
Betapa tak punya hatinya seorang ibu apabila ia membuang anakny. Dan yang paling patal adalah jika ia sempat membunuh anaknya sendiri, padahal banyak di luar sana pasangan yang sangat mendambakan kehadiran buah hati.
Seperti cerita tetangganya, setiap malam mereka bersujud meminta kemurahan hati sang pencipta, menangis dalam hati ketika melihat keluarga yang lengkap seorang ibu, dan ayah berjalan beriringan memegang tangan anaknya, anak itu itu tertawa seolah ia mendapat harta karun, seolah ia diberi sepeda baru, atau seolah ia adalah orang yang paling bahagia di dunia.
Banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun menunggu bahkan puluhan tahun, mendamba, mengharap tak berhenti berusaha, sebagian mereka ada yang ke dukun, tukang urut, dan juga konsultasi ke dokter. Mereka tidak memperdulikan akan mengeluarkan biaya yang amat sangat banyak demi penerus keturunan, demi buah cinta, demi tangisan di dalam rumahnya.
Maya bersyukur walaupun ia masih di ikuti rasa cemas bagaimana nasib akan mempermainkannya kelak? bagaimana rupa anak itu apakah akan mirip dengan yang mempunyai benih? dan siapa pemilik benih yang ada di dalam rahimnya? Walaupun Harun sudah menerima anak ini dengan rela, mau mengakui anak ini sebagaimana anaknya sendiri, tapi bagaimana dengan orang tua Harun. Akankah mereka juga akan menerima anak ini, anak yang belum jelas siapa bapaknya? pikiran Maya menjadi kacau karenanya.
"Kenapa melamun Nak?" tanya Narti karena dari tadi ia melihat putrinya hanya diam tidak menanggapi pembicaraan. Ia asyik dengan pikirannya sendiri.
"Tidak apa-apa Ibu, Aku hanya lelah," jawab Maya sekenanya.
"Kalau kamu lelah sebaiknya kamu tidur saja," ujar Narti kemudian membaringkan dan menyelimuti Maya.
"Harun kamu harus sigap kalau Maya menginginkan sesuatu. Jangan sampai terjadi yang lebih buruk lagi, aku tidak mau kehilangan cucu pertamaku, jaga dia kami akan pulang." Juragan Tohir memerintah anaknya yang dibalas dengan anggukan oleh Harun. Kemudian mereka berpamitan untuk pulang.
Juragan Tohir sudah mengetahui kehamilan Maya dari kardi. Kardi sempat pulang untuk mengambil berkas adminiatrasi yang tertinggal, pakaian ganti untuk Maya dan Harun, dan juga sekalian membawa mertua Maya, juragan Tohir, Hindun dan orang tua Maya, Karyo dan Narti.
Hindun sudah mengetahui permasalahannya dengan Maya, ternyata Maya tidak tau apa-apa, Maya tidak tau kalau Hindun mempunyai penyakit darah tinggi dan harus diet garam, selain garam Hindun juga menghindari gula, karena gula bisa menjadi pemicu darah tingginya kambuh. Makanan lainnya yang ia hindari adalah gorengan, susu, acar, saos tomat dan kafein.
Harun menceritakan semua pada ibunya melalui telpon seluler, saat Maya pingsan. Ibunya tidak menyangka hal itu, ia berjanji tidak mudah marah. Apalagi kondisi Maya sedang lemah akibat tidak adanya makanan masuk dalam tubuhnya, Hindun merasa bersalah namun ia menutupinya dan masih enggan untuk meminta maaf.
-----
__ADS_1
Hari ini Maya sudah diperbolehkan untuk pulang. Pesan Dokter, Maya harus istirahat total pekerjaan rumah tangga pun tidak boleh oleh dokter. Pisik Maya lemah begitu juga kandungannya tergolong lemah.
Dokter memberikan resep berupa vitamin tambah darah dan suplemen makanan lainnya yang baik untuk Ibu hamil. Harun di ingatkan dokter untuk menjaga Maya agar tidak terulang lagi kejadian seperti kemarin, jika sempat terulang kemungkinan besar janin tidak akan dapat diselamatkan lagi.
Sesampainya di rumah Maya dan Harun disambut Hindun dan juragan Tohir dengan gembira, perlakuan Hindun berubah setelah mengetahui bahwa Maya hamil. Artinya ia akan segera memiliki cucu, cucu pertama keturunan Tohir Atmaja, kelak akan menjadi penerus menjadi pemilik perkebunan kelapa sawit dan usaha mereka yang lainnya.
