Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Pernikahan


__ADS_3

Maya tidak mampu berbuat apa-apa selain menangis dan berteriak meminta pertolongan, walaupun harapannya akan sia-sia.


Pria itu tidak memperdulikan teriakan dan tangisannya sama sekali.


"Teruslah berteriak gadis cantik, tidak ada yang akan mendengarmu di tengah hutan ini, saran untukmu simpan saja tenagamu agar kau menikmati malam ini berdua denganku." Pria itu tertawa menyeramkan, berhasil membuat Maya semakin ketakutan.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Maya masih dengan tangisan dan air mata yang tidak berhenti mengalir.


"Aku menginginkan semuanya, lihat dirimu siapa yang tidak tergiur untuk menikmatinya? semua yang di inginkan pria ada padamu sayang," jawab pria itu dengan nada suara dilembut-lembutkan.


Maya meludah tepat mengenai wajah pria itu, "Jangan berharap, aku tidak sudi memberikannya padamu!" teriak Maya.


Plaaak ... sebuah pukulan mendarat di pipi Maya.


Maya memegangi pipinya dan kembali meludah pada pria itu, "Cuiiiih, kamu tak punya hati pantas untuk diludahi." Bengis Maya.


Pria itu semakin marah dan kembali memukul Maya dengan pukulan yang lebih keras. Pukulan itu membuat Maya tidak sadarkan diri, pria itu kemudian membuka topengnya dan tersenyum puas.


"Ini lebih baik, agar aku lebih mudah melanjutkan urusan kita yang belum selesai." Pria itu membawanya pergi ke sebuah gubuk tidak jauh dari hutan.


-----


Sementara di rumah Maya nampak kegundahan dari kedua oranga tua Maya.


"Hari mulai gelap Maya belum pulang?" bertanya cemas, "Makanya Bapak jangan terlalu memanjakan anak, begini kan jadinya?" sungut Narti. Narti ibu Maya berjalan menuju pintu melihat keluar rumah dan menatap ujung jalan, tampak kegelisahan di wajahnya.


"Sudahlah bu! kita jangan saling menyalahkan, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya kamu tanya tetangga! barang kali mereka mengetahui keberadaan Maya," jawab Karyo. Bapak Maya menenangkan istrinya.


"Iya pak. Ibu tanya tetangga dulu mungkin dia tau Maya kemana?" bergegas menuju rumah tetanggany.


Tapi berbalik lagi, "Pak, Ibu ingat tadi waktu Maya pergi, ibu sempat lihat Harun ngikutin dari belakang, apa sebaiknya kita tanya Harun ya pak?" ajak Narti pada suaminya.


Mereka berdua menuju rumah Harun, rumah terbesar dan mewah di desa, hanya rumah itu yang memiliki pagar dilengkapi taman bunga dan air mancur buatan.


"Om, Tante, ada apa malam-malam ke rumah Harun," Ujar Kardi. Kardi adalah sahabat Harun, sedari kecil Ia sering menginap di rumah Harun.


"Aku tau. Om, Tante pasti cari aku kan? pria paling tampan, lucu, imut dan gemesin di alam semesta." Ujar Kardi bejalan meniru model luar negeri yang memakai baju sobekan dimana-mana sambil membawa keranjang seolah-olah ia sedang membawa tas branded.


"Kardi, rupanya kamu? ada Harun tidak?" tanya Karyo.


"Harun? ... Harun belum pulang Om," jawab Karyo cepat.

__ADS_1


"Memang kenapa Om?" tanya Kardi kemudian.


Terdengar suara kendaraan mendekat ke arah mereka.Samar-samar terlihat orang yang dicari.


Harun yang mengendarai motor berhenti dengan wajah bertanya-tanya.


"Om, Tante, ada apa malam-malam begini?" tanya Harun penasaran.


"Begini Harun. Om dan tantemu mau bertanya sama kamu, kami sedang mencari Maya, apa kamu tau Maya ada dimana?" tanya Karyo pada Harun.


"Aku kurang tau Om! tadi waktu aku ngikutin Maya. Ia pergi ke arah rumah Rara," jawab Harun.


"Ya sudah, Om cari kerumah Rara dulu. mudah-mudahan Maya di sana, tapi ... tolong bantu Om cari Maya?" pinta karyo pada Harun.


Harun dan Kardi mengangguk mengiyakan.


Tiba di rumah Rara, Narti buru-buru masuk menanyakan Maya pada Rara yang sedang duduk di ruang tamu. Dengan cepat Ia kembali ke suaminya dengan raut wajah khawatir.


"Maya tidak ada pak!" air mata Narti tidak bisa ditahan lagi. Mereka kembali kerumah membawa hati yang tidak menentu pikiran buruk menghiasinya.


-----


Aku membuka mata, melihat sekeliling seraya memegangi kepala yang berat ternyata aku berada di tepi jalan, hari sudah berganti. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, terutama dibagian sensitifku. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, aku menangis merutuki nasib, menyesali kebodohanku tidak mengingat nasehat bapak untuk ingat waktu.


Kenapa aku ada disini? apakah pria itu telah menodaiku? oh tidak mungkin air mataku menetes lagi ... apa yang terjadi denganku? ... aku tidak mengingat apapun? ... Banyak pertanyaan yang ingin ku ungkapkan namun pada siapa? Tuhan kenapa? kenapa kau berikan cobaan ini padaku? ... apa salahku? kenapa rasanya perih di bagian sensitifku?


