
" Kami akan berusaha semaksimal mungkin tuan." Jawab perawat tersebut sambil membuka pintu operasi.
" Nathan, Yohanes bagaimana dengan Cantika dan Aleandro?" Tanya daddy Thomas datang bersama Aska, tuan Robert dan Maximus.
Nathan dan Yohanes melepaskan pelukannya dan menatap ke arah daddy Thomas dengan wajah tersirat kesedihan.
" Kak Cantika jantungnya tadi berhenti berdetak dan baru saja perawat membawa alat untuk pengejut jantung, kalau kak Aleandro mengalami koma." Ucap Nathan menjelaskan.
Daddy Thomas, Aska, tuan Robert dan Maximus hanya diam tanpa bicara sedikitpun hanya menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Daddy ingin menengok Aleandro dulu." Ucap daddy Thomas setelah lama terdiam.
" Aku ikut dad." Ucap Maximus.
Daddy Thomas hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua pergi ke ruang ICU.
ceklek
Maximus membuka pintu dan daddy Thomas berjalan ke arah ranjang di mana Aleandro masih setia memejamkan matanya dengan tubuh penuh selang dan beberapa bagian tubuhnya di perban terkena pecahan kaca mobil.
Daddy Thomas dan Maximus hanya bisa memandangi Aleandro dengan tatapan sendu. Daddy Thomas berjalan ke arah Aleandro dan mendekatkan wajahnya ke telinga Aleandro dan membisu sesuatu.
" Aleandro sadarlah, istrimu sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Daddy mohon padamu berilah semangat pada istrimu agar istrimu ada semangat untuk hidup." Bisik daddy Thomas untuk pertama kalinya dirinya memohon pada putranya.
Aleandro hanya terdiam hingga dua menit kemudian hari jemari Aleandro mulai bergerak perlahan.
" Daddy lihat tangan kak Aleandro bergerak." Ucap Maximus sambil tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca.
" Apakah kamu tidak ingin melihat istrimu melahirkan ke empat anakmu dan menggendong anak-anak kalian yang sangat mirip dengan kalian serta hidup bahagia?" Bisik daddy Thomas.
Sepasang mata Aleandro mulai bergerak-gerak hingga akhirnya membuka matanya membuat daddy Thomas mengangkat kepalanya.
" Daddy." Panggil Aleandro lirih
" Syukurlah kamu sudah sadar." Ucap daddy Thomas.
" Mana Cantika daddy?" Tanya Aleandro
" Cantika ada di ruang operasi jantungnya tadi berhenti berdetak dan baru saja perawat membawa alat untuk pengejut jantung." Ucap daddy Thomas menjelaskan.
" Daddy, antar aku ke tempat Cantika." Mohon Aleandro
" Max, panggil dokter cepat." Perintah daddy Thomas tanpa menjawab ucapan Aleandro.
" Baik dad."Jawab Maximus sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.
" Sekalian bawa kursi roda." Perintah daddy Thomas.
" Baik dad." Jawab Maximus kembali sambil membuka pintu icu.
Maximus berjalan dengan langkah cepat hingga Maximus bertemu dengan dokter.
__ADS_1
" Dokter, kakakku sudah sadar tolong di cek." Ucap Maximus
" Baik." Jawab dokter tersebut sambil berjalan ke arah ruang ICU.
Ketika Maximus berjalan ke arah ruang ICU melihat pintu ruang operasi terbuka membuat Maximus membalikkan badannya dan melihat dokter Hendrik berjalan ke arah Nathan.
" Bagaimana keadaan kak Cantika paman?" Tanya Maximus.
" Keadaannya semakin memburuk." Ucap dokter Hendrik menjelaskan dengan wajah lelah dan sedih.
" Paman, kak Aleandro sadar dari komanya dan ingin menemui kak Cantika. Siapa tahu jika bertemu kak Cantika jadi semangat dan tersadar dari komanya." Ucap Maximus.
" Ponakanku sudah sadar? Baik paman akan ke sana." Ucap dokter Hendrik semangat
Dokter Hendrik, Maximus dan Nathan berjalan ke arah ruang ICU dan Nathan membuka pintu icu. Sebelum ke arah ruangan ICU Maximus mengambil terlebih dahulu kursi roda untuk Aleandro.
ceklek
Dokter Hendrik membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan ICU di susul Maximus dan Nathan. Mereka bertiga melihat dokter sedang melepaskan selang yang menempel di tubuh Aleandro.
