
Aku bergegas membuka pintu dan berusaha mengalikan perhatian mereka.
''Ada apa? tidak biasanya?'' ucap Zaky dengan wajah bingung.
''Wajarlah! dia kan istrimu itu sudah kewajibannya.'' Ucap ayah langsung masuk kedalam kamar.
''Ia, dari mana saja, aku bosan sendiri dirumah.''
''Semoga saja kau berkata benar.''
Akhir-akhir ini Zaky dan ayah sering pergi keluar, tapi ketika ditanya mereka tidak pernah menjawab dengan jelas.
''Kenapa lama sekali biar pulang?'' Ujarku.
''Ada urusan sedikit, sudahlah itu tidak penting aku cape, tidur sana jangan ganggu aku.''
Malam ini semuanya hening Ayah dan Zaky tidak keluar dari kamar.
Sikap dingin mereka menyimpan banyak teka-teki, tapi bagaimana cara ku mengetahuinya.
Aku berjalan kekamar Zaky pintunya tertutup rapat, dengan dalih makan malam kubuka pintunya.
''Zaky, makan dulu sebelum tidur,'' senyap aja tidak ada respon.
Perlahan ku buka pintunya ternyata ia sudah tidur. Aku bergegas meninggalkannya dan pergi ke kamar ayah.
Pintu kamarnya tidak tertutup rapat jadi aku bisa melihat dengan mudah keadaan di dalam kamar.
''Ayah, Makan malam dulu!'' Ucapku sambil mengetuk pintu.
Ternyata ayah masih belum tidur.
''Tidak,Qia...Makan saja tadi kami sudah makan diluar,''
''Ayah, apa perlu ku buatkan teh atau kopi?''
''Boleh, kopi saja.''
Tak berapa lama aku kembali kedalam kamarnya mengantarkan secangkir kopi.
''Ayah, kopi!'' ucapku lalu pergi.
Dari kejauh ia terus ku awasi, sedikit demi sedikit ia meminum kopi itu.
Perlahan tapi pasti akhirnya ia tertidur juga, aku sengaja menambahkan obat tidur ke kopinya.
''Ayah...ayah...ayah.'' Tidak ada respon.
Ku ambil ponselnya dan memeriksanya, tapi tidak ada informasi apa pun kecuali, panggilan kesatu nomor yang sama dan itu pun sangat banyak.
Ku ambil nomor itu lalu kembali kekamarku.
Akupun tidur tak lupa mengunci pintu kamar.
Kring...kring...kring... Suara polselku.
''Ya?'' Mataku belum bisa dibuka rasanya baru beberapa menit aku tertidur.
''Qia, buka matamu dengarkan aku sebentar.'' Ucap Mr.x ternyata ia yang mengganggu malamku.
__ADS_1
''Mr.x, telpon aku besok saja, sekang aku sangat mengantuk.''
''Tidak! Qia, perempuan yang dipoto itu semuanya sudah mati.'' Ucapnya yang membuatku terkejut dan melompat.
''Hah! lalu siapa mereka? kenapa poto orang yang sudah meninggal disimpan rapat?''
''Salah satu wanita di poto ini adalah Sita. Tadi aku mendatangi satu persatu alamat ini, dan yang kutemukan kematian mereka sangat tragis, Mereka diperkosa lalu seluruh tubuhnya kaku layaknya orang dengan penyakit struk dan akhirnya meninggal,''
''Kau yakin dengan semua itu? Lalu kenapa poto itu ada dirumah ini?''
''Itu yang harus kita cari tahu, Kasus ini terdaftar di kepolisian, setelah pencarian yang cukup lama dan tidak menemukan hasil akhirnya kepolisian menutup kasus ini.''
''Qia, berhati-hatilah!''
''Aku yakin, ada petunjuk di kamar itu. tapi waktunya sangat sempit Ayah maupun Zaky sangat jarang keluar rumah,''
''Akan kufikirkan besok supaya mereka meninggalkanmu, tidurlah.''
Pagi yang kutunggu-tunggu pun akhirnya datang Ayah dan Zaky melakukan aktivitasnya masing-masing.
''Pagi!'' ucapku mencaikan suasana.
Mereka hanya melirikku tanpa mengucapkan apa pun.
Aku duduk dishofa menunggu mereka pergi, sudah hampir dua jam tapi tidak ada pergerakan apapun.
