
Aku berlari menuju kamar tersebut tapi tak terlihat apapun pintu sudah penuh di kelilingi orang.
Mereka semua mengis aku terus mencoba menerobos tapi gagal, karna kesal aku kembali kekamarku menyiapkan barang dan membawanya keluar vila.
Sambil menunggu Zaky keluar dari dari dalam, aku memanfaatkan kesempatan yang sempit ini, untuk menikmati pemandangan yang indah ini.
Wiiiuuuu...wiuuu...wiuuu
Samar-samar terdengar suara mobil polisi dan ambulan, suaranya semakin lama semakin kencang.
''Kenapa polisi dan ambulan datang beriringan ke sini, ada apa?'' Aku bingung dan diam mematung melihat mobil polisi yang datang.
Beberapa polisi dan perawat berlari masuk kedalam vila, melihat semuanya tegang aku kembali kedalam. Mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
Semua orang di suruh keluar meninggalkan kamar tersebut, satu persatu mereka keluar dengan raut wajah sedih.
Aku terus mencari Zaky tapi ia tak ada di antara oarang-orang ini.
''Apa yang terjadi bu?'' Aku bertanya kepada seorang ibu paruh bayah yang duduk terdiam penuh kecemasan.
''Laki-laki yang tinggal di kamar itu gantung diri, kematiannya sangat tragis.''
Laki-laki jangan-jangan...
Aku berlari menerobos kepolisian Zaky menangis di pojok kamar aku berlari ke arahnya. Aku tidak melihat apapun selain kantong mayat dan tali yang telah putus.
''Zaky, kenapa kau menangis? apa yang terjadi padamu?''
''Diam! cukup kau tidak usah lagi berpura-pura, kaulah yang telah membunuh ayahku, sekarang pergi dari sini aku tidak ingin melihatmu!''
__ADS_1
Semua orang menatapku mendengar perkataan Zaky.
''Zaky, kenapa kau menyalahkanku? aku tidak tau apa-apa.''
''Pak, bawa dia pergi dari sini. Buat ia mengakui perbuatannya bagaimana pun caranya!''
Beberapa polisi membawaku serta kantongan mayat itu.
''Zaky! tidak jangan lakukan ini padaku! Tidakkk''
Aku di bawa kemobil polisi dan pergi meninggalkan vila.
Semua polisi diam tanpa bicara sedikit pun, aku sangat ketakutan tak henti air mataku terus menangis.
''Pak, tolong lepaskan aku, aku tidak ada hubungannya dengan semua ini.''
''Bu, diamlah nanti jelaskan semuanya dikantor,'' Ucap polisi yang duduk disampingku.
''Boleh, tapi nanti sesudah sampai di kantor polisi, kami tidak bisa memberikanmu izin sekarang. Sebaikanya ikuti saja prosedur dari kami, jika memang anda tidak bersalah buktikan disana.''
Aku sangat takut meski bukan aku yang membunuhnya, Tapi Zaky pasti tidak akan membiarkanku lolos. Bagaimanapun caranya ia pasti membuatku jadi tersangka.
''Pak! Bagaiamana kondisi tubuh korban?''
''Ia tergatung di kipas di dadanya ada pisau yang menempel sepertinya ada yang sengaja membunuhnya lalu menggantung mayatnya, serta ada luka sayatan di beberapa tubuhnya.''
Aku memikirkan kata-katanya pisau masih menempel di dada sepertinya itu tidak asing bagiku.
Itu caraku menghabisi korban sebelumnya, apa mungkin andri yang membunuhnya?
__ADS_1
Akhirnya sampai ke kantor polisi mereka langsung menyeretku kedalam.
Entah apa yang akan mereka lakukan.
''Kasus apa?'' Ujar seorang polisi yang duduk di kursinya, sepertinya ia komandan semua polisi memberi hormat padanya.
''Pembunuhan pak!'' Jawab polisi yang membawaku.
''Bawa ke ruang introgasi''
Aku dibawa keruanganya yang agak sempit disana hanya ada aku dan seorang polisi.
''Silahkan duduk bu!''
''Pak, saya tidak melakukan apapun tolong percaya kepada saya?''
''Tenang dulu bu, saya akan mulai bertanya dan anda jawab pertanyaan dengan cepat dan jujur.
Nama?''
''Qia!''
Aku di introgasi hampir 2 jam lebih baru selesai, aku sangat muak mendengar pertanyaan demi pertanyaan.
Dan sekarang aku dimasukkan kedalam sel katanya hanya untuk sementara, waktu dalam proses penyelidikan.
Tapi sekarang aku tidak menangis lagi, karna Andrilah pelakunya dan pasti ia akan segera datang membebaskanku.
Akhirnya kakek tua itu mati juga meski tidak ditanganku aku sangat senang.
__ADS_1
Bersambung...