
Mentari pagi telah datang menyambutku memberi harapan, membuatku ingin hidup kembali dengan cinta pada suamiku.
Tatapan mata Harun malam itu memberi kekuatan, aku akan berusaha untukmu suamiku.
Aku berdiri di tepi kolam ikan. Rasa bahagia menjalar dalam sanubariku. Ikan hias berwarna merah dan putih berenang bebas mengelilingi kolam alangkah bahagianya jika aku menjadi ikan. Tidak akan merasakan pahitnya hidup seperti yang kualami.
"Kamu lagi ngapain sayang? aku cari kamu di kamar, ternyata kamu sembunyi di sini." Harun tersenyum dan memegangi pinggangku.
Harun seperti malaikat penolong bagiku, ia hadir ketika aku betul-betul membutuhkan seseorang untuk bersandar. Ia menolongku disaat aku dan harapan hidupku sudah tidak ada, bagaimana jika semua orang tau aku diperkosa. Kemudian semua menggunjingkanku yang tidak bisa menjaga diri tidak ada pria yang mau menikahiku. Harun menyelamatkanku dia-lah dewa penyelamat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku.
"Terima kasih Mas." Pertama kali aku memanggilnya dengan panggilan Mas, ia tampak keheranan.
"Mas? dan ... terima kasih untuk apa?" dahinya mengerut memandangiku lebih dekat.
"Aku memanggilmu Mas boleh kan? sebagai Istrimu sudah sepantasnya aku menghormatimu Mas. Aku tidak ingin menjadi istri durhaka ... Mas, aku berterima kasih karena kamu masih mau menerima aku dan kekuranganku. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, seandainya kamu tidak datang waktu itu mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini." Maya mengusap butiran yang menetes di pipinya.
"Maya aku sungguh-sungguh mencintaimu, apapun akan kulakukan untukmu aku tidak rela kamu terluka. Maya ... percayalah padaku aku menyayangimu setulus hatiku, aku ingin bersamamu selama sisa hidupku. Hanya kamu yang ada di hatiku ini, aku selalu berusaha agar aku mendapatkanmu, sampai kamu benar-benar mencintaiku." Harun memeluk Maya memberikan kecupan hangat di kening Istrinya.
Harun menyatakan isi hatinya, Maya bergetar mendengarkan isi hati seorang playboy yang berusaha ia jauhi. Namun taqdir malah mendekatkan mereka dalam ikatan suci pernikahan
"Ya Tuhan, engkaulah yang pengasih di antara semua pengasih jadikan aku dan suamiku hamba yang sholeh dan sholehah, setia padaku selama hidupku, jadikanlah aku dan sumiku berkumpul kelak di syurgamu. Anugerahkanlah pada kami anak-anak yang sholeh, sholehah. Jauhkanlah aku dan suamiku dalam kelalaian dan dosa-dosa. Ya Tuhan, jika aku dan suamiku tersesat tunjukilah kami, hanya Engkaulah sebaik-baik pemberi petunjuk." Batin Maya, sekarang ia merasa nyaman berada dipelukan pria yang dulu selalu ia tolak.
"Maya kamu sudah makan? Kita makan bersama yah!" Harun memegangi perutnya, sepertinya ia sudah kelaparan.
"Bapak sama ibu? mereka kemana? dari tadi aku tidak melihat mereka?" tanya Maya sambil melihat sekitarnya. Rumah besar ini sepi seperti tidak berpenghuni, untuk apa membangun rumah sebesar ini kalau tidak ada penghuninya, pikir Maya.
"Bapak dan Ibu pergi ke kota, katanya ada urusan di sana. Nanti malam juga pulang," sahut Harun.
__ADS_1
Sebenarnya Maya hanya berbasa-basi menanyakan orang tua Harun. Maya lebih nyaman kalau tidak ada mertuanya. Tatapan ibu mertunya tidak menyenangkan setiap mereka bertemu saling menatap, padahal Ibu mertunya adalah dikenal orang karena keramahannya.
