
Kini tinggal aku sendiri, aku sangat bosan ingin rasanya aku pergi untuk sekedar refresing, tapi waktunya sungguh tidak tepat.
Aku sangat penasaran dengan kamar ibunya Zaky, sebelum mereka pulang aku bergegas memeriksanya.
Aku masuk dengan sangat mudah kamarnya tidak dikunci sama sekali, tapi semuanya dipenuhi dengan abu yang sangat tebal, tempat ini sepertinya sudah lama tidak dibersihkan.
Satu demi satu lemari ku periksa, akhirnya kudapatkan sebuah poto album keluarga.
Begitu ku buka potonya ada seorang anak laki-laki yang dipangku wanita dan laki-laki dewasa memeluk mereka dari belangkang, layaknya keluarga yang sangat bahagia.
''Qi-a...Qi-a!'' Aku terkejut mendengar suara Zaky.
Aku bergegas keluar tapi sial dia berjalan ke sini, karna kamarnya dan ibunya seperti satu akupun pura-pura membersihkan kamarnya.
''Hei! apa yang kau lakukan disini?'' Ucapnya sangat marah.
''A-aku sedang membersihkan kamar tidurmu, ada banyak abu disini.''
''Tidak perlu! aku bisa membersihkannya sendiri, cukup kamarmu saja yang kau bersihkan.''
''Kenapa kau marah? apa salah jika aku membersihkannya?''
''Tidak! tapi tolong biarkan saja seperti ini meski sekarang aku sudah menerimamu, tapi aku ingin punya privasi sendiri, jangan pernah lagi masuk kekamarku dengan alasan apapun!''
Karna gagal menikah kemarin samapai hari ini, kami masih tidur terpisah.
Aku keluar dari kamar itu dengan rasa yang heran, kenapa hal sekecil itu bisa membuatnya sangat marah?
''Qia?'' Ayah menghampiriku yang terdiam duduk di tangga.
''A-ayah!'' Aku terkejut ayah memegang pundakku.
''Kenapa melamun? apa yang kau fikirkan?''
''Tadi aku membersihkan kamar Zaky, tapi ia sangat marah.''
''Begitulah sifatnya dari kecil ia tidak menyukai siapapun meyentuh miliknya, sekalipun niat kita benar. Tidak perlu kau fikirkan nanti juga kau akan terbiasa.''
''Ayah pergi kemana tadi bersama Zaky?''
''Kami pergi kerumah sakit memeriksa mayat yang ditemukan, tapi tidak ada petunjuk yang ditemukan wajah mereka benar-benar hancur, sungguh pembunuhnya sangat biadap dan tidak manusiawi.'' Ucap ayah
''Mungkin mereka sudah melakukan kesalahan besar ayah, makanya pembunuhnya memberikan balasan yang seimbang.''
''Kita harus lebih hati-hati ayah, mungkin saja pembunuhnya berkeliaran disekeliling kita dan sedang mengincar nyawa.'' Ucap Zaky tiba-tiba datang menimbrung pembicaraan kami.
__ADS_1
''Aku setuju dengan perkataanmu, tapi yang lebih penting seseorang yang membuat kesalahan. Seharusnya harus mendapat hukuman yang setimpal.''
''Sudah-sudah tidak perlu kita perdebatkan, yang terpenting sekarang kita harus akur dan tidak mencari kesalahan siapapun.''
Aku pergi meninggalkan mereka masuk kedalam kamarku. Aku sangat penasaran melihat isi album poto yang kuambil, perlahan ku keluarkan album itu dari dalam bajuku.
Sengaja kusembunyikan, ketika ku dengan suara Zaky. Poto-potonya sudah sangat lama terlihat dari warnanya yang sudah memudar.
Satu demi satu poto ku lihat, tidak ada yang perlu di dicurigai disini, semuanya terlihat biasa saja.
Ku lemparkan album itu ke bawah tempat tidur, entah dari mana selembar kertas itu terlempar. Ku ambil dan membukanya tulisannya tinta merah. beserta poto seorang wanita yang cantik, tapi ini bukan poto buk Aminah lalu siapa?
Ternyata perselingkuhan yang dilakukan ayah Zaky bukan cuman sekali saja, bahkan sangat banyak penyebab kematian ibunya terlihat jelas di tulisan ini.
Isi surat bu Aminah.
Zaky, maaf kan ibu tidak bisa memberimu kasih sayang? Suatu hari kau harus mengerti bahwa ibu sangat menyayangimu.
Awal menikah dengan ayahmu ibu sangat bahagia tapi hari demi hari sifatnya berubah, setiap malam ia pulang dalam keadaan setengah sadar diantar pulang wanita yang berbeda-beda.
