
CMIYT 12
Pagi ini Maya dan Harun berjalan-jalan di sekitar desa, menikmati embun pagi yang meninggalkan jejak daun basah disepanjang jalan, sisa kabut masih terlihat membuat pandangan mata menjadi kurang jernih.
Sudah lama Maya tidak berjalan seperti ini, rasanya tidak banyak yang berubah di desa hanya saja orang-orang sepertinya tidak seperti dulu lagi.
Biasanya setiap warga di sana jika bertemu Maya selalu bertegur sapa. Tapi kali ini setiap warga yang bertemu selalu menunduk tak berani menatap Maya, "Apa begini rasanya menjadi keluarga juragan Tohir? aku tak habis pikir mereka hidup seperti ini.
Tidak ada senyum, tidak ada tegur sapa, semua orang desa hanya menunduk. Aku lebih baik jadi warga biasa akan tetapi orang tidak takut bertegur sapa denganku," pikir Maya merasa sedih.
"Selamat pagi pak Darmo," ujar Maya ketika melihat pak Darmo sambil tersenyum seperti biasanya saat mereka berpapasan di jalan, sedangkan Harun tidak ada senyum sedikitpun. Ia hanya memperhatikan Maya yang berbicara dengan pak Darmo.
__ADS_1
"Se ... selamat pagi Maya eh Nona." pak Darmo menjawab Maya tergagap dan takut, kepalanya menunduk seperti bertemu dengan seseorang yang benar-benar dihormatinya.
"Ah ... Pak Darmo panggil Maya saja seperti biasa, tidak usah berlebihan seperti itu, saya masih Maya yang dulu bukan nona. Saya belum berubah pak," ujar Maya seadanya dia tidak melihat wajah Harun yang berubah mendengar ucapannya barusan. Yang tadinya acuh tak acuh sekarang matanya menyipit pertanda ia tidak suka.
"Baiklah Maya, Bapak permisi dulu," ujar pak Darmo tergesa-gesa dari caranya berbicara sepertinya ia tidak ingin berlama-lama mengobrol dengan keluarga juragan Tohir apalagi sampai berurusan dengan keluarga itu.
Belum sempat Maya menjawab pak Darmo sudah berlalu dari hadapan mereka, Maya heran dengan sikap pak Darmo tetangganya. Rumah mereka hanya dibatasi beberapa rumah saja.
"Pak Darmo memang seperti itu kalau bertemu dengan aku dan keluargaku .... Dahulu Bapak dan Pak Darmo itu bersahabat, sejak kecil mereka sudah dekat, tapi semenjak Bapak dan Pak Darmo bertengkar, mereka tak pernah lagi saling menyapa bahkan padaku pun Pak Darmo tidak mau berbicara, seperti yang kamu lihat tadi." Harun memandang jauh kedepan mengenang pertengkaran Pak Darmo dan Bapaknya Juragan Tohir ketikaiIa masih usia belasan tahun.
"Hari itu Pak Darmo datang kerumah, ia marah-marah pada Bapak dan menuduh Bapak telah mencuri tanahnya dengan cara memindahkan patok kayu pada batas tanah. Tanah itu baru saja di beli oleh Bapak dan berbatas dengan Pak Darmo, Bapat tidak terima ia dituduh mencuri oleh orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri. Untuk menyelesaikan masalah itu kemudian dipanggillah pemilik lahan sebelumnya dan di ukur kembali menurut surat tanah masing-masing disaksikan pak Darmo dan pak kepala desa sebagai saksi. Ternyata Pak Darmo lah yang tersalah waktu itu, Pak Darmo hanya melihat bambu yang ia tanam tanpa mengukurnya sesuai surat tanah. Pak Darmo memang menanami bambu untuk menjadi pembatas tanahnya karena tanaman bambu bisa tumbuh bertahun-tahun. Ia tidak tahu jika menggunakan tumbuhan sebagai batas itu tidak tepat." Harun bercerita panjang.
__ADS_1
"Jadi karena itu Pak Darmo takut bicara padaku?" ujar Maya senyum-senyum sendiri ternyata cerita Harun beda dengan yang ia pikirkan sebelumnya.
"Kamu tau May ... sejak saat itu juga Bapak sangat ditakuti warga, karena Bapak tegas tidak bertele-tele. Ia tidak memandang sahabat ataupun keluarga. Jika salah Bapak akan menyalahkan, Jika benar Bapak akan membenarkan. Sangat jauh berbeda dengan yang orang katakan, kalau Bapak itu orang yang kejam dan tidak punya rasa kasihan. Karena sifat Bapak yang tegas ia di anggap kejam, karena sifat tegas itu juga Bapak di anggap tidak punya rasa kasihan."
"Begitu ternyata, aku juga berpikir seperti mereka, maaf yah aku sudah salah paham sejak lama pada keluargamu Mas," ujar Maya malu-malu.
"Kenapa bilangnya keluargamu, sekarang kan kita sudah jadi keluarga. Berarti keluarga kita, jangan salah lagi yah." Harun mencubit hidung mungil Maya.
"Aw sakiiit ...." Maya berteriak menghadapi serangan dadakan itu, kemudian hendak membalas namun tangannya tidak sampai karena Harun mengelak dan tubuh Harun juga jauh lebih tinggi, membuat gadis bertubuh mungil itu susah untuk meraih hidung Harun. Tiba-tiba kaki Harun terpleset di jalan tanah yang lembab, tangannya tak sengaja meraih lengan Maya, Maya tidak kuat menahan beban yang tidak seimbang itu akhirnya mereka tumbang bersama-sama. Tubuh Maya mendarat dengan empuk pada tubuh Harun, berbeda dengan Harun yang mendarat di bebatuan.
bersambung
__ADS_1