"Malah melamun, kapan makannya?" tanya Harun. "Kamu bisa masak untukku kan? Aku tidak suka sayur nangka aku mau makan tumis kangkung?" pinta Harun. Duduk di ruang makan, aku mengiyakan permintaannya bergegas ke dapur yang berada persis bersebelahan dengan ruang makan.
Maya tersenyum geli melihat Harun seperti anak kecil yang sedang menunggu makanannya datang.
"Cie cie ... cie pengantin baru dimasakin sama istrinya, mau juga dong istrinya eh maksud aku, mau dong masakannya?" gurau Kardi.
Mata Harun melotot melihat Kardi, Kardi pura-pura ketakutan dan memuji Harun agar mereda.
"Ampun bos, Bos yang tampan, baik hati, rajin menabung, anak sholeh, gak sombong, pinter, orangnya baik, dan suka sedekah." pujian Kardi berhasil meredakan marah Bosnya.
Selesai makan Kardi dan Harun masih duduk di ruang makan. "May ... dulu waktu kelas tiga Sekolah Dasar bosku yang tampan ini masih ngompol loh," ujar Kardi tanpa dosa membuat wajah Harun memerah, menahan malu karena rahasianya dibongkar oleh sahabatnya sendiri.
"Oh ya," sahut Maya kemudian tertawa melihat wajah Harun yang semakin memerah.
Harun meredam emosinya tanpa membalas Kardi, karena ia bahagia mendengar tawa gadis pujaannya. benar kata orang-orang ketika jatuh cinta, seorang kekasih akan rela dihina asalkan kekasihnya bahagia.
Seseorang berkata cara yang paling mudah untuk tahu apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak, adalah ketika kita merasa lupa waktu ketika bersamanya.
-----
Beberapa hari di rumah Harun Maya merasa seauatu yang mengganjal dalam pikirannya dan harus ia tanyakan pada Harun.
Setelah seharian beraktifitas biasanya Harun masuk ke kamar dan langsung tertidur, Maya merasa kurang enak mengganggu tidur Harun.
Hari ini Maya akan langsung menanyakan pada Harun sebelum pria itu tertidur.
__ADS_1
"Mas ..." panggil Maya saat harun akan menarik selimut dan memejamkan mata.
"Ada apa May? ... kamu butuh sesuatu? ... apa kamu sakit?" tanya Harun heran, "tidak seperti biasanya, hari ini Maya mengajaknya berbicara sebelum tidur, ada apa gerangan," pikirnya.
"Aku ingin menjadi istrimu seutuhnya," ucap Maya ragu.
"Kamu sudah jadi istriku secara agama dan negara," ujar Harun lembut.
"Maksudku, aku ingin ...." ucap Maya masih ragu, ia menggigit bibir bagian bawah dan menunduk.
"Katakan saja Maya aku mendengarkanmu, apa yang kamu inginkan?" jawab Harun mendekat pada Maya.
"Kita sudah menikah tapi ... aku belum pernah sekalipun memberi hak kamu sebagai suamiku." Ujar Maya tersipu.
"Maya aku sudah pernah katakan padamu, aku akan menunggu kamu siap," menggenggam tangan istrinya menatap mata Maya.
"Aku sudah siap mas, aku siap memberikan semua yang kupunya, bahkan aku rela memberi hidupku untukmu," ujar Maya menatap mata suaminya.
"Maya katakan padaku sekali saja bahwa kamu mencintaiku? katakan padaku kamu menyayangiku."
"Aku mencintaimu, aku menyayangimu ..."
Maya dan Harun saling menatap dan mendekat satu sama lain, kini tidak ada jarak diantara mereka, jiwa dan raga telah menyatu, menyesapi nikmat setetes syurga pemberian sang pencipta. Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Maka agungkanlah Tuhanmu. Ia Maha Suci, Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan juga dari dirimu. untukmu isteri-isteri dari jenismu Menciptakanmu sendiri supaya kamu tentram dan Ia memberi kasih sayang padanya. Ini merupakan tanda-tanda bagi yang berfikir.
Maya dan Harun terlelap dalam bahagia, mereka tidur berpelukan dan tangan saling menggenggam erat seolah tidak ingin di pisahkan. Senyum terukir di wajah mereka menyelami dunia mimpinya masing-masing.
__ADS_1
bersambung