Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Cerita Arjuna


__ADS_3

Terik sinar matahari pagi ini, menerobos masuk ke dalam kamar Ira dan Juna pagi ini. Matahari sudah merangkak naik, namun Ira masih belum sadarkan diri dari tidurnya yang lelap akibat kelelahan.


Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, akibat merasa silau pada cahaya yang masuk melalui kaca jendela. Dan alangkah kagetnya ia, ketika kesadarannya kembali.


Ingatan-ingatan momen semalam dimana ia telah dimiliki Juna seutuhnya, serta kondisi tubuhnya yang tak berbusana -hanya berbalutkan selimut-, membuat Ira menangis.


Jika dulu Ira sangat menginginkan Juna menyentuhnya, memilikinya seutuhnya, namun tidak dengan kali ini. Ira demikian jijik pada Juna, tepat pasca ia melihat dengan mata kepalanya, Juna dam Keysha tak saling berbusana. Apakah Ira berlebihan?


Nyatanya cinta Ira sudah berkembang sedemikian jauh, hingga membuatnya terbakar api cemburu sampai hangus. Ira tak rela sama sekali, Arjuna -nya disentuh dan dimiliki siapa pun.


"Ra, udah bangun?" Arjuna muncul membuka pintu. Tangan sebelahnya membawa air putih untuk Ira minum. Senyum Juna cerah, secerah matahari pagi hari ini. Sontak saja Ira berjingkat, bangkit dan menutupi tubuhnya sebatas dada.


"Tadinya aku berniat untuk membangunkan kamu. Tapi berhubung kamu udah bangun, ya udah."


Juna meletakkan segelas air minum yang dibawanya, diatas nakas. Lelaki itu duduk di tepi ranjang, sambil menyingkap surai rambut Ira yang bergelayut di pelipisnya.


"Kenapa mas Juna melakukan ini?" tanya Ira lirih. Semalam wanita itu tak sempat makan malam ketika Juna menghajarnya tanpa ampun.


"Maaf. Aku kebawa perasaan semalam. Udah aku bilang, aku mulai sayang sama kamu. Entah sejak kapan. Yang jelas aku benar-benar janji, kalau aku nggak akan berhubungan sama Keysha lagi." Jawab Juna tegas.


"Aku masih nggak bisa memaafkan mas Juna." Ucap Ira. Sinar matanya yang kemarin-kemarin berkilat penuh amarah, kini telah berubah menunjukkan pendar tak berdaya.


"Sekarang mungkin memang nggak bisa. Tapi suatu saat nanti, aku pastikan kamu akan memaafkan aku." Timpal Juna, dengan percaya diri. .


"Tolong, mas Juna. Tolong jangan mendekati Ira hanya karena mas Juna merasa bersalah. Ira nggak akan masalah, kalau mas Juna berkata jujur sekalipun mas Juna menyakiti hati Ira."


"Aku mendekati kamu, semata karena aku sayang sama kamu. Jangan berpikir macam-macam. Semalam kita udah melakukannya. Aku pastikan, kamu adalah wanitaku seutuhnya."


Ira nyaris saja melayang tinggi karena kalimat suaminya itu. Sayangnya, bayangan cumbuan Juna pada Keysha, membuyarkan angannya yang tinggi itu.

__ADS_1


"Tapi mas Juna . . . ."


"Tapi apa?" Tanya Juna kada Ira kemudian.


"Tapi mas Juna mencintai Keysha. Gimana mungkin mas Juna akan mencintai Ira juga?"


"Aku nggak akan memikirkan apa pun lagi tentang Keysha. Tolong jangan bahas dia lagi . Biarkan aku benar-benar belajar mencintai kamu." Ungkap Juna, tangannya meraih tangan Ira dan menggenggamnya dengan erat.


"Ira masih keingetan sama . . . waktu itu." Ira menunduk, berusaha kuat dengan menyembunyikan air matanya yang jatuh tak tahu malu.


"Hei, aku minta maaf, oke? Mari kita perbaiki semua, aku juga akan perbaiki semua kesalahanku. Maaf untuk waktu itu, maaf untuk semalam yang udah . . . membuat kamu kesakitan." Ungkap Juna dengan tulus.


Jemari lembut lelaki dewasa itu mengusap pipi Ira pelan penuh perasaan.


"Beri Ira waktu." Ucap Ira, tak menolak sama sekali sentuhan Juna. Sayangnya, ia masih belum bisa melupakan kejadian menyakitkan saat itu.


