
''Apa? kenapa kau tidak membunuhku?'' Aku membentaknya.
''Dasar wanita tidak waras, aku akan menghabisimu dirumah. Kau akan tau siapa aku sebenarnya,'' seketika ia memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
Aku terdiam melihat kegilaannya.
''Ke-lu-ar!'' ia menyeretku kedalam rumah.
''Lepaskan aku sa-ki-t!''
''Kali ini kau tidak akan aku lepaskan, kuhabisi sekarang juga. Aku sudah bosan melihat tingkahmu,'' ia mengambil pisau aku sedikit takut raut wajahnya benar-benar sangat marah.
''Tidak! tidak, aku minta maaf? tolong jangan lakukan itu padaku?''
''Kesabaranku sudah habis lebih baik kau mati,'' ia menusuk perut ku dengan pisau.
''Au...'' aku berteriak sekencang-kencangnya untung saja meleset hanya terkena goresan.
''Tidak akan ada yang menolongmu sekarang, tutup mulutmu.'' Amarahnya semakin menjadi-jadi.
Ia mencoba kembali menusuk ku tapi berhasil ku hindari.
''Bagaimana kau bisa menghindari pisau ini? kau tidak buta kan?''
''Walau mataku buta tapi hatiku tidak. Aku bisa merasakan ketidakadilan yang kau lakukan.''
''Tidak mungkin, selama ini kau hanya pura-pura buta saja.''
''Lalu, jika itu benar apa yang akan kau lakukan?''
''Aku akan menghabisimu secepatnya dan membuang tubuhmu kejalanan seperti binatang.'' Ia tertawa terbahak-bahak seperti kerasukan.
''Kau sudah tidak waras, otakmu sudah dipenuhi setan.'' aku berlari menuju pintu.
''Kau tidak akan ku biarkan keluar hidup-hidup dari sini.'' Ia menarik tanganku dan mendorongku ke dinding.
''Biarkan aku pergi dari sini bajingan?''
Palkkk... plakkk...
Ia menamparku dan menendangku hingga aku terpental darah mengalir dari hidungku.
''Inikan yang kamu inginkan!'' membentakku dan menarik rambutku.
__ADS_1
''Tapi tidak lagi sekarang waktumu sudah tiba, aku tidak akan membiarkan kau menyakiti ku lagi,'' ku gigit tangannya seketika ia melepaskan rambutku.
''Jangan mimpi!''
Aku berlari mengambil pisau ia pun mengerjarku.
''Kalau kau ingin hidup jangan coba-coba melangkah atau akan ku habisi kau sekarang juga. ' Aku mengancamnya.
''Aku tertipu, selama ini kau hanya pura-pura buta, kenapa aku tidak mengetahuinya hmmm (ia terdiam sejenak ) berarti kau yang telah menyembunyikan mereka yang hilang.''
'' Ia, aku telah membunuh mereka semua dan sekarang kau!''
''Tidak, kau tidak akan bisa menyentuhku itu tidak mungkin.''
Aku berjalan kearahnya dan menggoresnya lengannya dengan pisau darah pun berceceran dilantai.
''Kau lihat! bukan hanya itu bahkan aku sudah menghabisi semua orang yang pernah menodaiku cih...Satu hal lagi yang perlu kau ketahui, aku tidak buta semua perbuatanmu bisa kulihat bahkan akal busukmu pun bisa ku baca, sekarang kau tidak bisa menghindari mautmu lagi.''
''Kau mau membunuhku? ha...ha...ha... lihat ini sekarang semuanya sudah jelas, akulah yang akan membuatmu sengsara seumur hidupmu.''
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi kepolisian, aku terdiam sejenak melihat apa yang akan ia lakukan.
''Halo pak! pelaku penyebab hilangnya Iqbal dan beberapa korban lainnya ada dirumahku, segera datang saya tunggu!''
''Terima kasih Zaky itulah yang aku inginkan, kau menelpon polisi dan mereka akan menangkapmu.''
''Dasar perempuan gila, kau akan membusuk dipenjara.''
''Cup...cup... tidak sayang, karna kematianmu ada ditanganku.''
Ia menendang tanganku pisau itu pun terlempar jauh.
''Apa kau katakan, Kau mau membunuhku? tapi kau yang akan tiada sekarang,'' ia menyeretku ke kamarnya dilantai 2.
''Aaa...'' aku menyerit kesakitan.
