
Sial pintunya terkunci dari luar, lalu untuk apa aku ikut ketempat ini. Dada ku sesak melihat nasibku yang malang disini dan dirumah aku bagaikan tawan.
Ini pertama kalinya aku melihat tempat seindah ini, tapi sia-sia saja hanya membuatku semakin stres memikirkan keindahannya yang tak bisa ku nikmati.
Jendela satupun tidak ada di sini hanya ada kamar mandi. Dan kamar mandinya sangat bagus bak pemandian sang putri.
Ku lepaskan seluruh pakaianku dan memutuskan untuk mandi, semoga ini bisa membuat ku lebih waras.
''Qia...Qia....?'' Zaky membuka kamar mandi dan langsung masuk begitu saja.
Aku berlari mengambil handuk untuk menutupi tubuhku yang telah basah kuyup.
''Sudah siap?'' Ucapku.
''Kau ini bodoh atau bagaiman hah...?'' Ia membentakku dengan sangat keras.
''Kenapa kau membentakku? dimana lagi salahku setelah kau kunci aku ditempat ini?''
''Lihat wajah dan bibirmu membiru, apa kau mau menjebakku? Kau akan mati disini lalu semua orang akan menyalahkanku!''
''Hey... jangan mimpi! aku tidak akan mati semudah itu.''
''Cepat pakai pakaianmu jika tidak akan kutinggalkan kau di sini.'' Gumamnya.
Ia berbaring di tempat tidur melihatku memakai pakaian, sesekali ku lirik ia yang terus memperhatikanku.
__ADS_1
''Hmmm...''
''Apa? kau fikir aku akan tergoda? tidak usah takut lupakan saja fikiran mu itu, hanyalanmu sangat jauh dari kenyataan.''
''Mana mungkin kau tertarik melihatku, bahkan aku sendiri merasa jijik dengan tubuhku, andai dulu kau...''
''Sudah diam!"
"Kenapa kau tidak mau mendengarnya kan kau sendiri yang membuatku seperti itu, harusnya kau senang, bahagia bisa menikmati hasil dari air mata penghiatan"
"Jadi, sekarang kau menjalahkanku?"
"Terus aku harus menyalahkan siapa lagi? nasibku sungguh buruk ayah dan ibuku meninggalkanku di waktu aku masih sangat membutuhkan mereka, lalu aku menikah bermimpi bisa hidup bahagia."
"Tapi, penderitaanku tak kunjung berakhir. Satu-satunya orang yang ku punya saat itu dan sekarang hanya kau, dulu aku tidak pernah menyangka akan ada laki-laki yang meminangku"
"Itu salah mu sendiri jadi, jangan pernah menyalahkanku, harusnya kau sadar diri tidak ada laki-laki yang mau menerimamu semudah itu."
"Siapapun akan percaya dengan kata manis itu, apalagi kami yang mendengarnya."
"Cukup!" Ia menampar wajahku dan keluar kamar"
Segera aku pakai pakaianku, aku tidak sabar ingin melihat-lihat sekeliling vila ini walau hanya sebentar.
Aku keluar kamar dan berlari keluar rumah hu... sungguh ini seindah surga, membuat hati siapapun yang melihatnya melupakan semua kesedihannya.
__ADS_1
Ku hirup nafasku dalam-dalam kupandangi setiap bunga yang sedang mekar ada juga kupu-kupu yang berterbangan.
"Qia...Bawa semua barang kemobil kita akan pulang." Zaky berteriak memanggilku.
"Tunggulah sebentar! aku belum melihat sekeliling rumah, panggil saja ayah dulu"
"Cepatlah! aku tidak ada waktu dengan semua tingkah lakumu."
Dengan wajah cemberut aku bergegas menghampirinya.
"Keluarkan semua barang dari kamarmu aku mau memanggil ayah dulu!"
Aku berjalan dengan sangat kesal melihat semua ini, sungguh sepertinya ia dan ayahnya bukanlah manusia, melainkan moster berwujud manusia.
Mereka berdua sama saja hanya memikirkan ego masing-masing, mereka tak pernah tau bahwa aku dan mereka berdua lain sama saja.
Mereka punya kemarahan begitu juga aku, sungguh sekang aku sangat percaya dengan pepatah, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya.
Plakkkkk.....plakk....plakkkkkk
Aku sangat kaget melihat orang berlarian menuju satu kamar, wajah mereka sangat panik.
Apa yang terjadi dan kamar siap itu?
Bersambung...
__ADS_1