Arjuna mengangguk. "Ya udah. Mulai hari ini, aku bebaskan kamu lagi untuk keluar kamar, dengan catatan, jangan pergi dari rumah ini, Ra. Kalau kamu mau ke rumah ibu, aku akan antar kamu dan tunggu aku pulang dari kantor." Ungkap Juna kemudian.


"Aku pamit kerja, tolong ingat pesan-pesan aku."


Ira mengangguk, melepaskan Arjuna pergi bekerja hari ini.


**


"Hai, Jun. Apa kabar? Lama banget nggak ketemu kamu." Aryo tiba-tiba muncul, saat ia baru saja bertanya ada sekretaris Juna. Lelaki itu datang bersama Rehan, seperti biasanya.


Siang ini, Arjuna yang kebetulan sedang tak ada waktu


"Buruk." Jawab Juna sambil memainkan laptopnya. Lelaki itu tak akan mengerjakan pekerjaannya, jika dua temannya yang lebih dominan menjadi perusuh, datang berkunjung.

__ADS_1


"Buruk apanya? Bukannya harusnya kamu udah seneng banget, kalau udah mutusin Keysha dan lebih fokus mencintai istri kamu?" Tanya Rehan, yang saat ini sudah sama-sama mendaratkan tubuhnya dan Aryo ke kursi.


"Iya nih, masa kabarnya udah buruk aja?" Timpal Aryo.


"Kan aku udah cerita, kalau si Keysha minta syarat saat aku mutusin dia. Nah, saat aku memenuhi keinginannya itu, Ira datang. Kami bertengkar hebat selama beberapa hari ini." Ungkap Arjuna, bangkit dan ia berpindah ke sofa untuk duduk bersama Aryo dan Rehan.


"Hah? Terus, terus?" Tanya Rehan. Lelaki itu sama syoknya dengan Aryo saat ini.


"Baru aja permainan akan dimulai, Ira datang dan membuka pintu hotel. Entah gimana caranya dia bisa buntuti aku sejauh itu. Yang jelas, ia cemburu banget." Ungkap Arjuna sambil mendesah pasrah.


"Gila. Kamu memang teman tergila selama ini. Udah aku peringatkan, agar kamu nggak semena-mena sama Ira yang tulus banget. Dan lagi, Ira nggak akan cemburu kalau dia nggak cinta mati sama kamu, bodoh!" Rehan memaki Arjuna.


Arjuna diam tak melawan. Sejahat apa pun makian temannya itu, ia menyadari ia salah dan akan menerimanya. Lelah pikiran, Arjuna menyandarkan bahunya pada sandaran sofa, sambil memejamkan mata.


"Tapi aku udah minta maaf sama dia, Han. Kamu tahu sendiri kalau aku sebelum memutuskan Keysha, aku serius dan tulus ingin benar-benar belajar mencintai dia." Kata Juna sekedar untuk mengingatkan.


"Bukannya aku ingin membela diri. Cuman ya kamu tahu sendiri lah, Kepergok Ira saat sama Keysha, bukan rencana aku."


"Terus gimana? Ira maafin?" Tanya Aryo yang terlihat prihatin.


"Dia nggak jawab. Kemarin-kemarin sih, tepatnya sejak beberapa hari lalu itu, dia ngambek, nangis terus, dan minta dipulangkan ke rumah ibunya. Tentu saja aku nggak mengabulkan. Aku nggak rela dia jauh dariku." Terang Juna lagi.


"Perempuan itu perasaannya sangat sensitif, Juna. Wajar aja kalau dia sampai seterluka itu. Kalau saran aku, ini hanya sekedar saran sih, ya, biarkan dia menenangkan pikiran. Masalah nanti ibunya Ira tahu, ya itu konsekuensi kamu, dan kamu jelaskan aja yang sebenarnya. Kalau dia orang yang baik, dia nggak akan nyuruh Ira buat ninggalin kamu." Ucap Rehan.


"Rehan bener, Juna. Setidaknya, kamu harus beri waktu Ira buat menenangkan pikiran. Kalau bisa, kamu harus berjuang untuk tunjukkan ke Ira, kalau kamu beneran tulus dan serius mau belajar mencintai dia." Aryo menimpali.


"Terlambat. Semalam gemes aku sama Ira yang marah-marah terus dan nuntut minta pisah. Akhirnya, aku paksa dia buat melayani aku agar berhenti minta di pulangkan segera. Dan ya . . . begitulah suami istri yang seharusnya. Untuk semalam, aku udah ambil gadisnya dia." Ungkap Juna.


"APA??!!"

__ADS_1


Aryo dan Rehan sama-sama terpekik mendengar cerita Arjuna Keduanya sama-sama syok.


**


__ADS_2