
Kardi berjalan menuju ke tempat Izal berada, pria itu berjalan sambil menyipitkan mata karena sinar matahari begitu menyilaukan udaranya juga sangat panas.
Sepuluh menit berlalu Harun belum juga mendapat solusi. Hingga ia teringat untuk membuat sebuah perjanjian kontrak dengan pria yang ingin sekali ia menghukumnya itu.
Kardi dan Izal telah sampai di dangau, Izal maupun Harun berkenalan seolah mereka belum pernah bertemu. Mereka membicarakan masalah pekerjaan. Izal nantinya akan bekerja di kebun ini, ia akan di antarkan bahan makanan seminggu sekali. Gajinya akan di berikan selama setahun jika dia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Selain itu tugas tetapnya adalah memotong rumput, memupuk kelapa sawit, memangkas pelepah yang sudah kering.
Selesai membicarakan masalah pekerjaan. Harun menyuruh Kardi untuk membeli bahan makanan bekal Izal selama seminggu kedepan. Sebenarnya Harun menyuruh Kardi pergi, agar ia punya kesempatan bicara dengan pria di hadapannya. Pria yang menghianatinya. Tapi walaupun begitu Harun masih bersedia mempekerjakan pria itu. Karena ia ingin sekali membalaskan dendam Maya dan dirinya. Harun tidak punya pilihan untuk melaporkan Izal pada polisi karena tidak ada bukti sekarang.
Kalaupun ia bersikukuh untuk melaporkan Izal, mungkin dirinya juga akan ikut terseret. Karena dialah otak penculikan itu. Maka dari itu ia ingin membalas pria jahat itu dengan menyiksanya secara perlahan.
"Kau masih ingat aku kan?" tanya Harun. Suasana menjadi tegang seketika.
__ADS_1
"Siapa yang tidak mengenal bos, bos itu orang terkaya di desa ini, harta bos tidak akan habis tujuh turunan. Selain itu bos dikenal karena ketampanannya. Juga memiliki istri cantik yang dikenal sebagai bunga desa." Izal berbicara sambil menyulut rokoknya.
Kalau diperhatikan sebenarnya Izal itu pria yang gagah. Badannya tegap mempunyai lengan yang berotot. Kulitnya terbakar panas matahari membuat ia kelihatan gelap. Mungkin kalau Izal mencukur brewoknya yang tidak terurus itu. ketampanannya akan jelas terlihat.
"Kau tau maksudku. Tidak usah berpura-pura lagi, atau aku akan menyeretmu ke kantor polisi." Harun mulai memanas karena Izal seperti tidak terjadi sesuatu pada mereka.
"Hei bung aku tidak sebodoh yang kau kira. Kau tidak mempunyai bukti apa-apa sekarang. Kau tidak bisa melaporkanku. Lagi pula aku juga bisa membongkar rahasiamu pada Maya yang cantik itu," ujar Izal sembari menaikkan sudut bibir sebelah.
"Kenapa kau marah, bukankah kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Kau mendapatkan Maya dengan cara licik, harusnya akulah yang menjadi suaminya sekarang. Akulah yang bertanggung jawab padanya." Izal menyambung ocehannya yang membuat Harun semakin panas mulutnya seperti ingin menyemburkan api. Kalau saja ia adalah naga seperti cerita di legenda, mungkin pria dihadapannya dan semua benda disekitarnya, sudah hangus terbakar.
Tapi ucapan pria itu ada benarnya. Ia sudah mendapatkan Maya, gadis yang sudah lama ia idamkan sampai ia berniat untuk menculik Maya dan akan berpura-pura menyelamatkan gadis itu. Agar gadis itu membuka hati untuknya.
__ADS_1
"Jadi sekarang apa maumu?" tanya Harun. Kemudian ia duduk kembali untuk menenangkan hatinya yang hangus terbakar amarah.
"Terserah bos aja. Saya akan menerima apapun itu, asalkan bos tidak mengungkit hal itu lagi," jawab Izal enteng dengan nada datar. Sembari membuang puntung rokonya sembarangan.
"Matikan puntung rokokmu! atau tempat ini akan hangus terbakar," perintah Harun pada pria tak punya aturan itu. Banyak lahan terbakar hanya karena masalah sepele seperti ulah Izal tadi.
Izal berjalan dengan kesal ia menginjak puntung rokok yang baru saja ia buang sembarangan. Ia menuruti perintah atasannya itu, kemudian duduk di tempat semula.
"Begini saja, kita tidak akan pernah mengungkit masalah ini. Dan juga jangan pernah kau tampakkan dirimu di hadapan Maya, karena dia masih mengingatmu, Ia mengingat suaramu, dan juga bentuk badanmu mungkin juga yang lainnya. Kalau itu sampai terjadi kau akan aku habisi." Harun mengancam.
"Ok bos, aku menyetujuinya. Tapi ingat jangan main-main denganku," ujar pria itu dengan senyum mengembang. Sedangkan Harun masih tidak rela dengan perjanjian itu.
__ADS_1
bersambung~