
"Te ... teman ngobrol Kardi? eng ... gak ada tuh, kamu salah dengar mungkin!" jawab Harun gugup, ia berbohong pada Maya, padahal ia jelas melihat pria itu berbicara dengan Kardi.
Selama perjalanan menuju rumah sakit keheningan terjadi dalam mobil itu, Harun dan Maya saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Mudah-mudahan Maya percaya dengan omonganku. Kalau dia sampai melihat pria itu bisa gawat, apalagi jika Maya sempat berbicara dengan pria itu. Bisa-bisa Maya akan marah besar dan meminta cerai, Aku enggak mau hal itu terjadi. Bagaimana pun juga aku akan menutupinya dari Maya, Pria itu harus aku suruh menghilang selama-lamanya dari desa ini, kalau bisa ia pindah dari kota ini. Lagian kenapa pria itu masih berkeliaran di sekitar rumah, apa dia tidak takut identitasnya diketahui Maya.
"Kenapa Harun harus berbohong, padahal sudah jelas Dia juga melihat Kardi berbicara dengan seseorang, apa yang Harun sembunyikan dariku. Siapa pria itu? apa Harun punya masalah dengannya? Sejak Harun melihat pria itu Harun seperti gugup, dan dia seperti berusaha mengahalangi agar aku tidak melihat pria itu. Harun ... aku bukan perempuan yang mudah dibodoh-bodohi aku akan mencari tahu sendiri jika kamu tidak mau memberitahukan padaku."
"May, berkasnya udah lengkap belum? sebelum kita jauh, coba cek dulu!" ujar Harun membuyarkan lamunan Maya.
"Udah kok Mas, aku udah bawa buku imunisasi dan potocopy ktp, mana tau nanti di butuhkan disana." Maya mengeluarkan benda dan memperlihatkan isi tasnya.
-----
Sampai di rumah sakit Harun dan Maya mengantri menunggu giliran masuk ke ruang dokter. Rencananya Maya akan USG hari ini, mereka ingin melihat sendiri bentuk janin Maya. Kemudian memastikan perkembangannya, apakah janin itu sehat dan yang membuat mereka penasaran adalah jenis kelamin si jabang bayi.
"Bu Maya silahkan masuk." Seorang perawat muncul dari balik pintu ruangan Dokter kandungan memanggil Maya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam ruangan perawat mempersilahkan Maya naik ke timbangan, ternyata Maya sudah naik delapan kilo di kehamilannya yang sudah memasuki usia mendekati tujuh bulan.
"Tensinya normal ya Bu," seru perawat bermata bulat itu dari wajahnya kelihatan ia masih seumuran dengan Maya. Kemudian perawat itu membuka alat pengukur tensi dari tangan Maya.
"Silahkan naik ketempat tidur bu Maya!" perintah dokter pada Maya, sedangkan Harun duduk di bangku persis di depan dokter yang sedang menulis seauatu di bukunya, setelah itu berjalan memeriksa Maya itu.
Dokter mengambil semacam gel dan mengoleskan pada perut Maya yang membuncit, setelah itu lampu dimatikan. Maya memperhatikan pada layar televisi yang di gantung di dinding. Sedangkan Harun dan Dokter memperhatikan langsung dari layar semacam komputer, Layar itu terhubung dengan alat yang dipegang oleh Dokter berkaca mata itu.
Dokter menjelaskan bahwa bayinya sehat, denyut jantungnya normal dan berat badan bayinya tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan artinya sedang-sedang saja, sesuai dengan perkembangan bayi pada umumnya.
Ketika dokter sedang menunjukkan wajah bayi Maya, atau istilah kerennya screening wajah. Tiba-tiba Harun mendekat memperjelas melihat pada layar.
"Maaf pak kalau untuk warna kulit belum bisa dilihat dari USG, kalau bapak penasaran saya sarankan tunggu sampai lahir saja." Dokter kandungan itu menjawab pertanyaan Harun dengan tenang.
"Sebetulnya USG itu dilakukan untuk memonitor perkembangan janin pada kehamilan, USG juga dapat dilakukan sebagai alat diagnosis penyakit, alat bantu saat proses pembedahan tindakan tertentu. Contohnya pengambilan sampel jaringan. Visualisasi struktur mata, memantau gambar jaringan payudara, memantau jaringan disekitar ginjal dan lainya." Panjang lebar Dokter menjelaskan.
"Berarti bukan untuk lihat bayi aja ya dok?" tanya Harun memastikan.
__ADS_1
"Benar sekali pak," jawab Dokter menyudahi pemeriksaan ia membersihkan gel yang menempel di perut Maya, kemudian ia mempersilahkan Maya untuk berdiri.
Maya dan Harun mengucapkan terima kasih dan berlalu dari ruangan dokter kandungan yang ramah itu. Belum sampai di pintu, Harun kembali berbalik dan mendekati dokter dan berbisik si telinga dokter itu.
"Dokter boleh tidak melakukan hub**gan badan dalam keadaan hamil besar begitu?kemudian dokter kandungan itu membalas dengan anggukan dan berbisik kembali "Boleh tapi jangan terlalu di paksa ya pak." Dokter itu tersenyum.
Maya dan perawat itu saling berpandangan dan serentak menggeleng-geleng kepala karena melihat gelagat aneh para pria itu.
Sesampainya di dalam mobil harun tidak langsung menjalankan mobil, ia masih saja memandangi Maya terutama bagian yang menyembul itu.
"May boleh enggak aku pegang perut kamu?" tanya Harun gemes dengan perut yang semakin membesar itu, baru tadi ia melihat perut istrinya itupun cuma sebentar saja.
Maya mengangguk mengiyakan. Ia mengambil tangan Harun dan meletakkannya pada perutnya.
Bagaimana kisah si pria berbadan tegap?
Apa yah tanggapan Harun setelah memegang perut besar maya?
__ADS_1
bersambung dulu yah
jangan lupa like dan komenya kk makasih