
Pikiran Harun masih berdebat tentang apa yang akan ia lakukan untuk mangambil asam jawa itu di tempat pemandian perempuan.
Harusnya aku menolak saja tadi, kenapa aku begitu ceroboh langsung mengiyakan permintaan Maya yang aneh itu. Kenapa harus asam jawa? kenapa enggak buah mangga muda saja, kan aku mudah apalagi sekarang pohon mangga udah mulai berbuah lagi.
"Harun, kenapa sih kamu begitu lemah kalau maya meminta sesuatu, pasti kamu akan langsung mengiyakan, kenapa sih.
Aku lemah karena aku mencintai Maya melebihi diriku sendiri, apapun kulakukan demi mendapatkan dia.
Harun, Maya tidak pernah mencintai kamu, ia hanya mencari perlindungan saja dan memanfaatkanmu saja.
Tidak, itu tidak benar aku melihat tatapan Maya, itu tatapan tulus bukan tatapan memanfaatkanku.
Kenapa kamu begitu peduli dengan janin itu, belum tentu janin itu dari benih yang kau tanamkan?
__ADS_1
Biarkan saja toh, walaupun janin itu bukan dari benih yang aku tanam tapi ia adalah darah daging Maya, dan tumbuh di rahim Maya, itu sudah cukup bagiku, Aku bisa membahagiakan Maya.
Terus sekarang apa rencanamu? bagaimana caramu agar bisa sampai di pemandian perempuan dengan aman tanpa resiko apapun.
Aku akan ... aku akan memikirkannya nanti setelah sampai di sana. Seperti kata pepatah tak satu jalan ke roma."
Pria itu berjalan seperti orang hilang akal berbicara sendiri dan menjawab sendiri pertanyaannya. Dalam perjalanan menuju pemandian perempuan itu, Harun sempat melihat seorang wanita paruh baya yang keluar dari tempat pemandian, membawa seember cucian basah, terbesit pikirannya untuk meminta tolong kepada wanita itu.
"Bu ... sebentar Bu, boleh saya meminta tolong?" ujar Harun ragu-ragu untuk mengutarakan niatnya. Ia mendekati wanita itu, wanita itu melihat Harun dengan tatapan curiga.
"Iya benar Bu, saya Harun anaknya juragan Tohir. Kalau boleh saya minta tolong, untuk mengambilkan asam jawa yang ada di seberang sungai sana." ujar Harun sembari menunjuk pohon asam jawa yang terlihat hanya daunnya saja.
"Maaf Nak, saya bukan tidak membantu tapi saya buru-buru dan saya tidak bisa melewati sungai karena arusnya deras. Kamu saja langsung ambilkan," ujar wanita itu kemudian hendak berlalu, tapi Harun menghalanginya.
__ADS_1
"Bagaimana saya bisa mengambilnya saya kan laki-laki? sedangkan tempat itu pemandian perempuan." Harun mulai prustasi karena wanita paruh baya itu tidak ingin membantunya.
"Tunggu sebentar! saya lihat dulu siapa saja yang ada di sana?" ujar wanita itu berlalu, ia kembali Ke pemandian perempuan itu.
Di jalan Harun menunggu apa yang akan wanita itu lakukan, ia kembali bersemangat walaupun belum mengatahui apa rencana wanita itu, dari jalan Harun melihat ke arah pemandian. Pemandian itu jalannya menurun kemudian disekat dengan pelepah daun kelapa sehingga dari luar tidak tampak apa yang terjadi di sana.
Dari kejauhan terlihat pohon asam jawa yang mungkin sudah berusia puluhan tahun, batangnya tidak akan bisa di panjat lagi saking besarnya, daunya terlihat melambai-lambai ditiup angin buahnya bergelantungan di sana seperti anak-anak yang sedang bermain ayunan dengan riang gembira.
Sekitar lima menit Harun menunggu akhirnya wanita itu datang juga, terlihat wajahnya tidak bersemangat, Harun kawatir hanya dengan melihat wajah itu.
bersambung dulu ya kk
salam dari author
__ADS_1
semoga kalian sehat selalu biar bisa baca karya aku 😊