Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Keberanian


__ADS_3

"Ma, Juna mohon. Ditunda saja besok, Juna nggak mau lah kalau ke Bali hari ini. Lagian Juna nggak siap." Juna mengejar mamanya yang terus berjalan cepat menuju ke dalam kamarnya. Lelaki itu terus meminta ningsih agar mengurungkan niatnya untuk mendesak Juna dan Ira agar bulan madu.


"Untuk cucu, mama nggak mau menundanya, Juna. Ini juga bukan perihal siap atau nggak siap, mau nggak mau ya kamu harus siap, dong. Kamu ngerti kan, maksud mama? Ira harus segera hamil." Tegas Ningsih.


Istri Iskandar itu lantas mengurungkan niatnya masuk kamar, dan lebih memilih untuk berbelok ke arah sofa minimalis di ruang keluarga di lantai atas.


"Duduk, Juna. Mana mau bicara." Ucap Ningsih. Tentu saja Juna mengangguk dan tak membuang waktu lagi, ia segera duduk di depan Ningsih.


"Mama nggak tahu gimana caranya untuk meyakinkan kamu, kalau Ira adalah gadis yang baik. Mama ingin kamu membuka diri untuknya, jangan membuatnya terluka. Mama lihat tadi dia sedikit bahagia saat mendengar kabar kalau dia mau liburan sama kamu, ya meski kaget karena ini kejutan, sih. Sebenarnya, disini itu kamu yang berusaha menghindari. Jangan alsan lagi, mama udah paham bagaimana kamu."


Kini, Juna seolah terpojok. Tak ada jalan lain lagi selain mengakui.


"Hari ini Juna sedang ada janji temu sama teman-teman Juna, ma. Ada kepentingan." Juna berdalih. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dalam benaknya.


"Bisa di tunda lain waktu. Nggak ada sesuatu yang lebih penting dari momen penting dalam hidup kalian, Juna. Mama udah nggak bisa memberi kamu toleransi A B C D lagi. Kamu akan berangkat sama Ira, titik."


Ningsih berlalu pergi begitu saja, membiarkan Juna yang masih mendesah lelah di tempatnya.


"Ada apa, Juna?" Iskan muncul dengan raut wajah bertanya-tanya. Lelaki itu lantas mendudukkan tubuhnya pada sofa sebelah Juna.


"Bukannya kamu harus berangkat ke bandara hari ini? Mama udah atur semuanya."


"Ira yang kemas-kemas barang, pa. Juna nggak ngerti sama mama." Ungkap Juna dengan nada putus asa.


"Maksudnya? Kamu nggak bersedia berangkat bulan madu ke Bali?" tanya Iskan untuk memastikan.


"Ya. Papa tahu sendiri. Arjuna menikah sama Ira juga dadakan. Mana sempat buat aku dan Ira bisa saling mengenal dan saling dekat? Papa juga terlalu ikut campur tentang masa depan Juna. Juna udah besar, udah bisa menentukan mana yang baik untuk Juna maupun enggak." Arjuna mengeluarkan keluh kesahnya.


"Kalau papa dan mama nggak menjodohkan kamu sama Ira, bagaimana? Apa kamu dan Ira bisa menikah sekarang? Apakah kamu melepas masa lajang di usia tiga puluh tahun?" Pertanyaan Iskan tandas membuat Juna bungkam.


"Juna lebih nyaman sendirian."

__ADS_1


"Sampai kapan?"


"Senyaman Juna."


"Menungggu mama dan papa mati? Hm? Mati tanpa melihat kamu memiliki istri dan menggendong anak? Juna, dengar. Mama dan papa ingin cucu. Kamu anak tunggal Iskandar, apa jadinya kalau kamu nggak punya pewaris? Kamu satu-satunya anak papa."


"Ya udah kalau itu yang terbaik untuk keluarga ini. Tapi sebelum berangkat ke Bali, Juna ingin menemui teman Juna dulu." Ungkap Juna kemudian. Melawan papa, sama saja bagi Juna untuk bunuh diri.


"Boleh. Asal ajak Ira. Ira sekarang istri kamu. Kemana pun kamu pergi, kamu harus membawa Ira ikut serta, kecuali kerja. Intensitas kebersamaan, akan menumbuhkan cinta di antara kalian secara bersamaan. Kamu paham, kan?"


