
Siang sudah mulai terasa menyengat, ketika Juna memaksa Keysha untuk menyudahi pertemuan mereka pagi tadi. Ada keraguan yang kini mulai menggelayuti hati Juna, keraguan yang entah apa.
Tadinya Juna mantap untuk tetap berhubungan dengan Keysha, meski ia terikat pernikahan dengan Ira. Sayangnya, Juna seolah tidak tega dengan Ira kali ini.
"Ya ampun, tidur." Gumam Juna saat ia baru saja menutup pintu mobilnya. Ia melihat Ira yang sedang tertidur pulas di dalam mobil.
"Ra, Ra. Ira, bangun." Ucap Juna sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ira. Spontan Ira mengerjapkan matanya, kelopak matanya bergetar samar, menciptakan bayangan bulu mata lentiknya di area bawah mata.
"Bangun, Ayo bangun." Tambah Juna lagi.
"Eengh..." Ira mengerang pelan, masih tak sadar sepenuhnya dengan situasi ini.
"Bangun. Kita udah mau pulang, satu setengah jam lagi kita udah harus berangkat ke bandara." Ucap Juna pelan.
"Oh, mas, mas Juna udah selesai ngomong sama mbak Keysha?" Tanya Ira kemudian sambil menguap. Matanya basah dan sedikit memerah.
"Sudah. Kita akan makan siang, kamu mau makan siang dimana? Mau makan apa?" Tanya Juna sambil memasang seatbealt. Lelaki itu lantas menghidupkan mesin mobilnya.
"Ira, Ira mau makan apa aja deh, mas. Terserah mas Juna juga makan dimana. Yang penting, Ira bisa makan pakai tangan, nggak pakai pisau dan garpu." Ungkap Ira.
"Hah? Memangnya kenapa kalau pakai garpu?" Tanya Juna keheranan.
"Kurang nyaman."
Juna hanya mengangguk, membiarkan tak ada obrolan sama sekali. Suasana di dalam mobil terasa hening, hingga kemudian Ira memecah keheningan yang melanda mereka.
"Mas, tadi sama mbak Keysha ngobrolin apa?" Tanya Ira.
"Sudah aku bilang, jangan melewati batasan kamu. Aku nggak suka kamu terlalu ikut campur urusan aku. Kamu memang istri aku, tapi aku udah bilang juga kalau kamu harusnya nggak menyakiti hati Keysha." Tegas Juna. Suaranya lembut, tapi nada bicaranya cukup dingin menurut Ira.
"Ingat, Ra. Kita hanya sepasang suami istri yang menikah dalam kondisi terjepit dan terpaksa. Sudah bagus aku nggak bikin surat kontrak pernikahan kayak orang-orang lainnya."
Apa yang Ira lakukan? Ira hanya lebih banyak diam dan menunduk. Gadis itu bahkan tidak mengerti, mengapa kalimat Juna sanggup membuat hatinya sakit seolah hancur.
Juna yang menyadari raut wajah Ira, mendadak merasa bersalah. Tapi entah, Juna merasa seperti ia tak melakukan kesalahan.
"Ra?" Panggil Juna untuk memecah keheningan.
__ADS_1
"Iya?"
"Kenapa kamu diam aja?"
"Mas Juna mau Ira harus ngapain?"
"Ya terserah kamu, tapi jangan diam."
"Percuma juga Ira ngomong, takut salah." Sahut Ira jutek. Tanpa Juna sadari, bibirnya tersenyum simpul. Kejutekan Ira, seolah menjadi hiburan baginya. Padahal sebelum mereka menikah, ia dan Ira terlihat sangat berjarak.
"Kamu marah?" Tanya Juna lagi.
"Enggak, aku masak." Jawab Ira asal.
"Hah?"
"Kalau Ira ngomong benar, tapi mas Juna menganggap Ira salah, akan lebih baik kalau Ira diam aja."
"Ra, tapi tadi itu menurut aku, kamu terlalu mengejutkan Keysha. Dia tentu masih syok mendengar kabar pernikahan kita. Kamu harusnya ngerti dulu. Nggak bisa kalau tiba-tiba aku harus membuat dia menerima kenyataan. Semua perlu proses. Dari awal kan aku udah bilang kalau . . . ."
"Astaga, Ira. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku nggak bisa . . . . ah, sudahlah." Ucap Juna lirih. Juna merasa putus asa.