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi, setelah kau lahir sifat ayahmu tetap seperti itu.
Kesalahan yang ibu lakukan telah membuat hidupmu menderita, bibi mu Sita 16 tahun buta ia hidup sendiri, karna kasihan ibu membawanya tinggal bersama kita.
Hatiku hancur Sita yang harusnya ku jaga menjadi mangsa ayahmu, Sita menangis ketakutan dan berteriak sepanjang hari.
Melihat mentalnya yang sudah hancur ibu membujuknya agar menikah dengan ayahmu dan ia pun setuju.
Setelah menikah ayahmu terus meyiksanya menggunakan benda tajam, ibu di ancam jika berani buka mulut. Seluruh tubunya dipenuhi bekas luka kekejaman ayahmu. Ibu sudah tidak tahan dengan semua ini, tolong maafkan aku Zaky jaga Bibimu dengan baik.
Aku tidak yakin membaca isi surat ini sangat berbeda dengan yang di katakan pak Zulham.
Kusimpan ditempat yang tidak mungkin ada orang tau.
''Mr.x?'' Ku telpon dia memberitahu yang aku dapatkan.
''Ya Qia ada apa?'' Ucapnya
''Aku menemukannya!''
''Siapa? apa maksudmu? aku tidak mengerti...''
''Sita istri kedua pak Zulham, Ternyata semua yang dikatakan pak Zulham adalah kebohongon untuk melindungi dirinya.''
''Aku tidak mengerti, Kebohongan apa yang kau maksud?''
__ADS_1
''Ia, pak Zulham adalah orang yang sangat kejam, aku menemukan surat dan poto didalam kamar ibunya Zaky, sepertinya di tulis buk Aminah.''
''Hmmm... aku akan datang kesana!''
''Ti-tidak! itu tidak mungkin, aku tidak ingin Zaky membenciku gara-gara hal ini, kita bisa membicarakannya lewat telpon saja.'' Ujarku.
Ku matikan telponnya sebelum ada orang yang mendengar obrolan kami.
Semuanya aman tidak ada seorang pun yang berada di ruang tengah, sungguh sunyi sekali.
Aku sangat penasaran apa yang mereka lalukan perlahan-lahan ku intip kamar Zaky, ternyata ia sedang tidur.
kemudian ke kamar ayah sungguh di luar dugaanku, yang selama ini ku fikir dia hanyalah seorang kakek tua ternyata aku keliru.
''Sayank aku kangen sekali, kapan kita bertemu? segera akan ku dapatkan, tunggu saja waktu yang tepat.'' Pak Zulham menelpon seseorang dengan sangat romantis.
Di usianya yang sudah tua masih berfikiran seperti itu, apa yang ia tunggu?
Berarti, pak Zulham harus ku awasi ia tidak boleh hilang dari jangkauanku.
Aku kembali kekamarku memikirkan perkataannya.
Pagi hari berikutnya.
Aku bangun lebih cepat dari biasanya tak ada seorang pun yang bangun kecuali aku, aku sangat penasaran melihat mayat mereka yang telah kubunuh, aku bergegas pergi kerumah sakit untuk melihatnya.
Sesampainya di rumah sakit tubuh mereka sudah membusuk, dan betul saja wajah mereka sudah hancur, sungguh aku sangat puas melihat kematian yang sangat mengerikan ini.
Polisi dan dokter keluar masuk membawa keluarga mereka untuk mengenali korban, tapi sungguh semuanya sia-sia hanya tangisan yang terdengar silih berganti.
''Bu, kenapa menangis?" kuhampiri seorang ibu paruh baya yang sedang menangis sendiri.
"Suamiku tidak ada kabar sejak beberapa hari kebelakang, aku datang kesini untuk melihatnya, Tapi wajah mereka satu pun tidak bisa dikenali, ia adalah suami yang baik, jika itu dia apa yang akan kukatakan kepada anakku?" Ia terus menangis tanpa henti.
Aku Merasa bersalah melihat penderitaan mereka, apa aku yang salah? telah membuat mereka kehilangan orang yang sangat dicintai.
"Bu, jika memang mereka yang berbuat salah, apa setimpal dengan balasan ini?" Ucapku.
"Siapapun yang membunuh mereka ia sungguh kejam, Jika suamiku salah satu dari mereka aku akan berdoa agar hidupnya tidak bahagia selamanya,"
Aku bergegas pulang sampai dirumah tangisan mereka masih jelas ku dengar, pasti mereka mengutukku tapi ini sudah keputusanku aku yakin ini yang terbaik.
Istri kehilangan suaminya dan anak kehilangan ayahnya. Jika saja mereka tau yang dilakukan suaminya!
Bersambung...
__ADS_1