Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Malam Pertama Impian


__ADS_3

Para tamu sudah mulai sepi. Kami diperbolehkan masuk ke kamar pengantin, Harun mengarahkanku kelantai dua.


Rumah ini sangat indah bangunan yang modern, dua pilar yang megah, ruang tamu yang luas dengan sofa empuk, taman depan dihiasi dengan taman bunga dan air mancur buatan, sedangkan taman samping dibangun kolam ikan hias yang di atasnya ada jembatan, furniture dan material rumah yang mewah, dan dikelilingi pagar yang tinggi.


"Eh pengantin, buru-buru amat masuk kamar udah gak tahan ya bos" Kardi membuyarkan lamunanku, aku hampir menabrak punggung Harun karena sedari tadi mengekorinya seraya menikmati keindahan rumah ini.


"Ada apa," sahut Harun terlihat kesal karena ejekan temannya. Aku tersenyum melihat tingkah Kardi


"Ibu dan pak bos menunggu di ruang tamu." Kardi tersenyum memperlihatkan barisan giginya, menaikkan alis berulang-ulang, ia bergantian melihat Maya dan Harun.


"Baiklah kami akan ke sana setelah berganti pakaian," sahut Harun masih dengan kesal karena ulah Kardi. Maya semakin tersenyum menunduk lagi-lagi karena tingkah Kardi, Harun menggenggam tangan Maya meneruskan ke lantai dua. Meninggalkan Kardi yang masih tersenyum entah apa maksudnya.


Jantung berdebar-debar, memasuki kamar pengantin. Kamar ini sungguh indah dipan mewah, sprey, lemari pakaian, dan cermin meja rias yang menggunakan warna senada.


Benar-benar penataan yang memberi kesan unik dan mewah. Aku tertegun dan kagum melihat sekeliling kemudian duduk di atas dipan, ketika Harun membuka pakaiannya perlahaan. Badanku bergetar melihat pemandangan dihadapanku. Aku belum pernah melihat pria dewasa membuka pakaiannya secara langsung, Harun mendekatiku dan menatap mataku, detak jantungku semakin tak menentu.


"Kata Kardi tadi kita ditunggu di ruang tamu kan?" kataku cepat-cepat mengalihkan dan berusaha mengilangkan kegugupan diri ini.


Harun tidak menghiraukan ucapanku, ia semakin mendekat ke wajah ini, getaran di tubuhku semakin terlihat dan Harun mengetahui itu. Mata kami saling bertemu jarak di antara kami hanya beberapa centi saja.


kreeek ... pintu bergeser, kami serentak melihat ke arah pintu.


"Waduh bos, jangan lupa kunci pintu kalau mau gituan." Kardi menutup matanya dengan jari yang direnggangkan. Aku dan Harun terkejut seketika memperbaiki posisi duduk.

__ADS_1


"Mataku jadi ternoda hiks ... hiks ...." Kardi berpura-pura menangis.


"Kardiiii, ada apa lagi gangguin orang saja? gak lucu tau nggak," bentak Harun mulai emosi pada Kardi.


"Jangan marah bos, nanti cepat tua lho bos. Bapak sama bu bos suruh bos Harun aja yang datang menghadap, sekarang bos gak pake lama." bela Kardi menelungkupkan tangan di dada berbicara lembut supaya Harun mereda.


Kardi segera pergi tidak lupa memberi senyuman padaku, senyuman yang menggelikan, setelahnya Harun turun ke ruang tamu mengikuti Kardi.


-----


Ya Tuhan aku memohon kebahagian darimu, Ampunilah dosaku yang hina ini, aku berharap semoga rumah tanggaku dengan Harun akan menjadi keluarga yang saling mengasihi, saling mencintai, dan memiliki keturunan yang lucu-lucu.


Walaupun Aku belum bisa menerima Harun dengan sepenuh hatiku, aku akan berusaha membuka hatiku sebisa mungkin, Aku berjanji akan patuh pada suamiku, memberinya cinta dan kasih sayang.