"Nggak bisa apa?"
"Nggak bisa menyadarkan kamu."
"Tapi Ira merasa Ira benar. Mau disadarkan kayak apa lagi?"
"Terserah kamu aja lah."
Kembali hening, Ira dan Juna sama-sama bungkam. Keduanya tak bisa bila harus mengalah satu sama lain. Keduanya merasa paling benar.
Hingga kemudian Juna tiba di sebuah kedai ikan bakar kekinian, tunggal Iskan itu memarkirkan mobilnya di halaman kedai.
Mata Ira pun berbinar bahagia. Bahkan gadis itu sudah tak sabar. Mendadak saja perutnya berbunyi, membuat Juna menggigit bibirnya sendiri karena tak ingin tertawa kelepasan.
"Ayo, Ra." Juna membuka pintu mobil, menunggu Ira membuka pintu sendirian. Terlalu berharap, Ira terlalu tinggi berharap agar Juna membukakan pintu untuknya. Sayang, harapan hanya sekedar harapan belaka.
__ADS_1
"Aku pesan dulu. Tunggu di meja sana." Juna menunjuk sebuah meja yang berada di dekat jendela. Lelaki itu lantas berlalu begitu saja dari sana,
Sekembalinya Juna, Ira tetap diam. Gadis itu menjaga gengsinya yang setinggi langit. Ira yang keras kepala, mana mau dia mengalah begitu saja?
Juna sendiri bingung, apa yang harus ia katakan.
"Ra, lain kali kamu jangan gitu lagi, ya?" Ucap Juna pelan, membuat Ira menyipitkan matanya.
"Maksudnya?"
"Jangan mendebat Keysha." Jawab Juna. Sontak saja Ira seperti kehilangan selera makan.
"Mas Juna secinta apa sih sama dia?" Tanya Ira penuh selidik.
"Aku sama dia, bertahun-tahun hidup bersama, Ra. Kami selalu kompak ya, meski nggak bisa dikatakan intens ketemunya. Mustahil kalau aku hanya sekedar membual saat bilang mencintainya."
"Kalau gitu, ayo bercerai saja. Talak Ira, mumpung kita belum menikah resmi di KUA. Gampang, kan? Ira nggak mau mendampingi lelaki yang masih di bayang-bayangi masa lalu." Ucap Ira tegas.
"Keysha bukan masa lalu aku, Ra. Dia kekasih aku, dan aku sangat mencintainya sampai sekarang ini."
"Oh ya? Mari kita lihat, kalau mas Juna memang membuka kesempatan bagi Ira untuk meraih hati mas Juna dan membuat mas Juna mencintai Ira, tapi mas Juna nggak mencoba melepaskan mbak Keysha, itu sama artinya dengan Ira bunuh diri. Kalau mas Juna memberi Ira kesempatan, tapi mas Juna tetap ingin mempertahankan mbak Keysha, Maaf, Ira mundur. Ira memang anak pembantu di rumah mas Juna, Ira juga hanya lulusan SMA. Tapi maaf, mas. Ira nggak sebodoh yang mas Juna bayangkan."
"Kamu . . . ."
"Tolong, mas Juna. Jangan membahas mbak Keysha lagi. Ira nggak mau kehilangan nafsu makan gara-gara pembahasan ini. Nggak penting, tapi cukup membuat mood Ira memburuk."
Juna terpana di tempatnya. Ira yang tampak lugu nan polos, sepertinya tak bisa di remehkan begitu saja. Gadis di depan Juna ini begitu keras kepala dan pantang menyerah.
Aira Marlina. Gadis keras kepala dan memiliki pendirian kuat. Juna tak menyangka, Ira sangat berbanding terbalik dengan Keysha. Bukankah ini benar-benar menarik?
Kedua sudut bibir Juna mengulas senyum.
Tatapan mata Juna pada Ira, terputus seketika, saat makanan yang ia pesan, datang. Juna mendapati Ira sangat antusias. Tak hanya itu, Ira juga menyantap makanannya dengan menggunakan tangan kanannya, benar-benar tak menggunakan sendok maupun garpu.
Dalam hati, Juna seperti merasa penasaran, dan tertarik dengan sikap Ira yang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Setiap waktunya, Juna selalu mendapati Ira yang penuh kejutan.
**
__ADS_1