
"Sampai kapan kamu akan marah sama aku, Ra? Jujur saja, seharian ini aku sangat lelah dan ingin tenang di rumah. Saat aku pulang kerja, harusnya kamu bisa menyambut aku pulang." Ungkap Juna yang malam ini baru pulang dari kantor. Lelaki itu baru selesai mandi dan hanya menggunakan baju kasual sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sudah tiga hari Ira dikurung dalam kamar, tak diizinkan keluar sedikit pun meski itu hanya sekedar ke dapur. Semua pekerja di rumah Iskan tahu, Juna dan istrinya sedang ditimpa masalah rumah tangga, yang entah apa. Yang jelas hanya pak Yono dan Bu Narsih, pembantu rumah tangga bagian memasak.
Sejauh ini, Ira tetap mandi dan membersihkan diri seperti biasa. Hanya saja, Ira jadi makin jarang makan. Tak jarang, makanan yang Juna bawa untuknya, hanya tersentuh sedikit karena Ira tak berselera makan sama sekali.
"Sampai mas Juna biarkan Ira pulang ke rumah ibu. Ceraikan Ira saja, mas." Ira menatap Juna dengan berani. Selama tiga hari ini pula, Ira tak henti-hentinya meminta perceraian pada Juna.
Sontak saja permintaan Ira itu membuat Juna menghentikan gerakannya. Bagaimana tidak? Setiap hari Ira selalu meminta hal yang sama. Juna saja sudah bosan mendengarnya.
"Cerai, cerai, cerai dan cerai yang selalu kamu minta. Apa nggak ada permintaan lain? Please, Ira. Tolong jangan memancing emosiku. Jangan membuat aku kehilangan kesabaran. Aku udah tulus minta maaf dan berjanji bersungguh-sungguh untuk nggak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Tolong beri aku kesempatan. Lagian aku waktu itu udah jujur sama kamu, kalau aku nggak menyentuh Keysha sedikit pun." tegas Juna dengan suara yang masih terkontrol lembut.
"Sampai kapan pun, mas Juna nggak mungkin berubah. Buktinya, kapan hari mas Juna udah janji mau ninggalin Keysha dan akan belajar mencintai Ira. Tapi yang ada justru mas Juna kembali melakukan skandal dengannya. Katakan, apa Ira harus percaya gitu aja?" Ucap Ira. Gadis itu juga terlihat lebih tenang dari biasanya, tak lagi menangis. Mungkin karena sudah terlalu lelah.
Arjuna menjemur handuk di balkon kamar, menutup pintu berbahan kaca penghubung balkon dan kamarnya. Lelaki itu lantas menuju ke atas ranjang, tempat dimana Ira mendudukkan diri sambil bersandar.
Ditatapnya lekat wajah Ira yang tampak lebih tirus dari biasanya. Mungkin, istri Juna itu telah kehilangan beberapa ons atau bahkan beberapa kilo beban tubuhnya.
"Mau kamu apa sekarang, Ra?" Tanya Juna lagi.
"Apa masih kurang jelas? Ira mau kita cerai aja, dan kembalikan Ira ke ibu. Ira pikir, perpisahan akan jauh lebih baik daripada kita akan terus bertengkar terus seperti ini." Jawab Ira tanpa menatap Juna. Gadis itu lantas memalingkan wajahnya, enggan menatap mata suaminya karena takut pendiriannya goyah.
"Gimana kalau aku nggak mengabulkan? Sekarang jawab, apa yang kurang dariku, selain aku telah mengkhianati dan membohongi kamu berkali-kali?" Tanya Juna lagi.
"Mas Juna nggak mencintai Ira sama sekali. Buktinya, mas Juna lebih menyentuh dia daripada istri mas Juna sendiri. Kalau keadaan seperti ini dipaksakan, Ira nggak yakin rumah tangga kita akan tetap baik-baik aja untuk setahun ke depan sekalipun."
"Baik. Kalau kamu masih meragukan aku, aku akan buktikan, kalau aku udah mulai sayang dan menginginkan kamu." Jawab Juna.
__ADS_1
Dengan gerakan spontan, Juna meraup bibir Ira dan memeluk Ira untuk membatasi ruang geraknya. Meronta, tentu saja Ira meronta karena Ira masih marah pada Juna. Sayangnya, tenaga Ira tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan Juna yang selalu rajin berolah raga.
