
''Lepaskan aku!'' Perlahan semuanya terbuka.
''Kenapa? apa kau takut, aku tidak akan menghabisimu tapi sebaliknya aku akan menyerahkan hidupku padamu,''
''Aku tidak memerlukan hidupmu, urus saja dirimu sendiri,''
''Sekarang semuanya tidak akan seperti itu lagi, kehidupan ini telah memberi ku banyak kebohongan, kehidupanku mulai detik ini tergantung kepadamu.''
''Aku mau menghabisimu?''
''Silahkan! aku akan mengikuti apapun yang kamu mau, sekarang aku tidak punya apapun dan siapapun lagi yang membuatku bertahan hidup.''
''Itu lebih baik, tapi aku tidak ingin menghabisimu, jika memungkinkan pergi dan matilah dengan tenang tanpa melibatkanku,'' Ujarku melihat keputus asaannya.
''Apakah aku bisa meminta meminta sesuatu?''
''Apa?''
''Katakan satu rahasia yang tidak aku ketahui?''
''Itu saja?''
''Hmmm...'' Menganggukan kepalanya.
''Andri, teman yang selalu membantuku dalam keadaan apapun.''
''Apa aku pernah bertemu dengannya?''
''Sudah, tapi kau tidak mengenalinya.'' Ujarku
''Apa kau mencintainya?'' Pertanyaan yang sangat sulit untuk di katakan.
''Hmmm...''
''Katakan saja, aku tidak akan pernah mengganggu hubunganmu,''
''Ya... Seiring waktu rasa itu memang sudah mulai tumbuh,''
__ADS_1
''Lalu kenapa kau tidak pergi dengannya dan meninggalkan ku?'' Wajahnya sangat lesu.
''Aku pun tidak tau kenapa, seharusnya aku tak kembali kepadamu tapi...?''
''Balas dendam,''
''Ya...''
''Sekarang tinggal aku, bunuh aku! lalu bahagialah dengannya.''
''Ide yang sangat bagus, aku akan menghubunginya untuk terakhir kalinya,''
Ku ambil telpon dan menghubungi Andri.
''Andri, ada yang ingin bicara dengan mu,''
Lalu ku berikan telponnya kepada Zaky.
''Zaky, dengan Andri ya, Sekarang aku tidak punya hak lagi terhadap Qia, aku harap setelah ini kau bisa membahagiakannya, Mulai saat ini tidak ada yang perlu di tutup-tutupi, jemput ia sekarang,''
''Apa yang kau katakan?''
Ia memberiku sebuah pistol, tanganku gemetaran tidak karuan jantungku berdegub kencang.
''Aku tidak sanggup melakukan semua ini...''
''Fikirkan semua perlakuanku kepadamu, lalu dengan semua derita yang ku berikan, habisi aku tanpa rasa bersalah,''
Zaky mendekatkan pistol kearah kepalanya.
''Aku siap,''
''Aku tidak akan melakukan ini,''
''Cepat!'' ia membentakku.
''Tidak...'' Gumamku.
__ADS_1
''Baiklah! kalau begitu dekatkan pistolnya arahkan ke kepalaku,''
Ia menarik tanganku dan kami memegang pelatuknya bersama-sama.
Darrr...darrr...darrr...
Tubuh Zaky terjatuh setelah tiga tembakan mendarat di kepalanya.
''Aku mencintaimu! semoga kita bertemu di lain keadaan,'' Kata-kata yang terakhir ia ucapkan.
Darah segar mengalir dilantai Zaky berbaring dilantai.
Aku mematung melihat yang terjadi, ku ambil pistol itu lalu menembakkannya berulang kali.
Pembunuh selamanya akan menjadi penjahat, tapi jika harga diri yang menjadi taruhannya, maka siapapun wajib membela diri.
Aku telah kehilangan kebahagian di kehidupan ini, dikehidupan selanjutnya aku akan mendapatkan semua yang telah hilang dariku.
Dari kejauhan andri berlari kearahku.
''Qia...'' Teriakannya memenuhi seluruh rumah.
''Andri, maafkan aku? jangan menangis aku tidak ingin melihat air mata, tersenyumlah untukku...''
''Kenapa kau lakukan ini?''
''Andri aku berharap kau mendapatkan pasangan yang sempurna, aku tidak akan pantas bersamamu,''
''Ti-tidak...'' Air matanya membasahi pipinya.
''Aku berharap kematian ini bisa menebus semua perbuatan salah yang telah ku lakukan.''
''Bertahanlah demi aku... jika tidak aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,''
''Terimakasih telah menjadi penyelamatku...'' Andri memelukku dengan erat dengan air mata.
Selamat tinggal kehidupan yang kejam, terima kasih telah memberiku banyak kepahitan, kehancuran, dan kesengsaraan.
__ADS_1
Tamat