
''Qia...Qia...'' ia langsung masuk kekamarku.
''Ya!'' akhirnya ia pulang juga.
''Polisi ingin bertemu denganmu tapi awas jika kau buka mulut, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu.'' ia menarik rambutku.
''Iya'' ku anggukan kepalaku.
''Ayo cepat temui mereka,'' ia menarik tanganku dan kami pun duduk dishofa.
''Selamat malam bu, maaf mengganggu kami dari kepolisian.''
''Oh...apa yang bisa saya bantu pak?'' ujarku.
''Dengan bu Qia, istri dari bapak Zaky?'' ucap pak polisi.
''Ia benar saya istronya,'' walau hanya jadi budak gumamku.
''Informasi terakhir yang kami dapat saudara riko dan iqbal terakhir kali bertemu dengan ibu, dan Zaky pada 3 hari yang lalu.''
''Tiga hari yang lalu saya memang bertemu dengan dua orang laki-laki, tapi saya tidak kenal dengan mereka saya seorang tunanetra pak.''
''Dalam acara apa pertemuan tersebut?'' tanya polisi.
''Dengan keduanya kami hanya makan malam, setelah itu di pergi begitu saja.''
''Apakah saudara Iqbal dan Riko mengatakan akan pergi kemana?''
''Tidak ada pak!''
''Terimakasih atas kerjasamanya kalau ada sesuatu yang yang ibu ketahui tentang hilangnya saudara Iqbal dan Riko tolong hubungi kami segera.''
''Baik pak!''
Begitu polisinya pergi Zaky mengantarkanku ke kamar, ia duduk dishofa dengan raut wajah yang sangat gelisah.
''Zaky kenapa mereka bertanya kepadaku, apakah kau mencurigaiku?'' akan ku nyalakan asap ini hinggga membakarnya.
''Aku tidak mencurigaimu, polisi tadi hanya memastikan perkataanku, tadi sebelum kesini polisi mengintrogasiku lebih dulu,''
''Owh...'' aku berbaring ditempat tidur.
''Bersiap-siaplah ada tamu istimewa, malam ini ia siap membayar mahal untuk 3 jam bersamamu.''
''Kau masih berfikir untuk menghasilkan uang dasar otak bangsat, jika nanti ada polisi yang mengikutimu atau aku, maka semua pekerjaanmu akan terbongkar, aku memang sangat ingin itu terjadi tapi bagaimana denganmu apa kamu sudah siap?''
''Ya... sudah kamu istirahat saja, tutup saja mulutmu aku akan pergi, mungkin pagi hari baru akan kembali, awas jangan pergi kemana pun.''
Lalu ia pergi meninggalkanku, saat ini ia pasti sangat tertekan kedua korban terakhir kali mengobrol dengannya lalu bagaimana jika muncul yang ketiga.
Malam ini aku harus membunuh Erik dia sudah cukup lama bernafas, akupun bergegas kesana.Ternyata tubuhnya sekarang tak sekuat saat bertemu denganku, ia begitu lemas dan tak berdaya sunngguh sangat memprihatinkan.
'''Hah...ha...ha...''Aku tertawa sepuasnya melihat kejadian ini, rasanya aku sangat senang melihat penderitaan dimataanya.
__ADS_1
''Air...air...tolong ambilkan air wanita buta,'' suaranya begitu lemah sehingga aku hampir saja tidak bisa mendengarnya.
''Aku bukan perempuan buta!'' ku tarik rambutnya sekuat tenagaku sampai ia tidak sanggup menahan sakitnya.
''Auuu...'' ia menjerit sekencang-kencangnya.
''Kamu mau air ini kan?'' aku mengambil botol minum yang aku bawa.
''Berikan airnya, tolong kalau tidak aku bisa mati.''
''Cup...cup...cup...kasihan sekali nasibmu, baiklah buka mulutmu aku akan ku tuanglan airnya.''
Setetes demi setetes dan ia terus membuka mulutnya, perlahan ku tuangkan air itu kemulutnya secara keseluruhan, hingga ia tak sanggung menahan banyaknya air dan batuk-batuk.
Akhirnya air itu pun memenuhi hidungnnya aku tau itu sangat menyakitkan, tapi apa boleh buat kejahatan harus dibalas dengan kejahatan juga.
Laki-laki seperti mereka tidak bisa di beri kepercayaan untuk hidup lagi, mereka berjanji hari ini tapi besok akan mengingkarinya.
Lebih baik memelihara seekor anjing dari pada laki-laki biadap seperti itu.
''Bagaimana apa kamu masih haus?'' Ucapku dengan hati yang begitu senang.
Ia terus batuk-batuk wajahnya tiba-tiba menjadi pucat .
''oh... jagoan, cuman sampai disini kejantananmu, dimana laki-laki yang sangat kuat itu.''
''Le-pa-s-kan a-ku min-ta ma-af?''
''Tidak semudah itu, sudah aku peringatkan sebelumnya agar kau meninggalkan ku tapi apa kau mendengarnya? tidak sama sekali. Lalu untuk apa aku melepaskan mu sementara kau ingin terus bersamaku''
Melihat kondisinya yang sangat menghawatirkan aku pun memutuskan melepaskannya.