Harun kamu pria tampan, tapi kelakuanmu yang membuat aku takut. Seandainya Harun tidak suka menggoda perempuan, mungkin dari dulu aku pasti akan menerimanya dengan senang hati. Masih aku ingat ketika akan bermain ke rumah Rara, tidak sengaja melihat Harun bersama seorang perempuan mereka saling mendekat dan berciuman, aku mengenal perempuan itu, dan ia sudah menikah. Harun menggoda perempuan cantik walaupun perempuan itu sudah bersuami. Tapi sekarang Harun adalah suamiku, kenyataan yang harus aku hadapi.


"Maya, ... bapak ingin kamu patuh pada suamimu. Walaupun bapak tau kamu tidak pernah menginginkan Harun menjadi suamimu. Kamu harus ingat jodoh itu pilihan Allah, Allah lah yang menjadikan Harun jodohmu, maka kamu harus menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Tidak ada yang bapak harapkan lagi di dunia ini. Nabi kita pernah memberi pesan pada umatnya.


Ada tiga orang yang tidak akan diterima pahala sholatnya oleh Allah subhana wata ala dan tidak pula diangkat kebaikan mereka ke langit. Dari tiga pesan itu dua diantaranya adalah pesan untuk seorang istri.


Pertama hamba perempuan atau istri yang lari dari tuannya hingga ia kembali. Jika suatu saat dalam keluargamu ada masalah selesaikanlah masalah jangan pergi.


Kedua seorang istri yang dimurkai suaminya hingga dia memaafkannya. Jika kamu melakukan kesalahan mintalah Maaf dari suamimu, buat suamimu ridha, buat suamimu senang terhadapmu. Apapun masalah dalam keluargamu simpanlah rapat-rapat jangan kamu biarkan orang lain mengetahui aib keluargamu, cintai suamimu dan juga keluarganya. Buat mereka merasa senang dengan kehadiranmu, jika mereka menyinggung perasaanmu maafkanlah mereka.

__ADS_1


Bapak berharap kamu menjadi istri yang diridoi suamimu bukan istri yang dimurkai oleh suamimu, jika suatu saat Harun berbuat salah maafkanlah ... ingatkanlah dia dengan sebaik-baiknya. Jika kamu berbuat salah mohonlah maaf padanya.


Pandai-pandailah bergaul dengan keluarga suamimu, buat hati mereka senang apabila melihatmu. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan, jangan mudah tersinggung dengan perkataan mereka." Panjang lebar nasehat bapak, air mataku luruh mengingat pesan itu.


Malam semakin larut, tapi Harun belum juga datang, bagi sebagian orang malam pertama adalah hal yang dinantikan. Seperti juga diriku sebelum kejadian itu menimpaku. Apakah Harun tidak ingin menyentuhku karena aku kotor? pikiran buruk membayang di kepalaku, air mata menetes begitu saja.


Ingatan itu kembali memutar kejadian tragis di hutan. Pria memakai Penutup wajah memukul wajahku dengan keras hingga aku pingsan.


Samar aku mendengar tawa pria itu, setelah pingsan tangan kasarnya menikmati tubuh tak berdayaku, menarik paksa pakaian bagian bawah hingga kukunya yang kotor meninggalkan goresan di pinggangku, Aku menangis meraung-raung, berteriak seperti gila.


"Maya, ... bangun Maya," Harun membangunkanku dari mimpi buruk. "kamu mimpi buruk?" tanya harun.


"Harun aku takut, dia jahat, aku takut" meringkuk memeluk lutut.


"Jangan takut Maya aku di sini, aku bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu ... tidurlah aku akan menjagamu." Harun memelukku, menenangkanku. Pelukan pertama kami seharusnya adalah pelukan bahagia pengantin baru, tapi pelukan ini adalah pelukan untuk menenangkanku yang ketakutan.


"Tidurlah Maya, aku berjanji akan menjagamu," bisik Harun ditelingaku, Aku menatapnya mencari kebenaran dalam mata itu.


Harun menarik selimut menutupi sampai ke dada.


"Harun Maafkan aku ... aku belum bisa untuk ...." kata-kataku terpotong.


"Tidak apa, aku mengerti keadaanmu." Harun mengerti bahwa aku belum siap untuk malam pertama impian para gadis. dan sekarang itu bukan lagi impian bagiku, hal itu berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

__ADS_1


bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak yah?


__ADS_2