"Maya kamu mau ibu masakin apa hari ini?" ujar Hindun bersemangat. Maya yang baru berbaring di tempat tidur tersenyum heran dengan ulah mertunya.
"Ibu, Maya mau istirahat dulu, biarkan ia tidur dulu biar tubuhnya segar," ujar Harun menjawab ibunya yang terlalu bersemangat.
"Iya deh, nanti kalau udah bangun bilang Ibu ya!" Hindun pergi meninggalkan mereka berdua.
Hindun mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian, bersih-bersih juga memasak.
"Bu kata Maya, dia ingin makan rendang, kalau boleh ibu masak sendiri ya, kayaknya Maya ngidam masakan ibu," ujar Harun memelas pada ibunya. Ketika Hindun baru saja selesai mencuci pakaian dan baru menghempaskan diri di sofa sambil memegang remot televisi di tangannya.
"Baru juga mau istirahat, sekarang harus masak, ok baiklah demi cucuku," pikir Hindun.
"Ya sudah ibu masakkan khusus untuk menantu Ibu dan calon cucu ibu," ujar Hindun tersenyum bahagia melawan rasa lelahnya sendiri.
Hindun mempersiapkan bahan-bahan masakan ternyata bahannya tidak lengkap, kemudian ia mencari Kardi untuk membeli bahan yang kurang. Namun ia tidak menemukan Kardi.
"Terpaksa aku sendiri yang ke warung, padahal badanku sudah letih. Demi cucuku aku rela, daripada cucuku nanti ileran amit-amit," ujar Hindun sendirian.
__ADS_1
Akhirnya selesai juga Hindun memasak rendang, Maya makan dengan lahap sekali, Hindun menelan ludah melihat rendang yang ia masak susah payah, hanya tersisa dua potong saja. Teringat betapa penuh perjuangan ia melewati terik matahari sampai kepanasan waktu pergi ke warung, membuat wajahnya terbakar, perawatan ala skincare mahal tidak berguna lagi. Tapi ia tetap bersabar demi cucunya.
"Alhamdulillah masih dapat dua potong," Hindun bersyukur dalam hati. "Kenapa rasa dagingnya tidak enak yah," Hindun menggigit daging dan mengunyahnya lagi. kemudian ia muntahkan.
"Uweee ... ternyata lengkuas, kebangetan Maya, dia cuma ninggalin lengkuas buatku, padahal aku sudah capek masak," ujar hindun mulai marah.
"Ada apa Bu kenapa wajahnya kesal gitu," ujar Harun yang baru turun dari lantai dua, ia baru saja mengantarkan Maya ke kamar.
"Kenapa Maya tega sama ibu? Apa salah Ibu? bersusah payah ibu masak rendang, masak ibu cuma dapat lengkuas aja?" ujar hindun protes.
"Bukannya ibu bilang mau masak untuk Maya dan cucu Ibu?" jawab Harun menaikkan alisnya sebelah.
"Oh iya juga sih," Hindun menggaruk dahinya yang tidak gatal.
Di lantai dua Maya mendengarkan percakapan Harun dan mertuanya ia tertawa cekikikan sambil menutup mulut.
"Sekarang gantian ya Bu. Ibu juga harus merasakan betapa letihnya mengerjakan pekerjaan rumah sebesar ini dan masakan yang tidak dihargai, tapi kalau aku masih menghargai masakan Ibu, buktinya aku habisin rendangnya ibu yang enak itu." Maya bermonolog sendiri.
Sebenarnya Maya sudah merasa sehat, setelah meminum obat dan rasa mualnya sudah berkurang. Apalagi semua orang sekarang memanjakannya, apa yang ia minta pasti dikabulkan, biasanya Hindun dan juragan Tohir sangat tidak enak melihat wajahnya. Tapi sekarang berubah, ini berkat janin di perutnya. Masalah siapa bapaknya Maya membiarkan semua berlalu, sekarang ia menikmati manisnya menjadi Ibu hamil.
Maya duduk santai di balkon sambil menikmati matahari sore, "Besok aku mau dimasakin apa lagi ya," pikir Maya senang menunggu hari esok.
Seorang pria bertubuh tinggi besar lewat di jalan depan rumah, pria itu tersenyum pada Maya, membuat Maya heran, "Siapa gerangan pria itu? kenapa rasanya aku tidak asing dengan badannya yang tegap?" pikir Maya. Saat Maya ingin melihat pria itu lebih jelas, pria itu sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
bersambung