-buat seperti cemas. "Kamu gak takut bayinya kenapa-napa May," ujar Harun balik bertanya.
"Mas, kita makan dulu yah sebelum pulang, aku lapar. Dua bulan ini rasanya nafsu makanku naik drastis, setiap sebentar aku merasa lapar saja," pinta Maya tidak sabar.
__ADS_1
Melihat istrinya yang merajuk Harun tertawa, "Iya sayang, makin hari kamu makin seksi aja," jawab Harun gemes kemudian ia mencubit hidung mungil Maya dan meninggalkan bekas merah di sana.
Mereka singgah di rumah makan khas padang, berbagai lauk pauk terletak di meja Maya dan Harun, mereka menikmati hidangan yang menggugah selera itu. Rendang makanan kesukaan Maya juga ada, Harun sudah selesai makan tapi Maya masih menambah nasi dan lauk lain, Ia makan seperti melampiaskan rasa lapar berbulan-bulan lamanya.
Sesampainya di rumah Maya langsung masuk ke kamarnya ia terkapar karena kekenyangan.
"Ini kesempatanku untuk mengurus pria itu, Aku harus menyuruh pria itu pergi, kalau dia tidak mau aku akan membungkamnya selama-lamanya." Harun bergumam setelah itu ia segera pergi mengendarai mobilnya.
"Maya maafkan aku membuatmu harus merasakan trauma mendalam, ketahuilah Maya aku melakukan itu semua karena rasa cintaku padamu. Waktu itu aku tidak tau lagi harus melakukan apalagi agar kau mau menerimaku.
__ADS_1
bersambung~