
"Aduh bagaimana ini, lama-lama capek juga di kamar mandi," gumam Maya tidak sabar ingin keluar dari tempat pengap itu.
"Maya, kamu ngapain sih di kamar mandi? kenapa lama sekali?" tanya Harun dari tempat tidur, ia merasa ada yamg aneh karena dari tadi tidak terdengar suara air atau kegiatan apapun dari dalam kamar mandi. "Apa yang Maya lakukan di dalam sana? apa yang ia recanakan?" gumam Harun.
"Iya Mas, sebentar lagi," jawab Maya berpura-pura menyiramkan air terus menerus se akan-akan ia benar-benar melakukan sesuatu di sana. "Maaf Mas, bukannya aku tidak mau melayanimu, tapi aku takut membahayakan bayi di dalam perutku ini," ucap maya tanpa suara.
Sepuluh menit menunggu Harun mulai merasa matanya berat, lama kelamaan ia mengantuk dan jatuh tertidur karena bosan menunggu gadis pujaan hatinya itu.
Hampir lima belas menit di dalam kamar mandi, Maya tidak mendengar apa-apa lagi dari kamar. "Kenapa tidak ada suara lagi? Apa Mas Harun pergi yah? mudah-mudahan saja dia sudah pergi." Maya berharap Harun sudah pergi dan melupakan hajatnya.
Pintu kamar mandi terbuka Maya menatap sekeliling, "Aman sepertinya Mas Harun kecapean sampai tertidur." Maya melihat wajah suaminya timbul rasa bersalah dalam dirinya, "Ya Allah ampuni aku karena bersembunyi dari suamiku sendiri," desah Maya kemudian ia keluar dengan langkah berjinjit tidak mengeluarkan suara, gadis itu akan ke bawah mengambil minum. Kelamaan di kamar mandi membuat ia kehausan, Maya berjalan dengan pelan sekali agar Harun tidak terbangun.
__ADS_1
Mata Maya fokus melihat Harun dan jalan, kemudian membuka daun pintu sangat pelan, tapi kaki Maya tidak sengaja menyenggol pintu kamar dan menimbukkan suara. Maya terkejut memegangi dadanya, kembali melihat pada Harun takut suaminya itu terbangun.
"syukur, Mas Harun masih tidur." Ia kembali melangkah ingin cepat berlalu dari kamar, dan menjauh dari suaminya yang sedang tertidur pulas.
"May .... "
Terdengar panggilan dari dalam kamar, "Oh tidak, Harun sudah terbangun, aku pura-pura tidak dengar aja lah." Maya kembali melangkah.
"Bagaimana ini? apa aku jujur aja ya?" pikir maya, ia bingung dengan situasi yang membuat badannya panas dingin seperti akan demam.
"Malah bengong, kamu kenapa Maya? kenapa wajahmu pucat seperti itu?" Harun mendekati Maya yang mematung tak bergerak sama sekali. "Kenapa Maya seperti menyembunyikan sesuatu dariku, tidak seperti biasanya, Maya mudah terbuka dan selalu bercerita segala hal dariku.
__ADS_1
"Gini Mas ... aku tidak bisa berbohong padamu sebenarnya aku takut?" ujar Maya dengan nada pelan kemudian ia berjalan dan duduk di atas tempat tidur.
Harun mengikuti Maya ke tempat tidur. Ia turut duduk di sebelah Maya.
"Takut kenapa sayang?" Harun menatap mata gadis pemilik wajah yang dulu selalu ia bayangkan sebelum tidurnya.
"Aku takut sesuatu terjadi pada bayinya kalau kita gituan, karena aku pernah mendengar, jika sedang hamil muda tidak baik berhubungan apalagi aku sudah pernah pendarahan," ujar Maya takut, sambil menunduk ia tidak sanggup menatap mata Harun yang menatapnya curiga.
"Hah ... itu ternyata," Harun tergelak memegangi perut, "Aku pikir kamu menyembunyikan sesuatu yang besar ternyata hanya masalah itu, baiklah Maya kalau kamu takut, aku akan menahannya. Demi bayi ini aku pasti bisa. Kamu tidak usah takut lagi yah!" Harun mencubit pipi Maya, Maya membalas dengan anggukan.
bersambung ~
__ADS_1