Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Pendarahan


__ADS_3

Harun menenangkan dirinya, kemudian ia ke kamar mandi menyegarkan tubuh dan pikiran yang lelah.


Setelah suaminya selesai mandi, Maya mendekat ingin menjelaskan yang terjadi, "Mas, sebenarnya aku tidak tau apa kesalahanku, aku sudah mencoba ... agar baik di mata ibu, aku mencuci pakaian dan membersihkan rumah," ujar Maya. Sambil mendekat membantu suaminya yang sedang mengacing kemeja.


"Kamu tak tau kesalahanmu? atau kamu pura-pura tidak tau?" Harun menepis tangan Maya.


"Sumpah demi Tuhan Mas, aku benar-benar tidak tau kenapa ibu menumpahkan masakan dan mengatakan fitnah seperti itu padaku," ujar Maya memelas.


"Jangan bawa nama Tuhan Maya, kamu jangan berbohong atas nama Tuhan, jujur saja padaku akui kesalahanmu agar semua masalah selesai," jawab Harun geram karena Maya masih saja tidak mau mengakui kesalahannya.


Pertengakaran tidak dapat dihindarkan lagi, Maya dan Harun memanas, Harun tidak menyanga gadis pujaan hatinya memiliki niat mencelakai ibunya sendiri.


Harun tidak habis pikir padahal masalah kemaren sudah selesai. Maya dan ibunya sudah saling memaafkan, saat bunga angrek kesayangan ibunya dipetik oleh Maya. Ibunya sudah meminta maaf meski harus menderita kerugian kehilangan bunga yang paling ia sayang. Bunga itu adalah bunga langka yang ia pesan dari sahabatnya di Malaysia.


Pada waktu itu juga, Maya sudah meminta maaf, atas kesalahannya telah sembarangan dan ceroboh tanpa mengetahui bahwa ia sudah merugikan orang lain.


Apa yang Maya inginkan sebenarnya? kenapa Maya seperti itu? harun bertanya-tanya dalam hati.


Harun terdiam memilih duduk di balkon untuk mengurangi sesak akibat amarah yang ia coba tahan sedari tadi.


Sedangkan Maya duduk tak bergeming di depan meja rias, dahulu sewaktu pertama masuk ke rumah ini, meja rias ini adalah tempat pavorit Maya. Ia tahan belama-lama di depan benda yang dapat memantulkan kecantikannya. Tapi sekarang benda itu seperti menertawakan Maya yang tidak pandai mengambil hati mertuanya.


Rumah megah nan luas bak istana ini terasa seperti bangunan kosong, kasur empuk tak lagi nyaman untuk terlelap, taman bunga tak lagi indah dirasakan oleh Maya. Ia seumpama burung dalam sangkar emas, hidup dalam rumah mewah, tapi di hatinya tak ada kemewahan sedikitpun.


Orang mungkin berfikir bahwa Maya adalah gadis beruntung. Hidup enak dan terjamin dinikahi anak juragan Tohir yang kaya raya, ia tinggal di rumah mewah tidak perlu menyewa rumah seperti kebanyakan teman-temannya yang sudah menikah, mertuanya memiliki kebun luas dimana-mana dan pasti akan menjadi milik Harun dan dirinya, karena Harun anak tunggal, suaminya tampan tak diragukan lagi.

__ADS_1


Harun masih mendiamkan Maya bibirnya terkunci tidak ingin berbicara dan mendengarkan penuturan Maya. Setiap bertemu dengan Maya ia memalingkan mukanya, tidurpun membelakangi semakin membuat Maya tak tahan lagi.


Pagi ini Maya ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya yang masih belum genap satu bulan satu minggu.


"Mas tolong jangan seperti ini!" Maya menghentikan langkah Harun yang hendak keluar dari kamar.


Harun terdiam kemudian melepaskan tangan Maya yang mencengkram lengan baju yang ia kenakan. "Kamu yang buat aku seperti ini Maya," ujar Harun sambil membuka pintu, ia berbicara tanpa menoleh kepada Maya sedikitpun.


Maya mengikuti suaminya, "Mas, aku tidak tau kenapa aku dituduh seperti itu. Katakan padaku, apa kesalahanku? agar aku bisa memperbaiki kesalahanku." Maya berbicara terdengar suaranya purau.


