
Aleandro, Max, Nathan dan Yohanes masuk ke dalam mobil menuju ke perusahaan Aleandro. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit mereka sudah sampai di perusahaan. Yohanes memarkirkan mobilnya di parkiran khusus CEO kemudian mereka berempat berjalan ke arah lobby perusahaan.
Semua pegawai serentak menundukkan wajahnya dan menyapa ke empat pemilik perusahaan.
" Selamat pagi tuan." Jawab mereka serempak
Ke empat pria tampan tersebut berjalan tanpa menjawab sapaan mereka menuju ke pintu lift.
" Aku dengar tuan muda pertama sudah menikah sedangkan ke tiganya belum. Seandainya saja salah satu dari ke tiga bos kita menyukaiku senangnya hatiku." Ucap salah satu karyawati.
" Iya seandainya saja." Ucap karyawati ke dua
" Akhhhhhhhh... tampannya..." Teriak karyawati lainnya.
" Hush ... jangan berisik nanti di pecat baru tahu." Ucap salah satu dari mereka.
" Tapi tumben tuan muda Aleandro dan tuan Max datang bersama tuan Nathan dan tuan Yohanes apa ada masalah ya?" Tanya salah satu dari mereka.
" Aku tidak tahu, tanyalah kalau kamu berani." Jawab temannya dengan nada cuek.
Mereka pun berkerja sambil mengobrol membicarakan tentang ke tiga CEO yang belum menikah sedangkan ke dua CEO dan ke dua wakil CEO masuk ke dalam ruangan Aleandro. Mereka duduk di sofa untuk membicarakan langkah selanjutnya.
" Aku ingin bertanya apakah perusahaan Pakusadewo ada kerjasama dengan perusahaan kita?" Tanya Aleandro
" Ada kak." Ucap Maximus
" Memang kenapa kak?" Tanya Yohanes
" Kita batalkan kerjasama kita dengan perusahaan Pakusadewo, tidak perduli kita harus membayar penalti." Ucap Aleandro
" Putranya yang bernama Tio Pakusadewo telah berani-beraninya berencana untuk mencelakai istriku." Sambung Aleandro
" Apa??? kurang aj*r berani-beraninya mau mencelakai kakak ipar." Ucap Nathan
" Apakah Tio Pakusadewo sudah di tangkap kak?" Tanya Yohanes
" Sudah dipindahkan ke alam lain sama daddy kita." Ucap Aleandro dengan nada santai.
" Baguslah kalau begitu." Jawab Nathan dan Yohanes serempak.
" Aku akan memutuskan kerja samaku dengan perusahaan Pakusadewo." Sambung Yohanes.
" Baguslah lakukan sekarang dan aku ingin perusahaan Pakusadewo diakuisisi dan semua aset berharganya di sita oleh bank, aku ingin orang tua Tio Pakusadewo bangkrut karena dengan tidak mempunyai uang maka Tio Pakusadewo sangat mudah kita temukan." Ucap Aleandro
" Baik kak." Jawab ke tiganya serempak.
__ADS_1
" Satu lagi sebarkan anak buah kalian untuk mencari di mana Tio Pakusadewo jika sudah tahu beritahu kakak keberadaannya. Kakak juga sudah menyebarkan anak buah kakak." Ucap Aleandro.
" Baik kak." Jawab ke tiganya lagi dengan serempak.
Mereka berempat mulai membuka laptopnya masing-masing dan mulai melakukan tugasnya karena perusahaan milik Pakusadewo termasuk perusahaan besar tapi lebih besar milik daddy mereka yang bernama Thomas Alexander. Tiba-tiba ponsel milik Max berdering dan Max langsung mengangkat ponselnya.
Max berbicara dengan anak buahnya selama kurang dari dua menit kemudian memutuskan secara sepihak.
" Kak Aleandro, anak buahku sudah menemukan dimana persembunyian Tio." Ucap Maximus sambil berdiri.
" Kalau begitu kita berdua ke sana." Ucap Aleandro sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu.
" Aku ikut kak." Pinta Nathan dan Yohanes
" Tidak boleh kalian berdua di sini dan lanjutkan pekerjaan kalian untuk membuat mereka bangkrut. Oh ya satu lagi gantikan pekerjaan kakak mengecek dokumen kalau oke tandatangani dokumennya." Perintah Aleandro sambil membuka pintu dan berjalan meninggalkan ruangannya dengan diikuti adiknya yang bernama Max.
