
''Siapa Qia? istrimu? dimana dia?'' Ucap pak Zulham pura-pura tidak mengenalku.
''Tidak, ayah! Qia hewan buruanku.'' Ujarnya,
''Zaky hentikan semua ini, dendam itu hanya membawa kesengsaraan lupakan semuanya, mari kita mulai dari awal seperti kertas kosong.''
''Ayah, aku sanggup melupakan semuanya tapi tidak dengan penderitaan ibuku, rasa sakit itu masih jelas dalam ingatanku.''
''Jika itu yang kau mau lakukanlah! Mr.x tolong antarkan saya kembali'' pak Zulham berdiri dan berjalan kearah pintu.
''Ayah mau meninggalkanku lagi? kenapa ayah tidak pernah memikirkan ku?''
''Zaky, ayah tidak bisa tinggal dengan orang yang masih memiliki dendam dihatinya, ayah tidak sanggup melihatmu membayar kesalahanku lebih baik aku pergi,''
''Tidak ayah! aku tidak ingin sendiri lagi, maafkan aku jika itu membuat kita tetap bersama, maka aku akan berusaha seperti yang kau inginkan.''
''Aku ingin Qia kembali kerumah ini dan menjadi istri dan menantu yang baik, dimana dia?''
''Kenapa ayah tau tentang semua ini?''
''Walaupun jauh darimu, tapi semua yang kau lakukan ayah mengetahuinya.''
''Aku tidak tau dimana dia berada?''
''Cari dia dan bawa kembali kerumah ini. Aku ingin bertemu dengannya secara langsung. Mr.x pulanglah aku akan tinggal disini terimakasih telah membantuku.''
Mr.x meninggalkan rumah begitu juga denganku.
''Telanglah! mulai sekarang kau tidak perlu lagi bersembunyi, Zaky akan menerimamu sebagai istrinya dan aku tidak perlu menutupi wajahku.''
''Andri terimakasih kau telah membantuku'' kami pun saling berpelukan didalam mobil dan bergegas pergi.
...****************...
Pagi ini aku sengaja berjalan agar Zaky melihatku, sudah hampir setengah jam aku berjalan tidak ada tanda-tanda Zaky melintas.
''Tittt...tittt...tittt...'' Seseorang terus mengklakson dari belakangku.
''Hei! apa kau tidak lihat jalanan masih sangat luas?'' ku ketuk kaca mobilnya sambil mengomel.
''Qia...! kenapa kau berjalan sendirian seperti orang linglung?'' ternyata dia Andri.
''Mobil siapa ini? kenapa aku tidak mengenalnya?'' ujarku.
''Mobilku dibengkel jadi ini aku pinjam mobil bengkel, masuklah!'' ia membukakan pintu.
''Aku sedang menunggu Zaky, tapi ia tidak kunjung datang.''
''Lalu bagaimana denganku apa kau tidak merindukanku?'' ia menggodaku dengan wajah konyolnya.
''Kau yang terbaik, ok!''ucapku mencubit pipinya.
''Aku tahu dimana Zaky akan menemukanmu, apa kau sungguh-sungguh ingin tinggal dirumah itu lagi?''
''Bagaimana lagi semoga saja ini yang terbaik buatku.''
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Andri terus menggodaku, sampai aku merasa aneh dengan tinggahnya yang tidak biasa.
''Lihat, itu Zaky cepat hampiri dia supaya melihatmu.'' Ujarnya.
Akupun bergegas keluar mobil berjalan pelan dengan santainya menuju Zaky, aku sangat gugup selangkah demi selangkah ku beranikan diriku mendekatinya, sengaja ku tabrakan tubuhku kepadanya .
''Hei! ya ampun matamu dimana?'' bentaknya dengan keras.
''Ma-af...aku tidak sengaja tolong maafkan aku?'' kusengaja tidak melihat wajahnya lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
''Tung-gu Qi-a...''
Aku berbalik badan melihat wajahnya ia memegang tanganku dengan sangat kuat.
''Zaky, lepaskan tanganku sakit sekali?''
''Kau pergi kemana saja? aku telah mencari kemana-mana apa kau takut mati?'' Wajahnya berubah seketika.
'' Tidak sama sekali, kau tidak ada apa-apanya dimataku lalu kenapa aku harus takut.''
''Tidak usah berbohong! aku tau kau kabur dari rumah karna ketakutan, sekarang kau mau lari kemana lagi?''
Kudorong dia hingga terjatuh dan berlari menjauh darinya.
''Kau mau lari kemana, sampai kapan? kau tidak akan bisa pergi kemana pun sekarang''
Aku terus berlari tapi sia-sia ia menarik rambutku akupun terjatuh.
