
Kayla memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan sebuah rumah kosong. Rumah itu mempunyai halaman yang luas dan menurun dari jalan aspal. Rumah tanpa cahaya itu gelap gulita. Atapnya sebagian sudah rapuh, rumah panggung sederhana itu dindingnya terbuat dari papan dan memiliki tangga di depan teras. Rumah ini sepertinya sudah lama di tinggalkan pemiliknya.
Dari kejauhan mobil gadis yang baru saja pulang dari kota itu bergoyang, entah apa yang mereka lakukan di dalamnya. Sudah sekitar lima belas menit mobil itu tak henti berdangdut ria.
Hujan yang lebat membuat orang malas untuk berlalu lalang di jalanan. Orang desa lebih memilih bercengkrama dengan keluarganya di rumah. Nampak rumah rumah warga tertutup rapat karena hujan lebat yang turun.
Akhirnya mobil itu berhenti bergoyang, Kayla membereskan pakaiannya dan rambut yang acak acakan. Begitu juga dengan Harun, membereskan pakaiannya, kemudian duduk bersandar sambil memejamkan mata.
"Run ... makasih yah, untuk semuanya. Aku sungguh bahagia bersamamu," ujar Kayla sambil mengecup tangan Harun yang masih memejamkan mata.
Harun terdiam tak menjawab Kayla sama sekali, pikirannya kalut. Ada rasa penyesalan dalam dirinya.
"May ... maaf aku sudah berkhianat. Maafkan aku." Harun membatin.
"Aku antar kamu pulang yah, mungkin istrimu sudah menunggu!" seru Kayla kemudian, karena Harun tidak merjawabnya.
__ADS_1
"Kay ... kamu enggak apa apa kita melakukan ini tanpa ikatan?"
Kayla menghentikan tangannya yang akan memutar kunci mobil.
"Harun ... aku tidak apa apa. Aku melakukannya dengan tulus. Aku memberinya untukmu saja. Untukmu yang sudah lama aku impikan. Untukmu yang aku cintai." Kayla menjawab Harun sambil menggenggam tangan pria di hadapannya.
-----
Melihat tangannya yang berdarah, Maya membersihkannya dengan air kran. Ternyata tanganya mengalami luka sobekan di jari telunjuk.
Maya berjalan mencari obat obatan yang biasanya berada di lemari dekat ruang makan.
Wanita hamil besar yang sedang berdiri di atas kursi itu, perlahan turun tapi kursi itu oleng membuat ia ikut oleng dan jatuh bersama kursi yang ia gunakan.
Maya terjatuh tapi ia masih berusaha berdiri. Kalau saja ada orang di rumah itu yang melihat Maya melakukan semua itu, mungkin ia sudah di nasehati habis habisan. Tapi sekarang ia sendirian tak ada orang di sana.
__ADS_1
Dari luar rumah terdengar mobil Harun memasuki halaman samping. Maya bergegas memperbaiki kursi yang terjatuh kemudian membersihkan sisa beling yang ada di dapur. Ia tidak mau Harun melihat itu semua. Bisa bisa ia dinasehati tujuh hari tujuh malam nantinya. Setelah selesai Maya berjalan membukakan pintu samping.
"Kardi ... Mas Harun mana?" tanya Maya karena tidak menemukan suaminya di sana.
"Oh si Bos, sebentar lagi juga pulang May, udah kangen aja baru juga sekali ini Harun pulang telat." Kardi menggoda Maya yang dari tadi gelisah sendirian di rumah megah itu.
"Bukan gitu Di, aku sepi di rumah sendirian. Ibu sama Bapak belum pulang dari tadi." Ucap Maya kemudian melihat ke arah mobil yang datang memasuki pekarangan rumah.
Mobil hitam itu milik juragan Tohir. Juragan Tohir keluar dari mobil diikuti ibu Hindun membawa belanjaan yang banyak sekali.
"Kardi tolong bantu Ibu. Bawain belanjaan, di mobil masih banyak." Perintah Hindun.
"Harun kemana May?" tanya hindun pada Maya yang berdiri di pintu.
"Belum pulang Bu," jawab Maya dengan nada pelan.
__ADS_1
"Si Bos, katanya ketemu temannya ada urusan penting. Bentar lagi juga pulang Bu." Kardi menjawab pertanyaan semua orang yang ad di sana.
Bersambung~