Aku menutup mulutku sendiri, apa aku tak suci lagi? aku kotor, aku benci diriku aku tak sanggup hidup lagi. Lebih baik aku mati saja. Apa gunanya aku hidup? ... tidak akan ada orang yang mau menikahi gadis sepertiku. aku menangis berteriak-teriak mendapati keadaanku yang begitu menyedihkan, pikiran buruk membisikiku untuk mati saja, dengan tertatih aku melangkah menyeret dan memaksa kakiku berjalan, aku melihat tali dan pikiranku kembali menyuruh untuk mengikatnya di sebuah pohon, pohon yang tidak terlalu tinggi aku bisa menaiki batu yang ada di bawahnya setelah itu melompat, ya benar tali ini bisa aku gunakan untuk bunuh diri. Selamat tinggal dunia.


Ibu, Bapak maafkan aku, aku tidak sanggup melanjutkan hidupku yang kotor ini, maafkan aku yang belum bisa menjadi seorang gadis yang bisa menjaga kesuciannya, maafkan aku.


"Berhenti ... jangan," teriak seseorang.


-----


"Berhenti May ... Aku mohon jangan lakukan itu," ujar Harun sambil berlari ke arah Maya, menghentikan Maya yang sedang memasukkan kepala pada tali yang sudah terikat pada cabang pohon nangka. Mereka jatuh terjerembab ke tanah.


"Biarkan aku mati Harun, aku tidak berguna, aku tidak pantas hidup Harun, Aku kotor," isak Maya.


"Tidak Maya, jangan lakukan itu! kami mencarimu dari tadi malam. Akhirnya aku menemukanmu di sini, katakan padaku apa yang terjadi?" tanya harun dengan lembut agar Maya melupakan niatnya.


Maya masih menangis, mulutnya terkunci tak mampu untuk berkata-kata. Harun membawa Maya pulang kerumah.

__ADS_1


-----


"Maya, katakan Nak. Apa yang terjadi?" Narti mendekati putrinya, setelah ia membantu membersihkan badan Maya dan memakaikan bajunya.


Air mata Maya menetes lagi untuk kesekian kalinya. Maya menangis setiap ditanyakan apa yang terjadi.


"Jawab Maya jangan buat ibu takut nak!" desak Narti sambil menahan tangis, tapi ia tidak berhasil menyembunyikan kesedihannya.


"Ibu, Aku lebih baik mati, biarkan aku mati, aku tidak ingin hidup lagi," tangis Maya pecah.


"Jangan lakukan itu Maya, Ibu mohon jangan lakukan itu ... Ibu akan selalu bersamamu, apapun itu ibu akan membelamu," ujar Narti. seraya memegang tangan Maya.


Maya menceritakan kejadian yang ia ingat. Dengan air mata yang tiada henti membuat mata indah itu berubah sembab. Mereka menangis sambil berpelukan. Karyo yang mendengar dari balik pintu kamar, menjadi sesak. Tangis yang sedari tadi ia tahan membuat dadanya sesak. Air matanya mengalir tapi tidak bersuara, seorang bapak harus tegar itulah yang coba ia buktikan.


Narti keluar dari kamar setelah Maya tertidur karena kelelahan menangis, Karyo menarik tangan istrinya menuju ruang tamu menjauh agar tidak mengganggu Maya banyak hal yang ia rencanakan untuk putrinya.


"Bu, aku sudah dengar pembicaraan kalian. Kita harus menikahkan Maya secepatnya. jangan sampai orang-orang tau kalau Maya sudah tidak suci lagi." Karyo berbicara dengan nada pelan hampir tidak terdengar.


Mereka berdua tidak menyadari bahwa seseorang datang.


"Aku akan menikahi Maya, aku siap Om, Tante," ujar Harun. Kedua orang tua Maya terkejut. "Maaf, kalau aku lancang, Aku sudah mendengar rencana Om, dan Tante," lanjut Harun dengan tatapan serius.


Narti dan Karyo saling berpandangan, "Baiklah Nak Harun, tapi ... apakah orang tuamu akan setuju?" tanya Karyo. Walaupun ia ragu dengan pria di hadapannya itu.


"Mereka akan setuju. Om dan tante tidak usah takut, nanti malam aku akan datang bersama orang tuaku untuk melamar Maya," ujar Harun setelah itu ia pun pamit untuk memberitahu orang tuanya.


-----


"Tidak Harun, kamu tidak akan pernah menikahi gadis itu! anak juragan Bonar lebih cocok untukmu!" Hindun ibunya Harun marah ketika mendengar putranya akan menikahi gadis biasa.


"Ibu, Aku akan menikah hanya dengan Maya, jika tidak, lebih baik aku tidak akan menikah sama sekali," tawar Harun dengan nada ancaman.


Hindun sangat mengenal putranya, sedari kecil semua permintaanya harus dituruti. Jika tidak Harun akan nekat melakukan hal di luar dugaan semua orang.


Hari yang ditentukan akhirnya datang. Semua persiapan telah sempurna, hidangan yang lezat terletak di meja panjanh, tenda-tenda yang mewah dengan warna indah, para tamu berkumpul, pengantin pria dan wanita di sandingkan sinar bahagia menghiasi wajah pengantin.


"Saya terima nikah Rimaya sari binti karyono dengan mahar seperangkat alat sholat tunai." Harun membaca ijab kabul dengan lancar.


"Sah." Para tamu menjawab sah dengan kompak, setelah itu mereka mengangkat tangan.


Doa-doa dilantunkan, para tamu memberi selamat, semua bersuka ria.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2