Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Akhirnya bisa dapat


__ADS_3

"Gimana Bu?" Harun begitu tergesa-gesa memburu wanita itu dengan pertanyaan, ia sangat kawatir apabila tidak bisa mendapatkan keinginan wanita yang ia cintai itu.


"Nak Harun, masuk saja kesana. Saya tadi memberi tahu mereka bahwa Nak Harun akan masuk, untuk mengambil asam jawa. Oh ya sebenarnya kenapa Nak Harun ingin kesana, bukankah asam jawa bisa di beli di warung?" ujar wanita itu penasaran.


"Ng ... Maya Bu, Maya ngidam asam jawa yang dari pohon Bu. Katanya beberapa hari ini kebayang terus dan sampai kebawa mimpi," ujar Harun malu-malu dan tersenyum.


"Oh begitu rupanya, selamat ya Nak Harun salam untuk Maya. Saya permisi ya Nak Harun?" ujar wanita tersenyum memberi selamat kemudian ia meminta izin untuk segera berlalu dari hadapan Harun.


Setelah wanita itu pergi Harun berjalan mantap ke sungai tanpa takut lagi. Ia tidak menyangka akan semudah itu tidak seperti pikiran buruknya yang sempat membayangkan tubuhnya bisa remuk akibat dipukuli perempuan di tempat pemandian itu karena dikira mengintip orang yang sedang mandi.


"Permisi Bu, Mbak, saya mau ambil asam jawa sebentar ya," ujar Harun menatap tanah tidak berani menatap orang-orang yang berada di tempat keramat para perempuan itu.


"Iya, silahkan Mas jangan lama-lama ya soalnya kami harus melanjutkan menucuci pakaian dan mandi," ujar gadis muda yang memakai kain sarung sampai ke dada dan ia menutupkan handuk secara bersilang ke bahu dan sebagian dada atas sampai kelehernya.

__ADS_1


"Iya Mbak, saya usahakan secepatnya," seru Harun bergegas melangkah dan melompati bebatuan. Saking grogi, dan tergesa-gesanya ia terpleset dan tercebur ke sungai, ia mencoba berdiri tapi kakinya mendarat di batu yang licin dan ia kembali terjatuh lagi.


Sontak para perempuan yang sedari tadi memperhatikan Harun, si pria tampan dan kaya raya itu tertawa melihat adegan kecebur dan kecebur lagi.


Pria malang itu meratapi nasib sialnya. Baju bagian bawah dan celananya basah kuyub membentuk badan, tubuh atletisnya terlihat jelas. Kemudian ia melanjutkan misinya yang hampir tercapai, ia tidak menghiraukan para perempuan yang tertawa bahagia melihat penderitaannya.


"Akhirnya dapat juga, asam jawa ini. aku harus segera pergi dari tempat mengerikan ini, aku tidak mau menjadi tontonan para perempuan itu lagi," pikir Harun kemudian Harun bergegas, kali ini ia berhati-hati melangkah agar tidak jatuh pada lubang yang sama maksudnya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak seperti itulah gambaran yang tepat untuk Harun, ia kembali mendarat pada batu yang licin karena lumut yang tumbuh di atasnya, ia mendengar cekikikan para perempuan itu lagi, wajah putihnya memerah menahan malu dan kesal pada dirinya sendiri.


"Terima kasih Bu, Mbak," ujar Harun tanpa menoleh, karena ia tidak mau dicap mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Iya sama-sama," jawab mereka serempak kemudian tertawa lagi melihat tingkah Harun yang hampir menabrak pohon karena tidak melihat jalan dihadapannya.

__ADS_1


"Ah pohon sialan, siapa sih yang mindahin," ujar Harun marah pada pohon yang tidak bersalah dihadapannya. Ia memukul pohon itu tapi ia malah mendengar para perempuan semakin tertawa, ternyata dirinya masih diperhatikan para makhluk tuhan yang diciptakan dari tulang rusuk itu.


Secepat kilat Harun berjalan menjauhi tempat pemandian perempuan dan kembali ke rumah. Ia sudah tidak sabar memberinya pada gadis yang sangat ia cintai. Ia ingin membuktikan bahwa ia berhasil melewati rintangan itu walaupun ia menjadi lelucon penghibur para perempuan.


Sungguh hari ini, adalah hari bersejarah bagi Harun, baru sekali ini ia menjadi lelucon bagi perempuan. Biasanya yang namanya perempuan selalu memandangnya dengan rasa kagum karena ketampanan yang ia miliki.


Begitu juga dengan wanita yang ia nikahi itu membuat ia melakukan hal-hal yang membuat hatinya was-was tidak karuan.


Sesampainya di rumah, Maya sudah menunggunya di teras rumah sambil mengusap perutnya yang mulai menonjol. Senyumnya merekah seketika melihat Harun membawa bungkusan kantong kresek di tangan kanan.


"Mas, dapat yah? makasih ya Mas!" ujar Maya menyambar lengan Harun yang basah kuyup. "Mas, kenapa basah?" tanya Maya lagi. Kemudian ia mengambil bawaan Harun dan mengobrak abrik kresek itu karena tidak sabar untuk memakan isinya.


"Mas, terjatuh di sungai, ya udah mas mandi dulu," ujar Harun, ia puas melihat Maya yang lahap memakan asam jawa yang rasanya masam itu.

__ADS_1


"Ya Mas, nanti aku menyusul," ujar Maya tersenyum senang karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan beberapa hari ini. Ia tidak peduli sekelilingnya ada seseorang yang memperhatikan Maya dengan senyum menyeringai.


bersambung~


__ADS_2