
Malam ini, Penampilan Juna dan Ira tampak lebih segar usai mandi. Waktu nyaris memasuki jam makan malam, saat keduanya baru keluar dari kamar. Wajah keduanya juga tampak lebih berseri-seri, tak seperti biasa mereka dalam beberapa hari ini.
Semua pembantu dan pekerja di rumah Iskan itu, dibuat bertanya-tanya akan sikap sepasang suami istri itu. Perubahan mereka juga terbilang cukup cepat.
"Bik Narsih, makan malam bagikan aja ke yang lain, ya? Saya dan Ira mau makan malam di luar." Sapa Juna tiba-tiba.
Bik Narsih tentu saja mengangguk. "Baik, den."
Arjuna mengangguk, berjalan keluar dengan langkah santai meninggal bik Narsih yang tersenyum miring.
'Jalannya non Ira kok lain. Wah, pasti gawangnya non Ira udah dijebol sama den Juna. Syukurlah, kalau gitu.'
Bisik bik Narsih dalam hati.
Sepanjang perjalanan Ira dan Juna kali ini, Keduanya tampak kikuk, karena hubungan mereka baru membaik. Baik Ira maupun Juna, ingin membuka percakapan, namun bingung harus bagaimana memulai.
"Ra?" Panggil Juna, membuat Ira menoleh dan tidak tahu harus bagaimana.
"Ya, mas?" Jawab Ira.
"Kenapa kamu cuman diem?" Tanya Juna lagi.
"Ira harus ngomong apa?"
"Ya, apa aja. Daripada diem. Atau, kamu nggak mau tanya-tanya tentang aku?"
"Apa Ira terus, yang harus cari tahu tentang kebiasaan dan kesukaan mas juna? Sekali-kali mas Juna juga harus cari tahu tentang Ira." Tandas Ira, membuat Juna mengerjapkan matanya beberapa kali tanda ia salah lagi di mata istrinya itu.
"Ya, nggak gitu juga. Maksudku ya, apa kek gitu buat buka percakapan." Ungkap Juna.
"Sekali-kali mas Juna dong, yang buka percakapan. Kalau selalu Ira, kan Ira nggak enak juga." jawab Ira lagi.
__ADS_1
Dari percakapan singkat Juna dan istrinya itu, Arjuna menyimpulkan, bahwa wanita selalu benar dan tak pernah mau mengalah. Terlebih, Ira termasuk cukup belia untuk menjadi sosok istri. Jadi Arjuna merasa, bahwa ia perlu berusaha lebih keras lagi untuk menaklukkan Ira.
"Ya, iya." Kini, tinggal Arjuna yang memutar otak untuk mencari bahan pembicaraan. Ia tak mau tampak seperti sopir yang hanya dibutuhkan jasanya untuk mengendalikan kemudi.
"Oh ya, Kita mau makan dimana? Kamu maunya menu apa?" Tanya Arjuna lagi.
"Apa aja, asal jangan makanan yang aneh-aneh pakai saus tomat yang rasanya asam, dan saos putih yang biasa mas Juna makan sama roti panggang." Jawab Ira.
"Sebenarnya, makanan kesukaan kamu itu, apa sih?" tanya Juna lagi.
"Makanan sederhana, pakai nasi, nggak pakai roti-rotian, yang jelas harus ada sambal cabe, yang pedes dan penyuka bangsa sayuran." Ira menjawab dengan tersenyum. Membayangkan makanan dengan sambal merah yang super pedas, membuatnya tak sabar ingin segera makan.
"Kenapa harus pedas, sih?" tanya Arjuna.
"Karena yang pedas itu yang istimewa di hati."
"Yang pedas aja? Apa aku perlu membaluri tubuh dengan cabai, biar bisa jadi yang teristimewa di hati kamu?" Kelakar Arjuna. Lelaki itu sengaja menggoda istrinya, untuk mencari tahu bagaimana reaksi Ira setelah ini.
"Ya jangan gitu juga, nanti malah masuk rumah sakit." Jawab Ira. Pipinya bersemu merah karena malu.
"Oh ya, Ra. Aku udah janjian sama Rehan dan Aryo tadi, kita akan ketemuan sama mereka di lokasi sebuah rumah yang mau dijual sama pemiliknya." Ungkap Juna.