"Iya." Juna mengangguk. Dalam hati ia mengutuk kesialannya kali ini. Mama dan papa sama saja. Mereka selalu mengedepankan Ira, Ira, dan Ira. Tidak sedikit pun mereka memberi toleransi sekali lagi pada perasaan Juna.


**


Hari sudah nyaris berganti siang, ketika Juna dan Ira kini telah berada dalam perjalanan untuk membeli sesuatu di luar. lelaki itu terpaksa membawa istrinya untuk menemui kekasihnya, lantaran papa dan mamanya menekannya agar membawa Ira ikut serta.


Terasa mengenaskan sebenarnya. Hanya saja, Juna tak memiliki pilihan lain. Disebut tega? Tidak. Juna tak tega sebenarnya membuat Ira tersakiti. Tapi Juna tak memiliki pilihan lain.


"Kita harus ketemu Keysha, Ra. Aku minta sama kamu, kamu harus jaga perasaan dia. Dia pasti terpukul saat dengar kalau kamu istri aku." Ungkap Juna.


"Tapi kan itu kenyataannya, mas. Kalau bisa, mas Juna jangan berhubungan melewati batas teman sama wanita lain, sementara mas Juna sudah memiliki istri." Pinta Ira tegas. Meski sebagai anak pembantu sebelum ia menjadi istri Juna, tapi Ira tidak mau sakit hati karena Juna tak tegas mengambil keputusan dan cenderung meremehkannya.


"Kamu jangan banyak protes." Sahut Juna dengan nada dingin. Lelaki itu lantas membelokkan mobilnya ke sebuah taman yang agak sepi.


"Ingat, Aku minta buat kamu nggak melewati batas sekali pun kamu istriku. Aku butuh waktu agar aku bisa menyudahi hubungan dengan Keysha. Kamu udah sanggup kalau untuk membuat aku jatuh cinta sama kamu."


Ira menunduk. Sepertinya tak ada gunanya ia bila harus mengungkapkan segala unek-uneknya. Jelas saja Ira akan kalah untuk mendebat suaminya.


Sesosok wanita cantik menggunakan dress merah bata, berdiri anggun menyambut kedatangan Juna. Ira yang canggung, mengekor di belakang Juna.


"Sha, kamu cantik." Ungkap Juna pada wanita yang menjulang di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu juga cakep." Jawab wanita yang dipanggil Keysha itu. Keduanya lantas cipika cipiki di depan Ira. Sungguh, siapa yang bisa tahu bagaimana hati Ira saat ini?


Betapa perih hati Ira seketika. Entah mengapa ada denyutan menyakitkan yang ada dalam dadanya. Lelaki yang baru mempersuntingnya kemarin, sekarang telah mencium wanita lain sementara Juna tak sedikitpun menyentuh Ira.


"Ini . . . siapa?" tanya Keysha. Juna diam, tak segera menjawab karena bimbang.


Berbohong jelas bukan bagian dari karakter Juna. Jujur pun Juna terasa sulit mengungkapkan.


Bak buah simalakama, Juna terasa seperti sama-sama mati bila memilih keduanya.


"Dia gadis yang dijodohkan sama aku, Ra. Orang tuaku yang memilihnya?" ucap Juna dengan suara tenang. Ia sadar, semarah apa pun Keysha padanya, Juna harus tetap jujur, tanpa menutup-nutupi di depan Keysha.


Spontan saja genggaman tangan Keysha terputus seketika.


"Apa?" Keysha syok.


"Maaf, Sha. Aku nggak bisa menolak keinginan orang tuaku."


"Terus gimana sama kita?" Keysha terpekik. Suaranya sengaja ditekan karena tak ingin di dengar oleh siapa pun.


"Nggak. Aku nggak mau kehilangan kamu gitu aja. Titik. Kamu punya aku, Arjuna."


Mata Keysha melotot tajam pada Ira. Tapi apalah daya, Ira bukanlah gadis lemah dan mudah diintimidasi begitu saja.


Tebak, apa yang Ira katakan sebagai jawaban atas ucapan Keysha baru saja?


"Yang dicinta akan selalu kalah dengan yang selalu ada. Setidaknya aku istri sahnya yang tercatat di lembaga hukum. Mbak Keysha bisa apa?"


Ira terlalu berani, untuk sekelas karakter santun menurut Juna. Juna merasakan syok karena baru melihat keberanian Ira.


**

__ADS_1


Coba tebak, sebarbar apa Ira?


__ADS_2