Aku kembali kekamarku dan melanjutkan tidur.
''Qia, kami pergi dulu.'' Suara Ayah berteriak memanggilku.
''Ia...'' kelihatannya mereka sangat buru-buru.
Ku ambil ponselku tanpa membuang waktu.
''Mr.x, mereka pergi.''
''Cepatlah! cari secepatnya.''
Aku berlari ke kamar itu mencari disemua cela tapi sia-sia tidak ada satupun yang ku temukan.
Ketika hendak menutup pintu kamar tanpa sengaja aku melihat ke atas, ada sebuah buku di atas pintu segera ku ambil dan pergi.
Tulisan ini sudah tidak bisa di baca.
''Mr.x, ambil buku ini aku yakin ada sesuatu didalamya.''
Setelah menyerahkan buku itu ketangan Zaky, aku bergegas masuk ke kamarku, Zaky tidak tau kalau seluruh rumah ini telah aku buat kunci duplikatnya. Jadi aku bisa keluar masuk tanpa sepengetahuannya.
Jam 03.00 wib belum juga ada kabar dari Mr.x, padahal aku sudah tidak sabar menunggu.
Zaky dan Ayah sudah pulang satu jam yang lalu.
''Mr.x, apa itu membantu?'' ujarku menelpon Andri.
''Buku ini berisi tentang pembunuhan wanita di poto itu, tapi aku belum bisa membaca semuanya. Bersabarlah akan aku rubah tulisannya agar kau bisa membacanya.''
''Siapa?'' aku tidak sadar Zaky datang dan memergokiku.
''Ti-tidak ada, kenapa kau mengagetkanku?''
__ADS_1
''Berikan ponselmu...'' ia mengambilnya dengan paksa.
''T-tapi...''
''Halo! siapa ini?'' Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Zaky pasti tidak akan mengampuniku.
''Berikan ponselku.''
''Dasar wanita gila jangan pernah angakat telpon seperti itu lagi.'' Aku sangat bingung ia tidak marah sedikit pun.
''Hei!'' ucapku kepada Mr.x.
''Aku tadi memakinya dengan suara perempuan, mungkin ia fikir aku orang gila haaaaa...haaaa''
''Owh.....hahhhh! luar bisa.Kututup dulu telponnya sebelum ia curiga.
''Jangan hubungi aku lagi, begitu semuanya siapa aku akan memberitahumu.''
Detik demi detik kulewati jarum jam terus berjalan, Menunggu kabar dari Andri. Zaky dan Ayah keluar masuk rumah seperti biasanya.
Aku hanya tidur, makan, dan tidur lagi.Dan sekarang pun aku sedang mencoba memejamkan mataku lagi, aku lelah menunggu Andri.
Aku melompat merasakan ada yang mengelus-elus rambutku.
''Hei! jangan coba-coaba,'' ucapku mengambil vas bunga.
''Kau mau membunuhku? Aku rela mati ditanganmu.'' ternyata andri.
''Qia,ada apa?'' suara itu Ayah ia pasti mendengan teriakanku.
''Cepat sembunyi Andri...'' Aku menarik tangannya.
''Tidak mau, untuk apa aku sembunyi,''
''Andri, cepat keluar!''
''Ia, ia aku keluar.'' ia tersenyum nakal kearahku.
Ku buka pintu benar saja itu Ayah.
''Kepa kau berteriak? ada apa?'' ucapnya.
''Aku hanya bermimpi yang menakutkan, Ayah.''
''Ya sudah, lanjutkan tidurmu.'' ucapnya.
Kututup pintu rapat-rapat dan memanggil Andri, ketika kubuka jendela ia melompat ke arahku kami pun saling berpelukan, tatapan matanya sungguh membuat hatiku berdebar kencang.
''Owh maaf? (ia melepaskan pelukannya) Qia...'' Ia terlihat gugup.
''I-ia!'' ucapku.
Ia menghela nafas panjang.
''Ini salinan buku itu, disini tidak dijelaskan siapa pelaku pemerkosaan itu. Hanya ada tanda tangan, mungkin saja ia pelakunya.Kau harus meminta tanda tanga Zaky dan Ayahnya.''
''Aku akan mendapatkannya.'' Ujarku.
''Aku pergi, Hati-hati.'' Ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Bersambung...