
Setelah berkeliling mencari Kardi. Akhirnya Harun mendapat informasi bahwa Kardi sedang di perkebunan. Harun menyusul Kardi ke perkebunan.
"Aku harus menemui Kardi. Aku akan menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi pagi di dekat pagar. Aku tak mau jika Maya sempat mengetahui kejadian itu. Walaupun sebenarnya aku terlibat dalam penculikan itu," desah Harun menyesali perbuatannya yang ceroboh.
"Ya Allah aku memang bersalah. Aku memohon ampun padamu. Aku melakukan semua ini karena rasa cintaku pada Maya, aku ingin memilikinya secara utuh sebagai istriku. Maya maafkan aku yang egois ini," desah Harun kembali.
Sampai di suatu persimpangan Harun mengambil jalur ke kanan, dari simpang inilah menuju perkebunan mereka yang luas. Di sana akan di temui pohon sawit yang menghampar luas. Pohon sawit yang sudah sepuluh meter itu sudah bisa di panen.
Biasanya kelapa sawit bisa tumbuh sampai usia rata-rata 20 – 25 tahun. Tiga tahun pertama, buah sawit akan disebut kelapa sawit muda. Disebut seperti itu karena belum bisa menghasilkan buah secara optimal. Pada usia 4 hingga 6 tahun,sawit-sawit ini akan mulai berbuah. Dan pada usia 7 sampai 10 tahun buahnya akan matang.
Lima belas menit melewati hamparan kelapa sawit. Harun sampai di sebuah dangau yang lumayan besar. Bangunan ini bukan lagi seperti bangunan dangau kebanyakan. Dangau ini sudah mirip seperti rumah penduduk, bangunannya unik berlantai dua. Di lantai dua lah ke unikan bangunan tersebut. Karena lantai satu hanya ada bangku dan meja sederhana yang terbuat dari kayu. Di sebelahnya ada sebuah ruangan khusus untuk memasak dan sisanya dibiarkan kosong melompong, yang di beri pagar kayu yang dipahat khusus berbentuk bulat dan diberi cat pernis. Di lantai dua jendelanya terbuat dari kaca berukuran besar. Terdapat dua jendela di sisi kanan dan kiri pintu. Di dalamnya terdapat tempat tidur sederhana di teras terdapat dua bangku dan di tengahnya sebuah meja kecil. Dari lantai dua akan terlihat pemandangan yang indah. Karena dangau ini sengaja di buat di tempat tinggi.
__ADS_1
Harun tak melihat siapapun di sana, tetapi ada kendaraan yang terparkir tepat di samping dangau. Kemudian Harun mengeluarkan Hp dan menghungungi seaeorang.
[Ada apa bos?]Seseorang berbicara di balik telepon.
[Kardi kamu dimana? aku tunggu kamu di dangau!]
[Iya Bos, aku segera kesana]
[Jangan lama!]
Harun menutup telpon dan naik ke lantai dua. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Harun ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Tubuhnya lelah diguncang mobil karena melewati jalan berlubang dan curam, selama di perjalanan menuju ke perkebunan ini.
__ADS_1
Selama sepuluh menit akhirnya Kardi datang dan langsung menuju lantai dua tempat favorit bosnya itu. Ia melihat bosnya yang sedang memegangi kepala.
"Bos, ada apa? sepertinya serius. Sampe datang kesini." Kardi tidak berani bergurau seperti biasanya. Karena bosnya kelihatan banyak pikiran.
"Aku ingin bertanya seauatu padamu," ujar Harun. Kemudian ia berjalan menuju teras dan menghempaskan tubuhnya pada kursi santai yang terbuat dari kayu.
Kardi mengikuti sahabat sekaligus bosnya itu dan melakukan hal yang sama. Ia pun duduk di kursi sebelahnya.
"Tadi pagi aku melihatmu berbicara dengan seseorang berbadan tegap. Pria itu bersandar di pagar rumah, apakah kau mengenalinya?" tanya Harun.
"Oh itu bos, dia menanyakan pekerjaan padaku. Kebetulan kita butuh pekerja untuk menjaga kebun ini, jadi aku membawanya kesini," jawab Harun datar.
__ADS_1
"Oh begitu," balas Harun. "Bagaimana caraku menghukum dan membungkam pria itu. Agar dia tidak membocorkan rahasiaku. Apakah aku harus melaporkannya pada polisi?" pikirannya berdebat.
bersambung~