''Mr.x buka ikatannya biarkan ia pergi sungguh ia sangat kasihan sekali, lihat wajahnya apa kau tidak kasihan?.''
''Tapi...'' raut wajah Mr.x seketika dipenuhi tanda tanya.
''Biarkan saja ia pergi, aku tidak tega melihat ke takutan dimatanya'' ku kedipkan mataku.
''Bagaimana mungkin kamu berfikir seperti itu, jika kamu melepaskannya seluruh dunia akan tau tentang kita.'' Ucap Mr.x ia begitu kesal mendengar perkataanku.
''Apakah kamu mau berjanji bahwa kamu tidak akan buka mulut?''
''Ia a-ku ber-sum-pah.''
''Kau sudah tidak waras!'' ucap Mr x.
''Cepat buka ikatannya, ia sudah berjanji aku percaya kepadanya.''
''Terserah kamu saja.'' Mr.x pun membuka talinya dengan muka masam.
''Setelah talinya terbuka perlahan-lahan dengan badan yang sangat lemas, Erik melangkah dan beranjak meninggalkan kami ia berjalan dengan sempoyongan.
Sementar Mr.x berdiri dipojok ruangan itu sambil mengoceh.
__ADS_1
Aku berjalan mendekati Erik untuk menyemangatinya, aku memeluknya dengan sangat erat.
''Ayo peluk aku untuk pertemuan terakhir denganku, mungkin aku tidak kan pernah lagi bertemu denganmu setelah ini,'' bisikku ketelingannya.
Ia pun memelukku sungguh ini pelukan yang tak akan pernah aku lupankan seumur hidupku, sementara Mr.x hanya geleng-geleng kepala melihat kearah kami .
''Auuu...'' keheningan itu pecah seketika karena jeritannya.
Aku melepaskan pelukan itu, sengaja melepaskan ikatannya dan membiarkannya pergi.
Lalu menghampirinnya lagi agar aku bisa membunuhnya. Mr.x tidak tau bahwa ku selipkan pisau didalam pakaiannku, dengan menusuk tepat di hatinya semoga di kehidupan berikutnya ia menjadi orang yang peduli.
Aku tidak tau harus bagaimana meminta maaf ke keluargamu, tapi satu yang aku tau bahwa kejahatan harus di balas kejahatan juga.
Burkkk tubuhnya terjatuh.
Mr.x bertepuk tangan melihat pertunjukan yang terjadi.
''Maafkan aku! sungguh aku tidak bisa melihatmu hidup lagi, aku tidak bisa mempercayai bajingan sepertimu.''
''Aaaa...'' tinggal menghitung jam nafasnya akan melayang.
Aku dan Mr.X pun tertawa riang gembira menyaksikan kematiannya. Aku merasa sangat puas melihat ia mati dengan perlahan penuh kesakitan, kemudian tubuhnya kami bungkus dengan plastik hitam dan meletakkannya disamping jenazah yang lainnya.
Jenazahnya tidak akan busuk, karna sudah diberikan formalin sebelum tubuh mereka terbungkus.
Melihat jenazah itu dendamku sedikit berkurang, Aku lega melihat tubuh ini yang tadinya merasa kuat kini terbaring tak berdaya, tapi aku harus tetap mencari beberapa orang lagi yang telah menikmati tubuhku.
Aku tidak akan bisa tenang sebelum semuanya kuhabisi.
''Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?'' ujar Mr.x
''Aku tidak tau, tapi aku akan mencari laki-laki yang telah berani menyentuhku, bahkan kematianpun tidak bisa mendekati mereka, sebelum kematiannya ku tulis dengan tanganku sendiri.''
''Lalu apa kamu sudah mendapatkan orang-orang tersebut?''
''Tidak! tapi aku pasti akan mendapatkannya.cepat atau lambat Zaky pasti membawaku kepada mereka,''
''Kamu harus lebih berhati-hari karna polisi sedang mencari mereka bertiga, besok berita tentang kehilangan Erik pasti akan muncul.''
''Ia, aku sedikit khawatir.'' Ucapku.
''Untuk beberapa hari kedepan tidak perlu bertemu dulu, dan tidak ada korban juga agar polisi tidak mencium kejanggalan.''
''Iya, mungkin itu pilihan yang terbaik sekarang, aku juga tidak ingin semua yang sudah aku mulai berakhir sia-sia.''
''Lalu bagaimana dengan Zaky?'' Tanya Mr.x.
'' Tadi sore ia datang bersama dengan polisi.''
''Ada apa? apa mereka mencurigaimu?''
''Zaky dan aku orang terakhir yang Iqbal dan Riko temui, mungkin untuk memastikan perkataan Zaky polisi pun menemuiku.''
__ADS_1
''Aku akan pulang tinggalkan tempat ini secepatnya, jangan sampai ada yang melihat kita berada disini biarkan orang tau ini rumah kosong.''
Bersambung....