Harun masih terus berjalan tidak ingin menjawab pertanyaan yang berulang kali diutarakan istrinya, ia tidak ingin mendengar alasan Maya.


Tiba-tiba terdengar seauatu benda yang terjatuh, ia tidak melihat Maya di belakangnya.


"Maya ...." Harun berteriak melihat keadaan Maya yang tergeletak di lantai. ia mengangkat Maya ketempat tidur.


Dalam keadaan lemah Maya masih ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi, akhirnya ia tidak sadarkan diri, Maya pingsan.


"May ... Maya buka matamu, kalau kamu memang tak mengetahui kesalahanmu kamu harus bangun, jangan buat aku panik." Harun berbicara sendiri.


Harun mencari minyak kayu putih, ia mengingat biasanya orang yang pingsan di oleskan minyak kayu putih biar cepat sadar.


"Apa Maya benar sedang pingsan, atau jangan-jangan ia cuma berpura-pura saja agar aku luluh?" pikir Harun.


"Apa aku coba kasih kotoran ayam aja kehidungnya yah, biar dia kapok." Pikiran usilnya datang tak di undang pulang tak di antar. Harun teringat seorang temannya pernah pura-pura pingsan, mereka kerjai dengan mengoleskan kotoran ayam di hidung temannya itu.

__ADS_1


"Maya jangan main-main nanti aku kasih kotoran ayam di hidungmu biar cepat sadar," ancam Harun agar Maya berhenti berpura-pura pingsan.


Maya masih terdiam. Harun mengulangi kalimatnya sekali lagi, kemudian ia menepuk wajah maya yang semakin terlihat pucat. Ia menatap Maya di tempat tidur dan melihat sesuatu di sana, sangat kontras dengan warna celana panjang yang Maya kenakan, seperti bercak darah, Harun memegangi dan menarik celana yang terlipat di bagian bawah tubuh maya.


Harun semakin panik ketika melihat tangannya berlumur cairan merah.


"Darah? kamu kenapa May? kenapa ada darah?" Harun bertanya. Dalam keadaan panik ia tidak tau harus berbuat apa, ia berpikir Maya sedang tidak baik-baik saja. Maya harus segera dibawa ke dokter pikirnya.


Di sisi lain Kardi sedang berada di dapur ia ingin membuat kopi. Sudah lama ia tidak mencicipi minuman berwarna hitam pekat itu, yang konon kata penikmatnya apabila menghisap sebatang rokok dan mengoleskan sisa serbuk kopi yang sudah di seduh itu pada rokok, akan menambah kenikmatan merokok.


Biasanya Bu Ponijah yang membuatkan kopi untuknya. Semenjak sang asisten rumah tangga berhenti, Kardi belum pernah minum kopi.


Masak masak sendiri, makan makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurpun sendiri, resiko pria setengah ganteng. Celoteh kardi sendirian meniru lagu penomenal tahun sembilan puluhan untuk para jomblowan dan jomblowati.


"Kardi ... Kardi Kesini cepat," Teriak Harun dari lantai dua. Kardi bergegas karena mendengar nada suara kawatir dari Harun.


"Kenapa Bos?" tanya Kardi heran, melihat Harun dengan wajah kusut sambil memegangi kepalanya.


"Maya berdarah dan dia pingsan, bagaimana ini?" jawab Harun masih dengan sikap yang sama.


"Bawa berobat aja Bos," jawab Kardi, Memandangi wajah pucat Maya.


"Ok kita bawa Maya sekarang, di bawah ada mobil kan? tanya Harun lagi. ia mendekati Maya hendak mengangkat tubuh mungil yang tidak bergerak itu.


"Tunggu Bos, aku mau tanya dulu. Aku mau masak air, mau bikin kopi. Biasanya kalau masak sayur, sayurnya dicuci dulu kan? ... kalau masak air, airnya dicuci dulu gak Bos?" tanya Kardi serius dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Kardi buruan ini lagi gawat, jangan aneh-aneh dulu, kopimu nanti aku belikan. Cepat siapkan mobilnya!" perintah Harun. Kardi berlari ke lantai bawah dan menyalakan mobil, di belakangnya Harun membopong Maya dengan rasa khawatir menyelimuti hatinya.


bersambung~


__ADS_2