Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Pandai mengaduk emosi


__ADS_3

Berbagai sajian yang amat sangat menggugah selera, telah tersaji diatas meja. Suasana pantai di malam hari, dengan gemerlap cahaya lampu, cukup menambah suasana syahdu di acara makan malam kali ini.


Aira dan Juna, Sepasang suami istri itu tengah menikmati makan malam. Tak seperti Juna yang sangat lahap dalam mengunyah makanan, Ira justru terlihat seperti seorang wanita yang kehilangan seleranya.


"Ayo makan, Ra. Makananku udah hampir habis." Ucap Juna yang melihat Ira sejak tadi makan sedikit, dan lebih sering mengaduk-aduk makanannya.


"Ira udah kenyang, mas." Ucap Ira.


Sontak saja Juna menatap Ira tak nyaman sambil berkata, "kalau kamu nggak mau makan, kamu akan lapar nanti malam. Di hotel nggak ada bahan makanan yang bisa di masak kalau kamu lapar. Di Bali kalau larut malam juga nggak akan ada orang yang menjual makanan."


Juna terpaksa berbohong agar Ira tak meminta beli makanan nanti malam. Bukannya apa, Juna hanya tak mau jika besok pagi terlambat menjemput Keysha di bandara karena kantuk.


"Ira kalau kenyang akan tahan lapar sampai besok pagi, kok." Sanggah Ira kemudian. Gadis itu lantas meletakkan sendoknya ke piring.


Bukan tidak peka, Juna justru sangat tahu dan paham dengan apa yang Ira rasakan, alasan dibalik sikap Ira yang tiba-tiba kehilangan moodnya. Sayangnya, Juna enggan berdebat dengan Ira.


"Ira, tolong jangan mencari gara-gara. Aku sedang nggak ingin berdebat dengan kamu." Peringatan dari Juna, sontak saja membuat Ira semakin tak nyaman. Entahlah, sejak kabar Juna akan menemani Keysha jalan-jalan besok, membuat Ira marah. Terlebih, saat ini adalah acara bulan madu pernikahan mereka.


"Ira akan muntah kalau dipaksa untuk makan." Sahut Ira kemudian.


"Ya sudah." Juna melanjutkan makan hingga selesai, lalu menuntun Ira ke kamar, agar Ira segera tertidur. Ira hanya pasrah, dengan membawa sakit hatinya yang luar biasa membuat sesak.


Meski begitu, Ira tetap teguh dengan pendiriannya. Menikah dengan Arjuna, adalah pilihannya, jadi Ira tak akan menyerah. Tekadnya sudah kuat demi kebahagiaan sang ibu.


'Huh, dasar. Menikah bukanlah ajang permainan, lalu aku disuruh diam saat mas Juna punya piaraan? Jangan harap.'


Batin Ira.


"Lagi menghubungi siapa?" Tanya Ira kemudian, saat Juna menatap layar ponselnya, sambil tersenyum lebar tanpa suara.

__ADS_1


"Keysha. Dia sedang prepare untuk perjalanan besok." Ungkapnya tanpa menatap Ira sedikit pun.


"Mas, mas Juna pernah tidak, mendengar sebuah kalimat, bahwa lelaki yang berselingkuh secara terang-terangan di depan istrinya, akan mendapat azab yang lebih mengerikan dari pada pelacur?" Tanya Ira dengan polosnya. Entah di dengar atau tidak, Ira tak peduli. Yang jelas, Ira hanya ingin menumpahkan kekesalannya kali ini.


"Kamu . . . ." Juna bingung harus menjawab apa.


"Teruskan aja, mas. Meski Ira bukan yang mas Juna inginkan, tapi Ira tetap yang halal dari pada mbak Keysha untuk mas Juna sentuh dan diperlakukan layaknya istri."


Ira berlalu pergi begitu saja dari sana, menuju balkon kamar hotelnya, dan mencoba membuang pemikiran buruk.


Saat ini, adalah malam kedua semenjak pernikahannya, namun Ira sudah seperti dijejali rasa sesak berkali-kali oleh Juna. Menyerah? Tentu saja Ira tak akan menyerah begitu saja. Ira hanya ingin dirinya dan Juna bisa bersatu suatu saat nanti, seperti doa ibunya saat Ira baru saja dipinang Juna.