''Sudah! apa kau mau berlari lagi? ayo bangun larilah sejauh yang kau bisa.''
''Apa maumu? kenapa kau terus saja mengganggu hidupku, apa salahku?''
''Aku mau dibawa kemana? apa kau belum puas menjualku? he-i bangsat bicaralah!''
Syukurlah semuanya sesuai yang ku inginkan ia akan membawaku kerumahnya kembali, Sementara Andri tersenyum melihatku lalu mobil melaju kencang.
Dengan ini Kesempatanku untuk membunuhnya akan semakin mudah.
Akhirnya sampai juga kulihat pak Zulham sudah menunggu dipintu, ketika mobil berhenti ia langsung menghampiri kami.
''Kamu menantuku? '' Ucapnya sambil mengelus kepalaku aku pun hanya menganggukan kepala.
''Sudak ayah, tidak ada gunanya memberikan perhatian seperti itu padanya ia perempuan iblis.'' Ia meninggalkan kami dan bergegas masuk kedalam rumah.
''Pak terimakasih telah membantuku kembali masuk kerumah ini, kuharap Zaky bisa berubah dan bisa menerimaku serta melupakan dendamnya.'' Ucapku.
''Ayah akan berusaha membujuk Zaky, mudah-mudahan ia mau mendengarkanku.''
''Ayah, mari masuk! biarkan saja dia diluar.'' Gumam Zaky.
''Ayo,Nak! sebelum dia berubah fikiran.'' Kami pun bergegas masuk.
Aku berdiri didepan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
''Qia, ayo masuk kenapa kamu berdiri disitu?''
__ADS_1
''Hei! apa kau tidak dengar yang dikatakan ayah, dimana telingamu dipanggil orang tua juga.''
''Sudah Zaky! ayo!'' Ayah menghampiriku.
Aku melangkahkan kakiku semoga saja ini awal yang baik untuk kehidupanku kedepannya.
''Pergilah ke kamarmu, masih ingatkan?'' Ucapnya dengan nada sinis.
...****************...
Sudah 2 hari semenjak aku kembali kerumah ini dan semuanya baik-baik saja .
''Qia, apa kamu mau ikut berziarah kemakam ibunya Zaky?'' Tanya ayah.
''Aku mau ayah, apa boleh aku ikut? kapan kita pergi kesana?''
''Sekarang kamu siap-siap dulu, setelah itu kita akan pergi sama-sama.''
''Maksudnya aku dan ayah sajakan yang pergi?''
''Zaky juga ikut dengan kita.'' Ucap ayah dan meninggalkanku.
Setelah sampai di pemakaman kulihat Zaky menangis dan memeluk makam ibunya, melihat kejadian yang sangat langka, aku begitu tidak percaya laki-laki yang begitu keras kepala ternyata begitu mencintai ibunya .
''Ayah kau tau ibuku adalah orang yang sangat baik, tapi kenapa kehidupan tidak adil terhadapnya, kenapa harus ibuku?'' Ucapnya, air matanya pun mengalir deras membanjiri wajahnya.
''Zaky kita tidak bisa mengulang kembali kemasa lalu, yakinlah ibumu pasti ingin melihatmu bahagia tanpa ada dendam dihatimu,'' ayah memeluk Zaky.
''Ini sungguh sangat berat ibu, bagaimana aku bisa melupakannya kaulah orang yang paling ku cintai.''
Kuhampiri dia untuk menenangkannya ku elus pundaknya dengan perlahan dan memberanikan diri.
''Hei! beraninya kau?'' Ucapnya dengan marah dan menepis tanganku lalu ia pergi meninggalkan kami.
''Qia, bersabarlah! kau harus bisa meluluhkan hatinya perlahan, lihatlah sebenarnya hatinya tidak sekeras yang kau fikirkan, kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja.''
Kring...kring...kring...
Handphone ditanganku berbunyi.
''Ayah aku angkat telpon dulu,'' ucapku lalu pergi agak menjauh.
''Hello Qia! apa kau tidak merindukanku? kemana saja kenapa tidak menghubungiku?'' Ucap andri dengan suara yang begitu lembut.
''Maaf Andri aku belum sempat menemuimu waktunya belum tepat, tapi secepatnya aku akan datang.''
''Ok! apa semuanya baik-baik saja?''
''Ya semuanya baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan, bagaimana kabar mu?''
''Aku sengsara tanpamu,Qia?''
''Kenapa apa yang terjadi? '' aku sangat cemas mendengarnya.
''Aku sangat takut dengan perasaan ku ini, Qia! rasa ini tumbuh begitu cepat dan sekarang rasa sakitpun sudah tumbuh, apa yang harus ku lakukan?''
__ADS_1
''Hmmm...'' aku terdiam mendengar kata-katanya.
Bersambung ......