
Tiupan angin sepoi-sepoi membuat rambut panjang Maya terayun-ayun warna hijau dedaunan menenangkan hati Maya. Ia terpesona dan menikmati suara dedaunan yang saling bergesekan menimbulkan irama nyanyian syahdu. Sambil mengusap perutnya yang masih rata ia memejamkan mata menghirup udara segar. Maya akan melupakan semua yang terjadi, ia bertekad untuk merawat janin yang ada dalam rahimnya. Ia akan menerima janin yang tidak punya dosa itu, bagaimana pun juga janin itu adalah taqdir yang mau tidak mau harus ia terima.
Ceklek
Terdengar gagang pintu ditekan dan di ikuti langkah kaki yang terseret Maya sangat mengenali langkah berat itu, langkah Harun si pria tampan idaman gadis desa, namun sayang ketampanannya dimanfaatkan untuk menggoda gadis-gadis lugu.
"Benar kata Rara, Harun sudah banyak berubah, Harun tidak lagi si playboy cap teri. Sekarang Harun sungguh berbeda, ia peduli, ia tak lagi bermain-main dengan perempuan di luar sana. Semoga ia tetap seperti ini, mencintaiku seorang, tidak ada wanita lain di hatinya selain aku, semoga kebahagiaan selalu menghampiri kami." Harap Maya dalam hatinya.
"Kenapa melamun sayang? kamu terpesona ketampanan aku ya?" ujar Harun tersenyum bangga kemudian duduk di kursi sebelah Maya. Kursi itu sengaja disediakan di balkon, karena dari balkon bisa terlihat pemandangan rumah penduduk desa yang masih asri dan banyak pepohonan.
Seulas senyuman ia berikan pada suaminya, "Iya sayang, kamu tampan," menjawab suaminya sambil menatap mata Harun, kemudian menyandarkan kepalanya di atas bahu Harun.
"May ... aku kawatir terjadi sesuatu pada anak kita nanti," tanya harun kemudian berbalik menghadap Maya.
Kening Maya mengerut dan alisnya naik menyiratkan ia tidak mengerti arah perkataan Harun, "kawatir? ... kawatir kenapa? coba jelaskan, aku belum mengerti maksudmu sayang," jawab Maya lembut.
__ADS_1
"Begini May, bukankah kamu makan rendang banyak sekali kemarin?" Harun bertanya lagi, dibalas anggukan oleh Maya, "Rendang itu kan bahannya pakai cabe. Terus nanti kalau bayinya kepedasan gimana? kalau mata bayinya pedih gimana?" ujar Harun polos.
Maya tak sanggup menjawab pertanyaan Harun ia tak menyangka arah percakapan mereka karena rendang kemarin. Kemudian ia menutupi mulutnya menahan tawa, tapi tangannya terlepas begitu saja kemudian memegangi perut.
"Bagaimana ya cara menjelaskannya pada mas Harun biar Dia paham, akan sedikit susah untuk menjelaskannya pada pria," pikir Maya.
Harun terlihat kebingungan sendiri, karena bukan jawaban yang ia dapat, malah ia ditertawakan padahal hatinya benar-benar kawatir pada bayi di dalam perut istrinya. Harun menempelkan punggung tangannya pada kening Maya.
"Tidak panas, perempuan memang susah dimengerti. Kenapa Maya tertawa padahal kan pertanyaanku tidak ada yang lucu sama sekali," gumam Harun.
"Mas benar-benar tidak tau, atau cuma bergurau?" Maya bertanya, kali ini ia sudah berhenti tertawa dan serius dengan pria dihadapannya.
"Mas, begini ... janin itu di dalam rahim," Maya menunjuk bagian perut bawah, "Beda tempat dengan yang namanya makanan, makanan itu masuk dari mulut kemudian ke lambung, ke usus dan berakhir di pembuangan." Maya menunjuk bagian mulutnya, kemudian menunjuk bagian bawah dada, bergeser ke bawah dan setelah itu berpindah menunjuk bagian pinggul belakang.
Harun mangut-mangut memperhatikan dengan seksama, setelah ia mendengar penjelasan Maya yang panjang itu akhirnya ia mengerti dan merasa lega.
__ADS_1
"Jadi bayinya tidak terpengaruh ya dengan makanan." Harun dan Maya tertawa kompak kemudian menyudahi pembicaraan mereka.
Setiap harinya setelah bangun pagi Maya tidak perlu mempersiapkan makanan lagi, ada mertunya yang sudah menyelesaikan tugas itu. Maya hanya diperbolehkan makan, tidur dan bersantai. Kegiatan lain tidak diperbolehkan oleh penghuni rumah itu.
Pernah sekali Maya melihat mertuanya sedang kesusahan membersihkan rumah. Ia merasa kasihan pada mertuanya, dan juga merasa durhaka karena membiarkan ibu mertuanya bekerja sendirian. Ia ingin membantu mertuanya untuk membersihkan debu yang menempel di furniture rumah itu. Juragan Tohir melihat Maya memegang kain lap di tangan. Hindun dan Harun yang menjadi sasaran kemarahan jurahan Tohir, juragan Tohir menyangka Hindun memaksa Maya mengerjakan pekerjaan rumah, dan Harun dianggap tidak becus menjaga Maya yang sedang hamil.
Asap mengepul dari nasi yang sudah dimasak oleh Hindun, baunya menguar di udara, bermacam makanan favorit Maya menantunya terhidang di meja makan, lengkap dengan buah-buahan, hari ini Hindun memasak soto padang, gulai ayam, sambel terasi, semur jengkol, cah kangkung dan lalapan. Hindun bolak balik mempersiapkan segala masakan ini bersusah payah, bajunya lengket di badan karena peluh yang keluar saat memasak. Dandanan yang biasanya tampil sempurna tidak ia pedulikan demi cucunya.
Sebenarnya sudah lama Hindun tidak memasak, sejak Harun masuk Sekolah Menengah Pertama dulu. Kala itu Hindun sempat mengalami struk ringan dan tidak bisa melakukan tugas rumah. Sejak saat itu mereka menggunakan jasa asisten rumah tangga.
"Akhirnya selesai juga," Hindun berbicara sendiri kemudian merebahkan diri di sofa melepaskan lelahnya.
"Bu, Maaf ya Maya tidak bisa bantu ibu," ujar Maya mengagetkan Hindun kemudian duduk di sofa sebelah Hindun.
"Tidak apa-apa nak, ibu bisa mengerjakannya sendiri," jawab Hindun tersenyum.
__ADS_1
"Kalau cucuku sudah lahir, aku tidak akan melakukan semua ini lagi, pekerjaan ini akan menjadi tugasmu, jangan harap aku akan membantumu. Ini semua aku lakukan demi cucuku tersayang." Pikir Hindun.
bersambung