Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Berita Besar


__ADS_3

Sesampainya di dalam mobil Harun bersusah payah memasukkan Maya ke dalamnya. Napasnya tidak beraturan karena membawa Maya yang tidak sadarkan diri lebih berat dari biasanya.


Pada saat yang bersamaan Hindun keluar dari kamar mendengar suara ribut dan mengikuti asal suara itu. Ia melihat Harun membopong Maya menantunya. Sebenarnya Hindun masih marah dan kesal dengan Maya namun melihat keadaan Maya yang dibopong Harun, ia penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Harun kenapa dengan Maya? kalian mau kemana? apa yang terjadi?" berondong Hindun penasaran sambil melihat Maya yang sedang direbahkan di dalam mobil.


"Ibu Maya pingsan, kakinya berdarah aku takut terjadi sesuatu pada Maya, kami akan membawanya berobat ke dokter," ujar Harun tergesa-gesa kemudian ia menutup mobil dan menyuruh Kardi untuk jalan.


*


Hindun terkejut dan bernyanyi.


Terkejut abang terheran-heran, karna abang belum pernah kesana, di ajaknya aku kerumah dia, makan daging onta dengan sayur kol.


*


Hindun masih syok. Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Maya bisa sampai berdarah? Biarkan sajalah mungkin itu balasan untuk dia karena mengerjaiku kemarin. Makanya jangan ngerjain mertua jadinya kan kualat, ia memilih untuk tidak ambil pusing. Kemudian kembali ke dalam rumah.


-----


Desa mereka adalah desa terpencil tidak ada dokter di sana yang ada hanya puskesmas pembantu. Biasanya buka setiap hari senin sampai dengan hari jumat, dari pukul delapan sampai pukul tiga sore. Hari ini puskesmas tidak buka karena hari libur.


Perjalanan menuju kota kecil mereka memakan waktu dua puluh menit, mereka akan melewati sedikit hutan dan selanjutnya kebun sawit di kiri kanan jalan.


Maya masih belum sadarkan diri. Harun sesekali mendekatkan botol minyak kayu putih ke hidung Maya berharap Maya sadar, ia teringat kata-kata yang Maya ucapkan sebelum pingsan.


"Bodohnya aku, Maya tidak tau kalau ibu ... aargh," Harun berbicara pada dirinya sendiri setelah itu ia meremas wajahnya.


"Kenapa Bos, kesel gitu mukanya?" seru Kardi menatap kaca dari belakang kemudi.

__ADS_1


"Aku menyesal tidak mendengarkan penjelasan Maya, aku memang egois, harusnya aku tidak ikut emosi sewaktu ibu ceritakan Maya ingin mencelakainya," Jawab Harun lesu, memandangi wajah Maya, ia merasa bersalah.


"Itulah Bos penyesalan itu memang selalu belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran. Bos kalau ada masalah jangan dibawa emosi, mending dibawa makan, kan jadi enak perut kenyang pikiran pun jadi tenang." Kardi berceramah ria. "Ngomongin soal makanan, aku jadi lapar Bos heheh. Nanti ajak makan ya Bos," ujar Kardi aji mumpung memanfaatkan situasi dan kondisi.


Harun berdehem mengiyakan ajakan Kardi, seperti biasanya Kardi memang selalu di ajak makan kalau perjalanan mereka menuju kota.


"Bos di tempat makan kemaren lagi yah, aku pengen lihat gadis yang bodynya aduhai itu, semoga saja dia mau ngasih nomor handphonenya." Kardi tersenyum membayangkan gadis impiannya.


Harun kembali berdehem. Akhirnya Kardi diam dan fokus mengendarai mobil, ia sudah paham dengan bosnya itu, kalau Harun hanya menjawab dengan deheman berarti ia tidak suka dengan topik yang dibahas.


Mereka sampai di rumah sakit terbesar di kota kecil itu, kota Ujung Batu. Karena hari libur tidak banyak orang di sana, untung saja ada dokter yang bisa menangani Maya.


Maya sudah masuk di UGD. Harun dan Kardi tidak diperkenankan untuk masuk kedalam ruangan, mereka hanya bisa menunggu. Harun terlihat cemas Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Maya, kalau Maya hanya pingsan mungkin ia tidak secemas ini. Tapi bercak darah itu yang ia perkirakan keluar dari bagian kewanitaan Maya, Membuat Harun takut walaupun darah itu tidak terlalu banyak.


"Apakah anda keluarga Pasien?" tanya pria berjas putih yang baru keluar dari UGD.


"Iya Dokter saya suaminya?" jawab Harun tidak sabar.


