
Harun tidak menjawab pertanyaan Maya karena perawat datang untuk memindahkan Maya ke ruang rawat inap.
Di ruang rawat inap ada dua tempat tidur, ada seorang perempuan di sana yang ditemani oleh suaminya. Perempuan itu matanya sembab dan bengkak seperti habis menangis semalaman. Untuk mengurangi kebosanan Maya berbincang dengan perempuan itu ternyata sebentar lagi mereka akan pulang.
Saat sendiri Maya kembali bersedih, Harun mengetahui kesedihan istrinya itu.
"Maya kamu jangan pikirkan masalah itu, kamu harus sembuh dulu agar kita bisa pulang ya, kata dokter kamu harus istirahat total, jangan berpikiran macam-macam! malam ini kamu belum bisa pulang. Jadi aku akan menemanimu di sini." Harun mencoba menenangkan Maya.
"Mas, aku takut ini bukan anak kamu." Maya mengulangi perkataan sebelumnya yang sempat ia tanyakan pada Harun dan belum sempat dijawab oleh Harun, kemudian ia mulai terisak sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.
Harun terdiam menghadap jendela. Mata terpejam, satu tangannya mencengkram rambut dan yang lain mengepal menempel di mulutnya. Rekaman kejadian naas itu datang terulang berputar kembali di memorynya. Ketika Maya benar-benar terpuruk dan ingin mengakhiri hidupnya Harun ada untuk menyelamatkannya gadis malang itu. Ia menyayangi gadis itu dengan segenap hatinya.
Harun mendekat dan membuka wajah Maya dengan lembut, menatap wajah sendu itu. Ia tidak ingin melihat gadis itu terus-terusan menangis karena rasa takut yang menghatuinya, Dia gadis baik yang tidak tau apa-apa tentang kejadian itu. Maya hanya korban, korban nafsu pria yang ingin memiliki Maya sang bunga desa.
"Maya, aku sudah berjanji untuk menjagamu, aku akan melindungimu sampai kapan pun, dengan cara apapun itu aku akan berusaha sekuat tenagaku." Harun duduk di kursi tepat di samping Maya, menggenggam tangan lemah Maya seolah ia Ingin memberi kekuatan melalui genggaman tangannya.
Maya memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Hatinya sakit, luka yang mulai sembuh seperti ditusuk lagi. Lelehan air mata kembali memenuhi wajahnya.
"Ya Tuhan baru saja aku ingin hidup kembali, karena kau memberiku bahu tempat bersandar, kau memberiku lengan kokoh Mas Harun untuk selalu dapat memelukku. Tapi kenapa? kau coba aku lagi dengan masalah yang lain?" lirih Maya dalam tangisnya.
"Maya, sudahlah jangan menangis lagi, aku tidak sanggup mendengar tangisanmu. Jangan menyesali semua yang telah terjadi biarkan semua berlalu, ikhlaskan saja aku akan menerimamu, menerima bayi ini.
__ADS_1
Aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri. Jangan pernah menyakitinya, Janin ini adalah permberian Tuhan, aku akan merahasiakan masa lalumu, aku tidak akan membiarkan orang-orang mengetahuinya termasuk janin ini." Harun berhenti bicara ketika mendengar langkah seseorang dari arah pintu, sontak Maya mengelap sisa air mata di pipinya, Harun melihat dan ternyata memang benar ada yang datang.
"Apa maksudmu janin?" ujar Narti. Karyo dan Narti melihat Maya dan Harun yang terkejut melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba dan tidak memberitahu sama sekali. "Apa Maya hamil?" lanjut Narti. Ada kebahagiaan terlihat dari wajah yang mulai keriput termakan usia itu.
"Be ... benar Bu, Maya sedang mengandung anak kami." Harun tergagap sambil berdiri tak lupa menyalami dan menyambut mertuanya.
Narti terharu memeluk putrinya bahagia mendengar berita kehamilan Maya, Kemudian ia melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Ia membelai wajah putri kecilnya yang kini sudah berkeluarga, dan beberapa bulan lagi akan menjadi seorang Ibu. Sekian lama tidak bertemu ia tak ingin jauh dari gadis itu, ia merasa harus memanjakan putrinya, karena momen bertemu dengan putrinya sangat sulit.