" Aish kak Aleandro nyebelin." Gerutu Nathan dan Yohanes
" Sudahlah kak lebih baik kita lanjutkan pekerjaan yang diperintahkan oleh kak Aleandro." Ucap Yohanes yang sudah tahu sifat kakak pertamanya.
Nathan hanya bisa mendengus sebel dengan kakak pertamanya. Mereka berdua melanjutkan pekerjaan hingga selesai.
" Sudah selesai kak, kita sekarang ngapain kak? Tanya Yohanes
Daddy Thomas mempunyai dua perusahaan besar di tempat yang sama hanya saja beda bidang. Perusahaan pertama diserahkan oleh putra pertamanya yang bernama Aleandro Alexander sebagai CEO dan wakil Ceo anak nomer dua yang bernama Maximus Alexander sedangkan perusahaan ke dua diserahkan oleh putra ke empat yang bernama Jonathan Alexander sebagai CEO dan wakil Ceo anak nomer lima yang bernama Yohanes Alexander.
Untuk cabang-cabang perusahaan sudah ditempatkan orang-orang kepercayaan daddy Thomas.
xxxxxxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda Aleandro dan Maximus sudah sampai di tempat persembunyian di mana Tio bersembunyi. Aleandro dan Maximus dengan diikuti oleh para anak buahnya berjalan ke arah gudang sambil membawa senjata berupa pistol.
Mereka berjalan memasuki gudang dengan jalan mengendap-endap hingga mata elang Aleandro melihat Tio sedang bersembunyi di tumpukan kardus dan Aleandro langsung mengarahkan pistolnya ke arah Tio.
dor
" Akhhhhhhhh.... si*l!!!" Teriak Tio ketika bahunya tertembak.
" Menyerahlah Tio." Ucap Aleandro sambil berjalan ke arah Tio
Tio keluar dari persembunyian sambil menatap tajam ke arah Aleandro.
" Brengs*k kau sudah merebut kekasihku!!" Bentak Tio
" Merebut kekasih? Apa aku tidak salah mendengar? kau yang telah menyia-nyiakan orang sebaik Cantika jadi jangan pernah menyalahkan aku jika aku menikah dengan Cantika." Ucap Aleandro sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
dor
" Akhhhhhhhh.... si*l!!!" Teriak Aleandro ketika punggungnya di tembak dari arah belakang membuat Aleandro membalikkan badannya.
" Kakak!!!" Teriak Maximus.
dor
" Akhhhhhhhh.... " Teriak Tio ketika keningnya di tembak oleh Maximus
bruk
dor
" Akhhhhhhhh.... " Teriak pria yang tadi menembak Aleandro.
bruk
Tio langsung ambruk dan ma*i di tempat begitu pula dengan pria itu karena di tembak tepat di keningnya oleh Aleandro.
" Kakak, kita ke dokter sekarang." Ucap Maximus sambil mendekati kakaknya.
Aleandro hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Maximus membantu memapah kakaknya bersama salah satu anak buahnya. Mereka meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan dua mayat tersebut.
Singkat cerita Aleandro sudah berada di rumah sakit dan menjalani operasi untuk mengambil peluru yang bersarang di punggungnya sedangkan Maximus menghubungi daddy Thomas dan ke dua saudaranya Nathan dan Yohanes.
Tidak menunggu lama daddy Thomas dan di susul Nathan serta Yohanes sudah sampai di ruang operasi.
" Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya daddy Thomas.
Maximus menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi membuat daddy Thomas menahan amarahnya.
" Apakah kalian sudah membuat perusahaan mereka bangkrut?" Tanya daddy Thomas dengan nada dingin.
" Sudah dad." Jawab Nathan dan Yohanes.
" Semua aset berharganya sudah di sita oleh bank dan bisa dipastikan kini mereka tinggal di kolong jembatan." Ucap Nathan.
" Bagus, mereka pantas mendapatkannya." Ucap daddy Thomas
" Mommy dan kakak ipar apakah tahu kalau kak Aleandro terkena tembakan?" Tanya Maximus
" Tidak, kalau mereka tahu pasti mereka akan ke sini. Pesan daddy buat kalian jangan menceritakan ke mommy kalian tentang hal ini." Ucap daddy Thomas.
" Baik dad." Jawab ke tiganya serempak
__ADS_1