"Terserah mas Juna aja, deh. Yang penting nanti Ira mas Juna nyaman tinggal disana." Jawab Ira.
**
Di sebuah ruangan yang cukup luas, Keysha berjalan dengan tergesa usai melakukan pemotretan. Wanita itu rupanya tengah ditunjuk oleh sebuah brand ternama untuk menjadi model.
"Mbak Keysha, besok pagi sampai siang ada acara pemotretan di gedung XXX sampai siang. Sore dan malam kita akan . . . ."
Wanita yang menjadi manager Keysha Itu, menghampiri Keysha sambil memegang pulpen dan sebuah buku.
__ADS_1
"Pukul Empat sore sampai keesokan hari di paginya, beri aku waktu untuk istirahat. Aku udah bilang sebelumnya, kalau besok malam aku harus ke suatu tempat." Ungkap Keysha dengan angkuh. Wanita itu merasa terlalu diperas tenaganya oleh sang manager.
Dari dulu, Keysha memang memimpikan karier yang cemerlang. Tapi bukan berarti Keysha harus bekerja siang malam hingga membuatnya abai akan apa yang dibutuhkan hidupnya. Termasuk cinta.
"Ya udah, mbak. Nanti aku ngomong sama kru, biar diundur." Jawab manager dengan pelan.
Dulu, Keysha mati-matian memaksanya untuk mencarikan job agar Keysha bisa terkenal. Tapi lihatlah, sekarang. Keysha lama-lama lupa, bahwa ia dulu yang memaksa sang manager.
Keysha berlalu, meninggalkan sang manager untuk menemui seseorang di ruang ganti. Langkah Keysha tergesa, ia tak ingin terlambat dan semua rencananya terhalang oleh ulahnya sendiri.
"Udah lama, Rena?" Tanya Keysha kemudian, pada seorang wanita bertubuh tambun, dan berkulit coklat sawo matang.
"Lumayan. Nih, pesanan Lo." Ucap wanita yang dipanggil Rena itu. Wanita itu menyerahkan sebuah bungkusan kotak kecil yang entah isinya apa.
"Gue saranin, Lo nyampurnya jangan banyak-banyak. Seperempat botol ini, sama setengah botol yang waktu itu aja. Ini juga nggak akan mempengaruhi rasa. Cuman ya itu, nanti korbannya bakalan bernafsu berat buat perang di ranjang."
"Oke. Bentar lagi gue transfer ke rekening Lo." Ucap kesah tersenyum cerah.
"Kapan rencananya Lo mau menemui Arjuna lagi?" Tanya Rena kemudian.
"Besok malam kalau nggak sore. Dia paling nggak tegaan kalau perempuan dalam kesulitan. Gue bakalan minta tolong dia datang ke apartemen gue, dengan alasan sakit." Ucap Keysha dengan liciknya.
"Lo nggak takut dosa? Juna udah jadi suami orang loh. Resepsinya aja digelar gede-gedean gitu. Apa kata orang nanti? Lo nggak takut karir Lo hancur?"
"Nggak akan. Gue bakalan main rapi. Gue masih nggak rela aja, dia jadi milik wanita lain. Gue pikir, karier gue lebih penting. Nyatanya, gua nggak bisa kalau harus dia tinggalin gitu aja." Ungkap Keysha.
"Apa Lo nggak kepikiran buat nyari laki-laki lain aja yang masih lajang? Yang lebih cakep dari Juna kan, banyak? Terutama dari kalangan yang sama kayak Lo."
"Lelaki yang terjun ke dunia entertainment, kebanyakan mereka buaya, Ya meski nggak semua, sih. Namanya juga udah terlanjur cinta mati sama Juna." Ucap Keysha sambil tersenyum. Membayangkan wajah Arjuna, membuat hati Keysha dilanda cinta yang menggebu.
"Terserah Lo, kalau Lo nggak bisa dinasehati. Cuman gue mau berpesan, Lo jaga diri. Kalau sampai rencana Lo nggak berhasil, Lo bukan hanya berurusan dengan istrinya Juna, tapi juga bakalan berhadapan dengan pak Iskandar. Lo tentu tau pak Iskan bukan orang sembarangan."
__ADS_1
Kalimat Rena, membuat Keysha diam seribu bahasa.
**