Cinta Maya Istri Yang Terbuang

Cinta Maya Istri Yang Terbuang
Periksa ke dokter


__ADS_3

Beberapa bulan tidak periksa Hindun mendesak agar Maya dan Harun pergi ke dokter untuk mengetahui kondisi cucunya.


"Mas, kita jadi kan kedokternya?" ujar Maya pada suaminya yang sedang menulis sesuatu di buku catatannya.


"Iya sayang, kita ke dokter sabar yah, aku selesaikan ini dulu," sahut Harun tanpa menoleh dari wajahnya terlihat ia sangat serius dengan apa yang ia kerjakan sekarang.


"Ya sudah Mas, aku tunggu di bawah yah." Maya beranjak kelantai satu, ia bersusah payah menuruni tangga, karena perut yang membengkak menghalangi pandangannya.


Badan maya yang kecil mungil itu tidak seperti orang hamil, perutnya menonjol kedepan Maya malah seperti orang yang menyembunyikan bola dalam bajunya.


"Eh Maya hati-hati jalannya yah?" Kardi yang sedang duduk di kursi ruang makan melihat Maya menuruni tangga sangat pelan. "Bisa May? ... kalau enggak aku pegangin yah?" lanjutnya.


"Enggak usah Di, aku bisa kok," sahut Maya masih berjalan perlahan menuruni tangga.


"Yah enggak jadi deh, pegang tangan mulus maya," ujar Kardi bergumam.

__ADS_1


"Kenapa Di? kamu ngomong apa sih? aku enggak dengar." Maya bertanya karena samar-samar ia seperti mendengar Kardi berbicara.


"Oh Enggak ada apa-apa kok May, aku cuma kasihan sama kamu. Kayaknya berat bangat itu yang dibawa. Emang kamu nyimpan apa an sih di situ?" Kardi bertanya sambil nyengir kemudian menunjuk perut Maya.


"Apa an sih Kardi, gemes deh sama kamu. Aku cubit pakai tang baru tau rasa kamu," balas Maya enggak mau kalah.


"Kejam amat sih May ... cubit pakai tangan kamu sih aku enggak apa-apa, aku malah senang," seru Kardi lagi.


Maya akhirnya sampai juga di tangga terakhir ia berjalan ke teras samping di ikuti Kardi, Maya ingin menikmati cantiknya ikan-ikan disana. Mereka berpisah di pintu samping karena Kardi melanjutkan langkahnya ke pagar depan.


Setelah lama menunggu Harun yang tak kunjung datang menemuinya. Karena bosan Maya mengisi waktunya dengan memberi makan ikan hias di kolam.


Samar-samar Maya mendengar suara Kardi dan seseorang, dan suara itu begitu familiar. Maya merasa ia pernah mendengar suara pria itu, kemudian Maya menoleh ingin memastikan siapa pemilik suara itu.


"May ... maaf yah kamu lama menunggu!" ujar Harun tiba-tiba datang mengejutkan Maya yang sedang mencari asal suara misterius itu.

__ADS_1


"Ah kamu Mas, bikin aku kaget saja," ujar Maya terkejut sambil memegangi dada, jantung Maya serasa akan terjatuh dari tempatnya.


Karena masih penasaran dengan si pemilik suara, Maya kembali menoleh ke arah gerbang. Harun memperhatikan Maya kemudian matanya menoleh ke arah gerbang. Dari kejauhan Harun melihat Kardi dan seorang pria berdiri bersandar pada pintu bagian luar pagar, mereka sedang membicarakan sesuatu tapi kata-katanya tidak jelas terdengar.


"May ... May, kita pergi sekarang yah?" pinta Harun, ia berjalan menghalangi pandangan Maya ke arah pagar. Membuat Maya teringat mereka akan pergi ke dokter.


"Oh iya, aku hampir lupa. Iya Mas, kita berangkat sekarang yah!" ujar Maya ia melupakan si pemilik suara itu, karena lebih penting ke dokter untuk saat ini.


Saat mobil mereka akan keluar dari pagar, Maya masih menyempatkan diri untuk menuntaskan rasa penasarannya, tapi setelah sampai di sana ia tidak melihat siapa-siapa lagi.


Harun melihat gelagat Maya yang aneh itu, "Cari apa sih May? dari tadi seperti mencari seauatu?" tanya Harun dengan nada tidak sabar dengan tingkah istrinya itu.


"Mas, lihat enggak tadi ada teman ngobrol Kardi? sepertinya aku kenal suaranya, suara itu seperti pernah aku dengar tapi aku masih belum tau kapan dan dimana aku mendengarnya?"


"Te ... teman ngobrol Kardi? eng ... gak ada tuh, kamu salah dengar mungkin!" jawab Harun gugup, ia berbohong pada Maya.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2