Setelah sampai di ruangan, Harun dipersilahkan Dokter Kurnia yang ia ketahui namanya dari papan nama yang tersemat di jas kebanggaan tenaga medis itu.


"Begini Pak, tolong dijaga istri bapak, dia sedang hamil, dari pemeriksaan USG tadi usia kandungannya sudah masuk enam minggu, kalau Bapak terlambat membawanya mungkin janinnya tidak akan bisa diselamatkan. Detak jantung bayi normal, tapi karena Istri bapak stres, kelelahan, juga tidak ada asupan makanan. Membuat istri bapak dan janin menjadi lemah," seru dokter Kurnia panjang lebar. "Saran saya biarkan istri bapak istirahat total sampai ia benar-benar pulih," lanjutnya.


"Maaf Dokter, usia kandungan Istri saya enam minggu? bagaimana bisa kami baru Menikah. Besok baru genap sebulan lebih semingu," tanya Harun keheranan.


"Itu tidak masalah karena perhitungan kehamilan itu dimulai saat hari pertama haid terakhir Istri Bapak, bukan hari pertama berhubungan. Seperti yang biasa orang pahami." Dokter Kurnia menjelaskan kecemasan Harun.


"Baik Dok, saya permisi dulu terimakasih Dok." Harun ingin menjumpai istrinya, ia sudah tidak sabar ingin memberitahu tentang kabar yang mengejutkan itu.


Harun melangkah dengan bahagia yang tidak bisa dijelaskan, sungguh menjadi seorang ayah dan ibu adalah impian pasangan suami istri. Ia bersyukur diberi kesempatan untuk memiliki seorang anak.

__ADS_1


Harun tersenyum sendiri membayangkan sebentar lagi Ia akan menggendong bayi, bermain bersama, apakah bayiku laki-laki atau perempuan? ia bertanya dalam pikirannya sendiri.


-----


Dimana aku? kenapa aku ada disini? Maya bertanya-tanya dalam hati. Ia menatap sekelilingnya sambil memegangi kepala yang berat.


Tangannya tertancap jarum yang tersambung dengan selang infus, infus itu digantung pada sebuah tiang. Kemudian ia mengingat sebelum ia pingsan, Harun sempat mengangkatnya, karena ia terjatuh.


Waktu itu ia terus mengejar Harun sampai ia merasa pandangannya seperti berputar dan tiba-tiba semua gelap dan tidak mengingat apa-apa lagi setelahnya.


"Kamu sudah sadar?" ujar Harun datang dari pintu. Kemudian ia mendekati Maya dan mencium kening gadis yang sedang berbaring di tempat tidur itu.


"Mas, Aku kenapa?" tanya Maya sambil berusaha duduk. Harun membantunya mengambil bantal untuk sandaran Maya.


"Kamu baik-baik saja sayang," jawab Harun tersenyum. Ia mengambilkan minuman untuk Maya, "May ... masalah kemaren tidak usah dipikirkan lagi yah. Sebenarnya ini semua salahku, aku yang tidak memberi tau sama kamu kalau ibu tidak bisa memakan makanan yang pakai garam.


Biasanya Bu ponijah menyediakan makanan khusus untuk ibu, tanpa garam dan Ibu sendiri yang akan menakar garam untuknya. Maafkan aku ya, waktu itu aku capek sekali baru pulang kerja, tiba-tiba Ibu berbicara padaku, katanya kamu ingin mencelakainya." Panjang lebar Harun berbicara.


"Iya Mas, aku sudah memaafkanmu aku tau ini hanya kesalahpahaman saja," jawab Maya berusaha tersenyum.


"May ... aku janji akan jaga kamu dan bayi kita," ujar Harun sambil meletakkan tangannya di bagian perut Maya.


"Apa Mas?" Maya tidak percaya pada pendengarannya. Ia ingin Harun mengulangi berita besar itu.


"Kamu lagi Hamil sayang," jawab Harun lebih jelas lagi. Wajahnya tersenyum menatap Maya.


Maya menatap Harun takut dan khawatir, sama sekali tidak ada rasa bahagia di sana.


Maya merasa takut, ia mengingat kembali kejadian mengerikan dimalam itu. Apakah ini anak pria itu? kalau ini anak pria itu, apa yang akan terjadi padanya dan anak itu? Apa Harun dan keluarganya akan menerimanya? Maya terdiam ia meremas selimut yang menutupi kakinya.

__ADS_1


"Mas, Aku ... takut, Aku takut ini bukan anakmu?"


bersambung


__ADS_2