
Aku sangat bingung harus memulai dari mana, aku tidak punya alasan untuk mendapatkan tanda tangannya.
Aku keluar memeriksa keadaan semuanya berada didalam kamar masing-masing.
Tapi apapun caranya aku harus mendapatkannya, kupanggil Ayah dan Zaky supaya berkumpul di ruangan televisi.
''Ayah, Zaky!'' aku berteriak memanggil mereka.
''Ada apa, Qia?'' Ucap ayah.
''Kenapa kau membuat keributan?'' Ujar Zaky.
''Aku suntuk terus berada didalam kamar.''
''Jadi, kami harus apa? dasar bodoh.'' Zaky masih sempat mencaciku.
''Ayolah! kita bermain sebentar saja, aku sangat bosan,'' aku memohon.
Gagal Ayah dan Zaky kembali ke kamar mereka, cara apa lagi yang harus ku gunakan untuk mendapatkan tanda tangannya.
Aku duduk dishofa tertunduk lesu.
''Qia, game apa yang akan kita mainkan?'' Ucap Ayah membuyarkan lamunanku.
''Ayah, tapi jika hanya dua orang tidak akan seru, sudahlah! Ayah lupakan saja, aku kembali kekamar saja.'' Ucapku.
''Jadi, sudah selesai! tidak ada game lagi?'' Ujar Zaky yang tiba-tiba datang.
''Siapa lagi yang kita tunggu? ayo Zaky bergabung, Qia bagaimana?''
Aku terseyum dan duduk kembali, akhirnya mereka mau juga, sekarang tinggal bagaimana caranya agar mereka tidak curiga.
''Ayah, Zaky! Aku teringat game dulu sewaktu aku kecil, cara mainnya kita bertiga akan menyambung kata contohnya Tali, lalu yang digunakan itu akhir katanya berarti Li dan begitu juga seterusnya di ucapkan dengan cepat.''
''Hmmm...'' ucap Ayah.
''Itu saja? itu tidak akan seru!'' Gumam Zaky.
''Tunggu dulu, siapa yang tidak bisa menjawab dengan benar maka, wajahnya akan di tanda tangani. Bagaimana?''
''Tidak masalah,'' ujar Ayah.
''Mari kita mulai dari aku dulu, Ayah dan kau.Mulai dengan kata Lantai...'' Ucap Zaky.
''Air!'' ucap Ayah dengan cepat.
''Irama!'' permainnanya baru saja di mulai semuanya tertawa bahagia menanti kesalahan terjadi.
Sudah 10 menit kami bermain tapi belum ada juga yang membuat kesalahan.
''Dua putaran lagi kita selesai, Ayah sudah cape,''
''Ayah mengaku kalah berarti melawan kita...'' ujar Zaky meledek Ayah.
Permainan pun kami lanjutkan dan ini putaran terakhir sebelum semuanya bubar.
''Makan, lajutkan Zaky!''
__ADS_1
''Anak, Qia ucapkan dengan cepat,'' teriak Zaky.
''A-a...'' aku sengaja tidak menjawab, ini kesempatan terakhirku.
''Yeee! Ayah, kita menang dia yang kalah. Kamu liat, aku dan ayah itu sama kami tidak akan kalah sampai kapan pun.'' Mereka berteriak kegirangan meledek ke arahku.
''Zaky, kamu saja yang menandatanganinya, pinggang ayah sakit.'' Ucapan ayah membuatku tercengang.
''Baiklah ayah, akan aku lakukan.'' Ucap Zaky menimpali perkataan ayah.
''Ti-tidak ayah! bagaimana mungkin ayah pergi begitu saja, ayah harus menandatangani wajah atau tanganku supaya permainan ini berkesan.'' Aku mencoba meyakinkannya semoga saja ia tidak menaruh curiga.
''Sudahlah! biar Zaky saja.''
''Ayah, Kurasa yang di katakan Qia itu benar ayah. Karna dia yang kalah maka ia harus mendapatkan hukumannya.''
''Baiklah! jika itu membuat kalian senang.''
Ayah menandatangani pergelangan tanganku lalu pergi meninggalkanku dan Zaky, sementara itu Zaky mencoret wajahku.
Kami kembali kekamar masing-masing setelah menghabiskan waktu bersama.
Ku ambil buku yang berisi tanda tangan itu untuk mencocokkannya.
Ternyata perkiraanku tidak salah ayah Zaky menyimpan banyak rahasia yang sangat kelam.
''Mr.x, kita bertemu besok aku ingin tau tentang semua wanita ini.'' Aku menelponnya untuk pergi mencari tahu kehidupan mereka.