" Kalian keluarlah biar paman yang mengecek Aleandro." Ucap dokter Hendrik.
" Baik paman." Jawab Maximus dan Nathan serempak.
Maximus meletakkan kursi roda dekat ranjang Aleandro kemudian keluar dari kamar ICU dan di susul oleh daddy Thomas dan Nathan.
Setelah beberapa saat pintu icu terbuka dokter Hendrik mendorong kursi roda di mana Aleandro duduk di kursi roda. Dokter Hendrik mendorong menuju ke arah ruang operasi di mana Cantika terbaring antara hidup dan mati.
Cantika berjalan di taman bunga yang sangat luas hingga Cantika bertemu dengan mami dan papi Cantika.
" Mami, papi." Panggil Cantika tersenyum bahagia.
" Sayang." Panggil mami dan papi sambil berjalan mendekati putri semata wayangnya.
" Cantika kangen sama mami dan papi." Ucap Cantika sambil memeluk ke dua orang tuanya dengan erat.
" Mami juga kangen denganmu." Ucap maminya sambil membalas pelukan Cantika.
" Apalagi papi, anak papi tambah cantik." Ucap papinya sambil membalas pelukan putri semata wayangnya.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya.
" Mami, papi kenapa ninggalin Cantika sendirian." Ucap Cantika dengan wajah sendu.
" Kata siapa kami meninggalkan dirimu sayang? Mami dan papi selalu ada di sisimu dimanapun kamu berada." Ucap maminya.
" Ayo sayang, main bersama papi seperti dulu main kejar-kejaran." Ucap papinya mengalihkan pembicaraan ketika melihat putri kesayangannya akan bicara lagi.
" Baik papi, papi kejar Cantika ya." Ucap Cantika sambil berlari.
"Ok." Jawab papinya singkat
__ADS_1
Cantika mulai berlari-lari an dan papinya mengejar Cantika sedangkan maminya hanya melihat putri dan suaminya berlarian. Hingga akhirnya Cantika tertangkap dan mereka berpelukan layaknya anak dan ayah. Maminya berjalan ke arah mereka berdua dan memeluknya.
" Cantika ingin tinggal di sini bisa bersama mami dan papi." Ucap Cantika.
" Cantika sayang, tempatmu saat ini belum di sini." Ucap maminya dengan nada lembut sambil mendorong perlahan tubuh Cantika.
" Tapi Cantika betah di sini mami sangat tenang." Ucap Cantika.
" Sayang, suami dan keluarga suamimu sangat sayang padamu." Ucap maminya sambil menggenggam tangan suaminya dan berjalan dengan mundur begitu pula dengan suaminya.
" Benar kata mami sayang, Aleandro adalah suami yang sangat baik dan tulus mencintaimu terlebih ada janin di dalam kandunganmu yang akan menambah kebahagiaanmu." Ucap papinya.
Ke dua orang tua Cantika berjalan mundur sedangkan Cantika berjalan maju mengejar ke dua orang tuanya hingga terlihat sinar yang sangat menyilaukan matanya.
" Mami, papi jangan ninggalin Cantika, Cantika ingin ikut papi dan mami." Ucap Cantika dengan air mata berderai.
" Suatu saat nanti kita akan berkumpul bersama, kembalilah ke Aleandro dia memanggil namamu." Ucap maminya.
xxxxxxxxxxxx
" Cantika aku mohon bangunlah." Mohon Aleandro sambil menggenggam tangan istrinya dan tidak berapa lama air matanya keluar.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sebagai bentuk apresiasi author kepada para pembaca setia Noveltoon, saya akan membagikan hadiah berupa pulsa untuk tiga orang. Hadiah diberikan untuk Top Fans, ranking umum.
Hadiah pertama pulsa 100,000
Hadiah ke dua pulsa 75,000
Hadiah ke tiga pulsa 50,000
Hadiah akan diberikan jika novel ini sudah tamat.
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin banyak kesempatan mendapatkan hadiah berupa pulsa.
Terimakasih banyakkk.. 🙏🏻🙏🏻
🌹
Terima kasih sudah mampir di ceritaku.
Oh iya, ini ada karya teman ku yang sudah senior nih .... di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati karya Faiz Bellzz untuk para pembaca novel setiaku dengan judul : Bayangan Cinta Duda Beranak Dua.
Mampir ya, Terima kasih 😘😘😘😘
__ADS_1