"Ira . . . ."


"Biarkan Ira sendiri, mas. Biarkan Ira menenangkan pikiran untuk sementara waktu ini." Ucapnya dengan perasaan yang masih marah pada Juna.


Arjuna berlalu, meninggalkan Ira dan memberinya ruang untuk sendiri. Juna merasa, Ira hanya terlalu kekanakan dan tak mengerti bagaimana ia harus bersikap. Malam ini, Ira benar-benar merasa bahwa suaminya tak tegas dalam bersikap.


"Mau sampai kapan kamu akan berdiri disini, Ira? kamu udah dua jam lebih berdiri. Apa nggak capek?" Suara Juna tiba-tiba muncul dan mengalihkan perhatian Ira.


"Nyaman aja disini, mas." Ungkap Ira. Gadis itu lantas mengalihkan pandangan matanya, kembali ke pantai.


"Apa sih yang kamu lihatin?" tanya Juna yang akhirnya ikut-ikutan Ira memandang lautan.


"Masa depan Ira." Sahut Ira asal.


"Lalu, gimana sama masa depan kamu? Apa saja yang kamu lihat?" Tanya Juna lagi.


"Ada banyak rintangan yang harus Ira hadapi. Ada banyak bahaya yang harus Ira lewati dalam menggapai hati mas Juna." Juna tersenyum simpul mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu sedalam itu ya? Jangan terlalu dalam terbawa perasaan."


"Wajar aja, mas. Ira bukan tipe orang yang akan menganggap pernikahan itu mainan. Sejak awal harusnya mas Juna tegas. Kalaupun nggak berminat beristrikan Ira, harusnya mas Juna menentang papa dan mama. Jangan hanya pasrah, tapi kemudian menyuruh Ira jungkir balik melawan dan menandingi mbak Keysha yang jelas-jelas lebih sempurna dari Ira."


Kalimat panjang lebar Ira, tentu saja menjadi tamparan keras bagi Juna. Entah bagaimana caranya, Ira benar-benar dibuat sebal dengan sikap Juna yang tak tegas sama sekali.


"Aku cuman minta kamu sabar. Ini hanya perkara waktu."


"Lalu, sampai kapan? Mas Juna sendiri yang


minta Ira sabar, berusaha meraih hati mas Juna, tapi mas Juna sendiri yang bilang akan mencintai mbak Keysha, sampai kapan pun. Baru siang tadi mas Juna bilang, kalau mas Juna lupa itu." Ira memalingkan wajahnya. Dadanya kembali sesak saat ingat bagaimana Juna sangat marah padanya saya ia mendebat Keysha.


Juna mendesah ditempatnya. Entahlah. Baginya, wanita memang sulit dimengerti.


"Ya udah, aku minta maaf." Ucap Juna kemudian.


"Nggak semudah itu, mas. Maaf aja gampang, tapi mas Juna besok tetap akan bawa mbak Keysha jalan-jalan, mengabaikan Ira sendirian di kamar." Jawab Ira pelan.


"Terus kamu maunya gimana?"


"Nggak, Ira nggak memiliki kemauan apa pun, karena Ira tahu, pasti ujung-ujungnya Ira akan kecewa. Udahlah, mas. Ini terakhir kali Ira memberi mas Juna toleransi."


"Ya udah. Aku janji, besok sore, kita akan jalan-jalan ke pantai, dan malamnya kita belanja. Kamu bisa belanja sepuasnya." Ungkap Juna.


"Huh, Ira bukan anak bayi yang bisa disogok apa pun. Ira lebih suka diam di kamar dan nggak neko-neko kayak pacar mas Juna itu."


"Astaga, Ira." Juna emosi lama-lama bicara dengan Ira. "Tadi kamu bilang sendirian di kamar nggak nyaman. Aku tawarkan jalan-jalan, tapi kamu lebih milih di kamar. Serba salah aku di mata kamu. Terus, kamu maunya aku harus bagaimana?"


"Tinggalkan mbak Keysha dengan tegas, biar mas Juna tampak seperti lelaki sejati yang sesungguhnya."

__ADS_1


Juna baru sadar, ada kelebihan Ira yang baru ia tahu. Ira pandai mengaduk emosinya.


**


__ADS_2