Kamar ini sungguh lain aku tidak tau selama ini didalam kamar ternyata ada lagi sebuah kamar, cermin ini yang menjadi tempat penghubungnya.
''Hei! perhatikan baik-baik.'' ia menarik rambutku.
Seperti kamar tua yang sudah sangat lama dan sangat tidak terurus, tapi banyak poto-poto bertebaran di dinding.
''Apa ini? kamar siapa ini? siapa yang dipoto itu?'' ucapku dengan gemetaran.
__ADS_1
''Ibuku...''
''Ibu mu?''
'' Apa hubungannya denganku?''
''Ibuku adalah perempuan yang sangat baik dan tidak mempunyai tuntutan hidup, apa pun yang ayahku berikan ia tidak pernah mengeluh sedikitpun, ia menjalani hidup dengan sangat sederhana tapi suatu hari gadis buta anak dari teman ayahku terpaksa tinggal dirumah ini bersama kami, Ibu ku mengurusnya dengan sangat baik tapi entah apa yang terjadi? pagi itu ayahku meminta izin untuk menikah yang ke dua kalinya dengan gadis buta itu.
Bagai disambar petir ibuku terpaksa mengiklaskannya, setelah merebut kebahagian ibuku ia juga merenggut rumah dan kebahagianku, setiap hari kulihat ibuku menangis tapi ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri, karna kecantikan gadis buta itu ayahku lupa bahwa ada perempuan lain yang juga harus ia perhatikan.
Puncak dari semua masalah itupun terjadi seperti biasanya pagi itu ibuku memasak, tiba-tiba ia berteriak sangat kencang, aku berlari kedapur sedangkan ayahku tidak peduli ia hanya mengurus istrinya butanya.
Darah mengalir deras dari kedua mata ibuku aku menangis kencang dan berteriak memanggil ayahku, ibuku mencongkel ke dua matanya untuk mendapatkan perhatian dari ayahku.
Tapi karna kehilangan banyak darah akhinya ibu meninggal, Mulai saat itu aku sangat membenci perempuan buta, aku berjanji akan membalaskan semua kesakitan yang dirasakan ibuku.
''Aku turut prihatin, tapi...''
''Stop! aku tidak butuh belas kasihanmu, Aku sudah membunuh 6 perempuan buta tapi kali ini aku akan membunuhmu juga karna kau sudah mengetahui semuanya.''
''Apa kau tahu? pasti ibumu sangat sedih melihat perbuatanmu tidak semua perempuan buta itu sama seperti yang kau fikirkan, harusnya yang kau salahkan adalah ayahmu yang telah terpikat dengan wanita buta.''
''Tidak! ayahku adalah orang yang sangat baik, wanita buta itulah yang telah menipunya.''
''Kau tidak akan bisa berfikir jernih karna dendam dihatimu telah menghitam, ayahmu bukanlah orang yang baik seperti yang kau fikirkan.''
''Perempuan buta itu yang telah membodohi ayahku, jika ada yang disalahkan ya... dia perempuan buta itu.'' Ia meninju dinding tidak terima perkataanku.
''Lalu, berapa perempuan buta lagi yang akan kau habis!'' ku bentak dia.
''Akan aku habisi setiap perempuan yang buta, aku tidak akan bisa hidup tenang selagi ada perempuan-perempuan itu.''
''Aku akan beri kau kesempatan hidup untuk menghapus kesalahanmu, jika kau mau berbuat kebaikan dan meninggalkan dendammu.'' Ucapku.
''Tujuan hidupku takkan berubah aku tidak bisa melupakan kesakitan yang dirasakan ibuku, air matanya dan keputus asaannya aku bertahan hidup demi membalaskan dendamnya, jangan pernah kau menghakimiku aku lebih tau apa yang harus ku lakukan.''
''Kau salah, aku yakin ibumu sungguh sangat menyesal melahirkanmu. Jika saja ia bisa berbicara kepadamu saat ini, pasti ia akan berkata seperti yang kukatakan.''
''Hei! jangan pernah berkata apapun tentang ibuku. Tidak ada yang lebih mengerti dia selain aku, aku lah yang melihat penderitaan,kesengsaraan,kesedihan dimatanya.''
''Harusnya kau menanyakan hal tersebut kepada ayahmu apa sebabnya ia menduakan ibumu, bukan perempuan buta itu saja yang bersalah tapi ayahmulah yang berperan besar atas penderitaan ibumu.''
''Ah...'' ia melemparkan kursi hampir saja mengenaiku.
__ADS_1
Bersambung....