"Anak ibu, sebentar lagi akan jadi ibu. Artinya ibu akan punya cucu, kamu harus banyak makan biar kuat." senyum Narti selalu ia ditunjukkan. Ia mengambil makanan dari tas yang ia bawa dari rumah, kemudian menyuapkan pada putri kesayangannya.
"Maya kamu harus banyak makan mulai dari sekarang. Kebutuhan ibu hamil bertambah karena ada dua perut yang harus di isi." Karyo menambahkan, ia mengelus kepala Maya.
"Sewaktu ibu hamil dulu, Bapakmu selalu memaksa ibu makan banyak. Biar kuat katanya, memang benar ibu jadi merasa kuat. Pernah suatu ketika, tengah malam ibu menginginkan buah mangga muda yang dirujak, ibu memaksa bapak untuk mencari buah mangga malam itu juga. Akhirnya bapak datang bawa buah mangga walaupun cuma sebiji, ibu senang sekali dan puas bisa makan buah mangga muda itu." Panjang lebar Narti bercerita mengenang masa hamilnya dulu ketika mengandung Maya.
Mereka tertawa bersama mendengar cerita Karyo, bersamaan saat Kardi datang bersama mertua Maya.
"Assalamu alaikum," ucap juragan Tohir.
"Wa alaikumussalam." Mereka menjawab kompak seperti dikomando.
Mereka saling bersalaman satu sama lain, menebarkan senyum pada orang yang disalami.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu Nak?" Hindun bertanya pada Maya.
"Sudah membaik Bu." Maya menjawab pertanyaan mertuanya sambil tersenyum kemudian menyalami Hindun dengan takjim.
"Ada apa dengan ibu? kenapa ibu tidak kelihatan marah lagi? dan Nak, kenapa tiba-tiba ibu memanggilku dengan sebutan Nak? biasanya ibu memanggilku dengan namaku langsung." Banyak pertanyaan yang muncul di benak Maya.
Mertua dan orang tuanya sedang asyik bercerita seakan tidak ada masalah. Berbeda dengan Maya, pikirannya masih kalut karena kehamilannya, ia takut apa yang terjadi selanjutnya. Ia hanya tersenyum menanggapi cerita para orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu.
Harun dan Kardi mengambil tempat di tempat tidur pasien sebelah Maya yang kosong, pasien yang di sebelah Maya sudah pulang menjelang sore ketika Maya baru saja di pindahkan dari UGD. Ia hanya bertemu beberapa jam saja namanya Rasti, dari cerita Rasti mereka dari Desa sebelah, ia pasien yang baru saja keguguran.
Kasihan sekali Rasti, ia harus rela kehilangan janinnya. Rasti sangat menginginkan bayi itu, karena usia pernikahannya sudah sampai lima tahun, namun ia sangat sulit Hamil.
Katanya ia sudah mengalami tiga kali keguguran, keguguran kali inilah yang paling sakit hingga ia mengalami pendarahan hebat dan harus dikuret.
Dokter melakukan kuret untuk membersihkan atau mengeluarkan darah yang berada di rahim setelah keguguran. Kata Dokter kuret juga biasa dilakukan untuk menghilangkan hamil anggur, membersihkan semua plasenta yang tertinggal di rahim, dan menghilangkan poip serviks atau uterus. Pada saat penanganan, dokter akan melakukan kuret bersama dengan histeroskopi.
Sebelum kuret katanya Rasti sempat ketakutan walau waktu proses kuret hanya memakan waktu sepuluh sampai dua puluh menit saja. Rasti tak ingin dikuret lagi apapun itu alasannya. Ia merasa trauma karena sakit yang ditimbulkan.
Maya sempat berpikiran untuk mengaborsi janin yang ada di dalam rahimnya, setelah bertemu dengan Rasti dan kisahnya yang bersusah payah untuk hamil dan mempunyai keturunan, Maya mengurungkan niat buruknya.
"Harusnya aku bersyukur Tuhan memberikan amanah untuk memiliki seorang anak, walaupun dengan cara yang berbeda dari wanita kebanyakan," Pikir Maya.
__ADS_1
Anak adalah titipan Tuhan. ia harus dijaga, dirawat, dan dididik. agar menyembah Tuhan, menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
bersambung