Juna sudah tak tahan. Ia ingin berubah dan menetapkan cintanya hanya untuk Ira. Sayangnya, Ira selalu memancing kemarahannya.
"Hhmmmpphh . . . lep, lepas. Lepasin . . . ." Ira tetap memberontak, hingga ia kehabisan nafas akibat cumbuan Juna yang kasar. Hingga tak lama kemudian setelah dirasa Juna siap, akhirnya Juna berhasil membobol gawang pertahanan Ira.
Untuk pertama kalinya, Juna menyentuh Ira tanpa peduli akan tangisan Ira.
Harusnya Ira bahagia karena Juna telah menjadikannya sebagai milik suaminya itu seutuhnya. Namun karena keadaan rumah tangga mereka yang carut marut karena orang ke tiga, membuat Ira tak rela.
Harusnya Ira dan Juna melakukannya atas dasar sama suka untuk mencapai kesempurnaan kebahagiaan dan kesempurnaan rumah tangga mereka, sayangnya, semua itu kandas karena kesalahan Juna yang membuat Ira menjadi jijik pada dirinya sendiri.
Malam ini, Ira dan Juna telah melakukan penyatuan diri, dan Juna yang benar-benar meneguhkan hati dan cintanya untuk Ira.
**
Malam telah memasuki waktu dini hari, ketika Juna terbangun dari tidurnya. Lelaki itu Merasa tenggorokannya kering dan haus. Lampu tidur yang menyala, dengan semua lampu ruangan yang padam, membuat hening yang sangat.
Mengingat momen semalam, Arjuna tersenyum lebar. Ia tak menyangka akan reaksi tubuhnya yang luar biasa dahsyat saat menyentuh tubuh istrinya yang paling sensitif itu. Apa lagi saat mengetahui, Ira masihlah gadis.
Berbeda dengan Keysha yang sudah tak gadis lagi saat Juna pertama kali menyentuhnya. Keysha sendiri yang mengakui saat itu.
Dengan gerakan pelan karena tak ingin mengusik istrinya yang kelelahan itu, Juna mengecup lembut dan penuh sayang pada kening Ira. Malam ini Juna baru menyadari aroma rambut Ira yang menyenangkan dirinya.
'Terima kasih, sayang. Aku janji akan berubah dan memperbaiki semua salah aku selama ini ke kamu. Kamu harus tetap bertahan di sisi aku.'
Batin Juna berbisik lirih.
__ADS_1
Arjuna lantas bangkit dan mengenakan kaos dan celana pendeknya yang teronggok di lantai. Tak lupa, lelaki itu lantas membuka pintu, keluar dan kembali menutup pintu dengan sangat pelan.
Setibanya di dapur, rumah tetap dalam kondisi sepi karena memang sudah nyaris dini hari. Alangkah terkejutnya Juna, ketika bik Narsih yang menuju dapur.
"Loh, den Juna? Kok bangun dini hari begini? Tumben?" Tanya nih Narsih kemudian.
"Bibik ngagetin saya saja. Saya kehausan, bik. Semalam lupa bawa air putih ke kamar." Ungkap Juna.
"Bibik sendiri kok jam segini udah di dapur aja?"
"Bibik pengen menyiapkan sayuran untuk di masak nanti buat sarapan, den. Semalam den Juna dan non Ira nggak makan malam, jadi makanan saya taruh di kulkas." Jawab bik Narsih.
"Angetin aja, bik. Nggak usah masak lagi. Saya sama Ira sarapan itu saja." Pinta Juna.
"Baiklah, den, kalau gitu."
"Oh ya, bik. Juna mau minta tolong. Andai nanti Ira udah saya izinkan keluar dari kamar, tolong dijaga ketat dianya ya, bik. Saya nggak mau Ira pulang ke rumah ibunya."
"Baik, den. Bibik ngerti."
"Ya udah, Juna kembali ke kamar."
"Iya, den.
Juna melangkah ke dalam kamar, sembari banyak hal yang berkecamuk dalam hatinya. Penyatuannya bersama Ira semalam, membuat Juna berbunga-bunga, sekaligus merasa bersalah pada istri kecilnya itu.
Juna berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membebaskan Ira keluar dari kamar. Semoga saja, besok adalah awal yang baik untuk rumah tangga mereka.
__ADS_1
**
**