
Pria berbadan tegap itu memperhatikan Maya memakan asam jawa dengan lahap. Ia duduk di samping pohon mangga yang baru berumur satu tahun, pohon mangga itu menutupi tubuhnya menghalangi pandangan jika dilihat dari teras rumah.
"Harun sungguh beruntung mendapatkanmu, senyummu sungguh manis, tubuhmu tetap menggoda walaupun engkau dalam keadaan hamil, seandainya aku bisa menjadi suamimu. Aku pasti akan membahagiakanmu, tapi apalah aku, aku hanya seorang laki-laki yang tidak punya apa-apa, melihatmu tersenyum saja itu sudah membuatku juga tersenyum. Engkau lebih baik hidup dengan Harun walaupun dia mendapatkanmu dengan cara yang ach ... " pria itu bergumam.
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Mobil itu adalah mobil juragan Tohir, mobil itu parkir menghalangi pandangan pria berbadan tegap itu, akhirnya ia meninggalkan tempatnya memperhatikan Maya.
Dari dalam mobil tampak juragan Tohir bersama Hindun keluar mereka menyapa Maya yang sedang di teras rumah, tampak Hindun mertua Maya membawa sesuatu di tangannya.
"Maya ini oleh-oleh untukmu, di dalamnya ada pakaian untukmu dan Harun," ujar Hindun sembari menyerahkan bungkusan berbentuk paperbag itu.
"Makasih Bu," ujar Maya menyambut pemberian mertuanya dengan senyum mengembang. Ia tidak menyangka mertuanya akan membelikan pakaian untuknya, mengingat Maya sudah beberapa kali membuat mertuanya marah.
"Maya apa yang kamu makan?" tanya Juragan Tohir penasaran dengan benda aneh yang terletak di atas nakas, karena dari mobil pun ia melihat Maya sedang memakan seauatu. Kemudian ia melangkah melihat benda itu dan membolak-balik.
"Oh itu Pak, anu ... itu namanya asam jawa, saya ... saya ngidam asam jawa, jadi Mas Harun mengambilkan untuk saya," jawab Maya malu-malu.
__ADS_1
Juragan Tohir tertawa melihat tingkah Maya. Ia teringat ketika ibunya Harun mengandung juga ngidam aneh-aneh, waktu itu kandungan ibunya Harun masih tiga bulan, tengah malam Mereka sedang tidur, tiba-tiba ibunya Harun ingin makan kopi. Juragan Tohir memberikannya Kopi yang diseduh tapi ternyata ibunya Harun ingin makan serbuk kopinya secara langsung.
"Tidah usah malu, ibunya Harun juga pernah ngidam aneh sepertimu," ujar Juragan Tohir melirik ke Hindun dan ia tertawa lagi. Hindun tersenyum pada Maya dan suaminya.
"Ibu, juga dulu mengalami ngidam aneh. sama sepertimu, malah ibu seperti tidak wajar, karena dulu Ibu ngidamnya makan sabun," ujar Hindun mengingat dirinya ketika hamil dulu.
"Makan sabun, maksud Ibu sabun yang dipakai buat mandi? berarti pahit ya Bu?" Tanya Maya kaget, matanya hendak keluar karena tidak percaya. "Setau aku sabun itu berbusa apa mulut ibu berbuih waktu itu yah?" pikir Maya merasa geli.
"Entahlah, waktu itu ibu merasa enak sekali. Pernah sekali ibu makan sabun mandi sesudah anak ibu berumur dua tahun. Tapi rasanya tidak se enak waktu ngidam." Hindun memperlihatkan barisan giginya, kemudian ia tertawa dan masuk ke dalam rumah bersama suaminya.
Samar-samar Maya mendengar, Hindun itu sangat manja ketika hamil. Ketika makan pun harus disuapkan suaminya, ke kamar mandi harus ditemani, pekerjaan rumah dibantu suaminya. Melihat mertuanya yang akur Maya merasa ingin seperti mereka, membayangkan dirinya dan Harun ketika anaknya nanti sudah besar.
Lengan Harun cukup kuat, untuk menahan setiap rasa takutku, dan juga setiap bagian diriku yang indah dan patah. Harun adalah pria yang baik. Ia tidak hanya membuatku merasa lengkap, dia juga melengkapiku. Aku akan bersamanya selama sisa hidupku, aku akan pergi kemana ia pergi.
Maya beranjak masuk ke dalam rumah. Ia baru mengingat Harun sedang di kamar, pasti Harun sedang menunggunya, karena Maya mengatakan akan menyusulnya ke kamar.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi." Harun memberondong pertanyaan ketika Maya baru saja masuk kedalam kamar.
"Tadi ... aku bicara sama Ibu dan Bapak. Mereka bawa ini untuk kita," ujar Maya menunjukkan oleh-oleh dari mertunya yang baru pulang dari pusat kota.
"Aku tidak peduli, itu cuma alasanmu saja," ujar Harun mendekati Maya dan melingkarkan tangannya di pinggang kemudian tangan itu perlahan pindah naik ke atas dan menetap di leher Maya. Harun menarik Maya semakin dekat kepalanya dimiringkan, tidak ada jarak di antara mereka, Harun menempel pada tubuh gadis itu, kemudian menggiringnya ketempat tidur.
Maya tau apa yang akan terjadi, kemudian ia melepaskan diri dari Harun. Membuat Harun heran dengan tingkah istrinya itu.
"Kamu kenapa May?"
"Aku mau ke toilet dulu, kebelet Mas," jawab Maya berbohong, kemudian pergi meninggalkan suaminya di tempat tidur.
"Boleh gituan gak yah?" pikir Maya, ia akan berlama-lama di toilet sampai suaminya lupa akan keinginnannya untuk berhub*ngan int*m.
bersambung~
__ADS_1