
Ia semakin menggila meski sudah usia lanjut tetapi kekuatannya makin menjadi-jadi. Aku tak berhenti menangis dan berteriak.
Di saat ia mulai mencumbuku seketika aku hilang harapan untuk lepas dari kekangannya.
''Ayah tolong lepaskan aku? biarkan aku pergi dari sini, ku mohon?''
Ia tidak menjawabku sepatah kata pun tetapi semakin kuat mengekangku.
Bibirnya semakin mendekat ke arah bibirku, ia akan menciumku.
''Auuuuu tiiidakkkkkkk...''
''Aaahhh!'' Badannya jatuh diatas.
''Qia...Qia...! Tenang aku disini Andri...''
Kudorong tubuhnya dan berlari memeluk Andri.
''Andri...andri...andri...'' Cuman kata itu yang bisa aku katakan, Ini sungguh jauh dari perkiraanku dan tak pernah ku bayangkan sedikitpun akan mengalaminya.
''Qia... Tenangkan dirimu dulu kau aman sekarang!'' ia memelukku dengan erat dan membawaku keluar dari kamar.
''Minumlah kau akan merasa lebih baik.'' Ia menyodorkan secangkir air putih.
''Andri...'' aku kembali memeluknya dan menangis.
''Maafkan aku terlambat datang kesini? Jika tadi aku lebih cepat kau tidak akan mengalami ini semua.''
''Akan ku bunuh kakek tua itu sekarang juga, tidak akan ku ampuni walau apapun yang terjadi.'' Aku berlari kembali ke kamar.
__ADS_1
''Hei...! jika kau bunuh dia sekang disini, maka semua orang akan menyalahkan mu dan menuduhmu sebagai pembunuh, ini bukan waktu yang tepat.''
''Apa yang harus ku lakukan aku tidak tahan melihat wajahnya berada dihadapan ku setiap hari, kelakuannya akan selalu membayang-bayangiku.''
''Kau harus bersabar, harus bisa mengontrol amarahmu, Kita mencari waktu yang tepat agar semuanya terlihat alami,'' Andri memindahkan tubuh kakek tua itu kedalam kamarnya.
''Aku akan ikut bersamamu, aku tidak mau lagi berada di neraka ini. Sudah cukup semua pengorbanan yang ku lakukan.''
''Ya...! apakah kau mau pengorbanan mu yang selama ini sia-sia?''
''Aku tidak peduli tentang itu lagi, sekarang semuanya sudah cukup!''
''Apa kau tidak lagi memiliki api balas dendam di hatimu? kemana perginya kemarahan yang dulu kulihat menyala di matamu?''
''Tapi...!''
''Qia, kau harus menyelesaian apa yang telah kau awali, sekang waktunya untuk memberantas mereka.''
Andri meninggalkan ku dalam kamarku sementara Ayah dalam keadaan pingsan dan sudah dipindahkan kamarnya.
Ku kunci pintu aku tidak ingin kejadian yang tadi terulang lagi.
Ku pejamkan mataku mencoba melupakan kejadian yang baru saja menimpaku.
Sembari menunggu Zaky pulang aku menyibukkan diri membaca isi buku yang sudah aku poto. Kurang lebih 2 jam ku baca pelan-pelan isi bukunya.
Kejahatan yang dilakukan Ayah memang sudah tidak bisa di anggap sepele, banyak wanita yang telah menjadi korbannya.
Aku yakin dari isi buku yang ia tulis bahwa ia seorang psikopat juga penjahat wanita.
__ADS_1
Ia tidak senang dengan hanya melakukan pemerkosaan, tapi ia akan merasa puas setelah membunuh mereka maka disitulah bentuk kepuasannya.
Tidak salah lagi ibunya Zaky memilih mengakhiri hidupnya, ia sudah tidak sanggup melihat perbuatan suaminya.
Kini giliranku membalaskan semua dendam wanita yang pernah ia sakiti, aku akan memberinya kematian yang sangat mengerikan. Siapapun akan takut mendengar berita kematiannya yang sangat tragis.
Tok...tok...
Ketukan itu mengagetkanku.
''Siapa?'' Aku sangat takut bagaimana jika ternyata itu ayah.
''Qia! buka pintunya.'' Ia terus mengetuk pintu semakin keras.
''Siapa?''
''Zaky, ini aku cepat buka pintunya. Kenapa pintunya harus dikunci? tidak seperti biasanya.''
Setelah yakin bahwa itu Zaky, aku bergegas membuka pintu.
''Kemana saja kamu? kenapa tidak memberi tahuku?'' ujar ku dengan mataku yang melotot penuh amarah.
''Kenapa kamu harus marah! Jaga sikapmu ini rumahku. Aku bebas pergi kemana pun yang aku suka.''
Zaky pergi meninggalkanku dengan wajah yang sangat kesal.
''Hei...! aku belum siapa ngomong, dengarkan aku dulu.''
Sia-sia saja ia tidak melihat kebelakang sedikit pun.
__ADS_1
Bersambung...