''Bagaimana mungkin? Jika Ayah Zaky tau, semuanya akan hancur. Menurutku lebih baik kau tetap berada dirumah.''
''Lalu, apa yang akan kau katakan kepada mereka, supaya mempercayaimu.'' Ucapnya dengan nada kesal.
''Aku akan pulang kekampung untuk berziarah kemakam nenek, mereka pasti percaya.''
''Aku akan menunggumu di ujung jalan, tapi ingat jangan sampai menimbulkan keraguan, kau harus hati-hati Zaky dan Ayahnya bukan orang yang bisa dibodohi begitu saja.''
''Ia, besok jam 08.30 wib aku akan berusaha membuat mereka percaya.''
Kumatikan telponnya dan menyusun beberapa barang yang kuperlukan nantinya.
...****************...
Pagi ini aku sudah menyiapkan sarapan dan sengaja bangun lebih cepat.
''Hei Qia, kenapa kau memasak sepagi ini?'' Ucap Ayah mengagetkanku.
''Ayah, sejak nenek meninggal aku belum pernah berziarah. Hari ini aku berencana pergi kesana.''
''Lalu, apa yang kau tunggu bangunkan Zaky, dia akan mengantarkanmu.'' Ujarnya.
''Baiklah! (aku nenghampiri kamar Zaky dan membangunkannya) Zaky aku mau pergi ziarah tolong antarkan aku!''
''Pergi saja! kenapa kau harus merepotkanku, keluar dari kamarku!'' ia membentakku dan melempar bantalnya kearahku.
Aku pergi meninggalkannya dan menghampiri ayah di meja makan.
''Bagaimana?''
__ADS_1
''Ia tidak bisa mengantarkanku Ayah, sekarang aku tidak ada pilihan. Aku akan pergi sendiri dan tidak akan lama setelah selesai aku akan segera pulang.'' Ucapku dengan nada sedih.
''Maaf Qia, Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, pergilah jaga dirimu baik-baik.''
Aku bergegas keluar rumah sebelum semuanya berubah fikiran, aku berjalan terus menerusi jalan mencari keberadaan Andri.
''Qia, cepat masuk!'' Mr.x membukakan pintu mobilnya dan melaju dengan cepat.
''Kemana kita akan pergi lebih dulu?'' Ucapku.
''Namanya Nita rumahnya tidak jauh dari sini, kita akan pergi kesana.''
Tak berapa lama kami berhenti di sebuah gang kecil.
''Dimana rumahnya?''
''Kita harus berjalan kaki rumahnya ada di ujung gang ini.'' Mr,x berjalan didepanku.
Rumah-rumah disini terlihat sangat padat.
''Apa masih jauh?''
''Lihat itu rumahnya.'' menunjuk keraha rumah tua.
ku ketuk pintu rumahnya dan keluar seorang perempuan yang sudah sepuh.
''Mencari siapa, Nak?'' usianya yang sudah tidak muda lagi membuatnya kesulitan berjalan dan tubunya yang sudah membungkuk.
''Nita, Apa ibu kenal?'' Ucapku.
Ia menangis tersedu-sedu begitu ku ucapkan nama itu.
''Putriku...dunia ini memberinya kehidupan yang sangat pahit ia putri ku satu-satunya. ia meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya penuh dengan luka ia diperkosa dengan berutal.'' ia tidak berhenti menangis aku memeluk dan menenangkannya.
''Apa ibu tau pelakunya?''
''Sampai saat ini aku tidak tau siapa yang membunuh putriku, kepolisian pun tidak mendapatkan petunjuk dan menutup kasusnya.''
''Apa ia mempunyai pacar?''
''Tidak, selama ini ia tidak pernah dekat dengan laki-laki, kini aku hanya tinggal sebatang kara. Nita putiku...''
Kami melanjutkan perjalanan mendatangi satu persatu rumah wanita didalam poto itu.
Dan ini rumah wanita yang kedua yaitu Rika,
Tapi kami tidak bertemu dengan keluarganya. rumah ini sudah di jual setelah kematian putrinya.
Setelah kematian Rika ayahnya bunuh diri dan ibunya pulang kampung.
Kami melanjutkan perjalanan satu persatu keluarga korban kami temui. Tapi, semua cerita mereka sama saja, pelakunya tidak ditemukan sampai sekarang.
Aku menanyakan pak Zulham satu pun tidak ada yang mengenalnya.
Lalu kenapa poto ini disimpan rapat-rapat pak Zulham, apa sebenarnya yang ia sembunyikan.
Bersambung...
__ADS_1